Pulang (?)

en.wikipedia.org

Sabtu, 20 Agustus 2005. 09.00 AM. Paul Keating Park, Corner The Mall & Chapel Road, Bankstown, Sydney.

Ramai. Lebih dari biasanya. Ada keriaan disini. Banyak orang hilir mudik. Banyak senyum. Banyak tawa. Tak terlalu banyak wajah yang ku kenal. Tapi aku merasa seperti pulang ke rumah.

Aku berjalan mendekati sekumpulan orang yang sedang bersiap memulai lomba. Lintasan sudah dibuat. Para peserta sudah siap di satu ujungnya. Lengkap dengan garbage bag terlipat rapi di depan mereka. Ketika peluit berbunyi nyaring, sontak mereka meraih kantong plastik sampah berukuran jumbo itu dan memasukkan kaki ke dalamnya, lalu mulai melompat-lompat sepanjang lintasan diiringi tepukan dan teriakan para penonton. Ya, agak sulit memang menemukan karung disini, namun bukan berarti tak ada solusi. Seorang pria kaukasia sempat terjerembab, namun kembali bangkit dan meneruskan lomba. Putaran pertama dimenangkan oleh laki-laki mungil yang sejak awal sudah terlihat kegesitannya.

Aku berpindah ke sisi yang lain. Deretan perempuan muda sudah bersiap dengan tangan diikat di belakang tubuh. Saat peluit ditiup, mereka dengan sigap menyantap kerupuk udang yang menggantung di depan mata. Tantangan yang sulit. Nyatanya, kerupuk udang lebih susah dinikmati dengan cara seperti ini, dibandingkan kerupuk putih. Penonton riuh memberi semangat. Hingga seorang perempuan berambut ekor kuda memenangkannya.

Aku bergeser ke deretan booth di tepi taman. Tak terlalu banyak, namun tak pernah sepi. Beberapa senior menggelar dagangan mereka. Baju batik, kain tradisional, cinderamata dan masih banyak lagi. Cantik. Menarik. Namun berhasil membuatku seperti dicabik-cabik.

Sedikit teralihkan oleh booth milik ibu-ibu konsulat jendral. Aneka rupa makanan tertata rapi di atas meja. Ada camilan, aneka kue, lauk pauk dan banyak lagi. Sepaket nasi kuning lengkap, sekotak rendang dan sebungkus abon, berhasil mencuri hati dan isi dompetku kali ini. Lumayan, pengganjal perut dan pengobat rindu yang ampuh sepertinya.

Aku duduk di deret tengah kursi yang tersedia di depan panggung. Anak-anak kecil sedang menari Pendet. Aku mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tas sambil menikmati beberapa tarian berikutnya. Hingga tiba saatnya paduan suara beraksi. Tak lebih sepuluh anak sekolah dasar bersiap di atas panggung. Dan ketika konduktor memberi aba-aba mulai, suara jernih mereka mengalunkan lagu-lagu nasional bernada riang. Tak kurang Garuda Pancasila, Hari Merdeka, Maju Tak Gentar, Halo-halo Bandung, sukses memompa semangat.

Namun entah mengapa mereka menyanyikan Padamu Negeri, Syukur, Rayuan Pulau Kelapa setelahnya. Membuat hadirin tercenung diam. Dan ketika Indonesia Pusaka mengalun, pertahananku hancur. Pipiku banjir. Mereka semua sudah membuat taman ini layaknya kampung halaman. Sedemikian rupa sehingga kami seperti ada di rumah saja layaknya. Namun hati ini tetap merindu. Aku, si mahasiswa yang belum genap satu semester disini. Dengan status penerima fulbright scholarship, ‘di paksa’ untuk tetap bertahan hingga studiku selesai. Jangan pernah ada keinginan untuk pulang. Tingginya biaya pulang niscaya tak akan mengembalikanku ke sini. Hanya mampu memendam rindu. Pada keluarga, teman dan tanah air.

Disana tempat lahir beta

Di buai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Tempat akhir menutup mata

Dan di taman ini, sekarang, aku pulang. Walau sejatinya hatiku tak benar-benar pulang.

Inspired by: Indonesia Pusaka-Ismail Marzuki

2 thoughts on “Pulang (?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s