Hallo Cantik :)

weheartit

“Kamu bisa ngomong gitu. Kamu kan nggak pernah ngerasain punya badan gendut.”

JLEB!

Tidak ada yang salah dari kalimatnya. Benar. Bahkan untuk mencapai angka 55, saya terseok-seok setelah bertahun-tahun beredar dikisaran 40-an.

“Secara fisik, aku nggak ada masalah. Rajin check up dan semua sehat walafiat.”

“Nah!”

“Tapi gendut!”

Dia manyun. Saya diam.

“Enggak enak jadi orang gendut, walaupun sehat. Nggak lincah. Susah kalau beli baju. Di bully. Banyak, deh!”

Saya masih diam.

“Dan yang lebih parah, aku nggak bisa kurus. Gendutku ini genetik. Mau diet model apapun, atau olahraga pakai personal trainer sekalipun. Turun, sedikit. Tapi balik lagi. Emang udah garis tangannya begini.”

“Terus? Solusinya apa? Mengeluh seumur hidup?”

Ganti dia yang diam. Saya seret dia ke depan cermin setinggi badan.

“Lihat. Apa yang kamu lihat?”

“Orang gendut.”

“Salah! Itu orang cantik.”

Dia diam sambil memandang cermin.

“Lihat, deh. Wajah kamu tuh manis banget. Kulit putih bersih dan sehat. Rambut hitam legam dan lurus kayak di kasih pemberat diujungnya.”

Dia nyengir.

“Kamu juga cerdas, baik hati, lucu…”

“Tapi gendut.”

Balik lagi.

“Kalau kamu masih fokus sama kekurangan, kelebihanmu nggak akan kelihatan…”

“Kelihatan, kok! Lha ini, kelebihan berat badan.”

Ngakak.

“Kan, apa aku bilang? Kamu itu lucu! Daripada terus-terusan fokus di ‘kebesaran’mu, mending itu kelucuan dimaksimalkan.”

“Iya kali, ya? Jadi comic keren kayaknya. Belum ada comic perempuan gendut, kan?”

Dan dia mulai merangkai cita-cita ‘lucu’nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s