Tukang Kritik Tersayang…

weheartit

“Aku kehilangan teman.”

Meninggal? Pindah?

“Bukan. Dia ada. Masih satu kantor. Cuma dia sekarang beda. Cenderung abai. Seperlunya saja. Padahal dia dulu tukang kritikku nomor satu. Nggak tahu kenapa dia jadi seperti sekarang.”

Jarang ada tukang kritik yang dirindukan sampai sedemikian.

“Kritiknya tajam. Pedas. Kalau memang jelek, dia bilang jelek. Tidak perlu dibuat jadi terasa palsu. Nggak jarang bahasa yang di pilih juga bikin merah telinga. Tapi, kalau dicerna, omongan dia benar semua.”

Biasanya, tukang kritik seperti ini justru dijauhi. Iya, kan?

“Mungkin yang belum kenal dia terlalu dekat akan menjauhi. Tapi, kritik yang dilontarkan nggak asal. Nggak cuma cari-cari kesalahan. Lebih pada dia benar-benar melihat ada kekurangan, yang bisa jadi nggak kita lihat. Dan selain mengkritik, dia juga memberi saran. Juga kemungkinan solusi untuk perbaikan.”

Tapi tidak semua orang tahan kritik, kan?

“Kalau aku bilang, kalau tidak mau di kritik, jangan berkarya. Jangan bekerja. Tidak usah melakukan apapun. Pasti tidak akan ada kritik yang datang.”

Tapi, di muka bumi ini banyak sekali tukang kritik. Kenapa harus merindukan yang satu ini?

“Kami sudah saling kenal. Saling tahu cara dan hasil kerja masing-masing. Jadi kritik dan saran yang masuk lebih spesifik. Dan ketika dia sudah tidak memberi kritik dan saran lagi, ada semacam kehilangan dan perasaan tak peduli. Dan itu bikin sedih.”

Duhai tukang kritik, berkenankah kembali?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s