Seberapa tinggi?

weheartit

Aku mau jadi pilot!

Aku mau jadi polisi!

Aku mau jadi guru!

Pernah dengar? Yes. Anak-anak yang melantangkan cita-citanya. Menggantungnya tinggi-tinggi. Dan setelahnya, berusaha membuat loncatan terbaik untuk meraihnya dengan berbagai upaya. Termasuk dukungan dan doa dari orang tua serta lingkungannya.

Senang mendengarnya. Walau pada perjalanan selanjutnya, cita-cita itu akan berubah berkali-kali. Tergantung minat, pengaruh sekitar, juga trend. Tapi yang tak jarang muncul adalah ketika cita-cita mulia itu harus kandas, bahkan sebelum diupayakan.

“Nak, cita-citamu jadi dokter itu terlalu tinggi. Bapak ibu nggak sanggup membiayai.”

“Adek, kamu mau jadi seniman? Makan apa kamu nanti?”

“Kamu tahu nggak IQmu berapa? Nggak bakal deh jadi peneliti!”

Pasti pernah dengar ‘racun’ seperti ini, kan? Bisa berasal dari mana saja, juga dari siapa saja. Keluarga, teman, guru, tetangga, lingkungan sekitar. Lebih beracun dari kendala yang muncul dalam proses pencapaian cita-cita itu sendiri.

Okelah. Mungkin memang ada kendala. Biaya, skills, keterbatasan diri, tuntutan ekonomi, juga tuntutan jaman dan masih banyak lagi. Tapi bukan berarti tidak ada solusi, kan?

Kenapa tidak kita ‘biarkan’ mereka berproses? Berusaha mewujudkan cita-cita mereka yang mungkin tidak kita ‘sepakati’. Kita tidak pernah tahu takdir masing-masing orang. Bisa jadi bercita-cita A, namun berujung pada B. Siapa tahu? Tapi proses menuju A atau B itu yang jauh lebih penting. Proses pendewasaan diri.

Nah! Apa cita-citamu sendiri? Seberapa tinggi tergantung di langit?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s