Mental kere?

weheartit

Mari berandai-andai.

Andai kita adalah orang tua yang mempunyai anak perempuan yang sudah dewasa. Tiba-tiba, suatu hari ada laki-laki yang usianya tak beda jauh dengan kita datang dan berkata, “Saya ingin meminang puteri bapak dan ibu untuk dijadikan isteri ke empat. Daripada puteri bapak dan ibu tidak laku-laku dan jadi perawan tua. Sayang, kan?”

Baiklah. Mungkin cerita di atas terasa muskil, terlalu ‘sinetron’. Tapi itu hanya perandaian. Dan kalau benar terjadi, bagaimana perasaan kita. Kaget? Marah? Kesal?

Bisa jadi sama rasanya ketika seseorang datang pada saya dan bilang, “Selamat yah, baru launching buku baru. Minta satu, dong.”

Baiklah. Saya berusaha memahami. Bisa jadi yang bersangkutan sedang tidak ada dana untuk beli buku. Tapi ternyata, beberapa orang yang jadi perhatian saya, melakukan hal yang sama setiap kali buku baru saya terbit. Nah, lalu kalau begini apa namanya? Mental kere?

Adalah lain ceritanya bila pencipta memberikan karyanya kepada orang lain. Sebagai hadiah, tanda mata, atau ucapan terima kasih misalnya. Namun, bila seseorang meminta hasil karya dari penciptanya secara cuma-cuma dan kerap dilakukan, anda sudah berhasil menyakiti hatinya.

Bisa jadi benar kata salah seorang teman. Masih banyak orang yang tidak bisa menghargai hasil karya orang lain. Buktinya, pembajakan merajalela. Tidak hanya musik, software komputer dan buku, benda seperti tas, baju, sepatu, semua dibajak. Masa bodoh dengan hak cipta. Selagi bisa dapat yang murah, apalagi gratis, ayo saja.

Dan dari hasil observasi kecil-kecilan, mereka tersebar di semua lapisan. Tak terbatas oleh demografi, geografi dan lain sebagainya. Tak hanya yang berpendidikan rendah, yang tinggi pun banyak. Tak hanya dari golongan ekonomi menengah ke bawah, segmen A dan B juga tak terhitung jumlahnya. Kesimpulannya, merata.

Kalau kita berharap teman atau keluarga yang paling tahu dan mengerti sehingga lebih bisa menghargai hasil kerja keras kita, sepertinya mindset seperti ini harus di rubah. Tidak ada jaminan. Kadang ada orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, justru lebih bisa menghormati karya kita. Orang-orang yang kadang membuat saya bingung. Begitu menghargai, mencintai dan loyal pada karya dari penciptanya. Buat saya, ini jauh lebih berharga dibanding dana yang sudah mereka keluarkan untuk membeli sebuah karya. Salut dan hormat saya bagi mereka.

Seperti banyak orang bilang, ada hikmah di balik setiap masalah. Setidaknya, setelah sekian lama, akhirnya saya tahu siapa saja yang bisa menghargai karya yang saya hasilkan. Pun orang-orang yang bertindak sebaliknya. Jadi, saya tidak perlu repot-repot menawarkan hasil kerja keras saya pada orang-orang tersebut. Buang waktu dan tenaga. Kecuali jika mereka sudah taubat kembali pada jalan yang semestinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s