Chartreuse

weheartit

Social climber. New comer. Dari semua merek yang melekat di tubuhnya, tas berwarna chartreuse cukup memancing perhatian. Kontras dengan coat putihnya. Hanya satu yang agak mengganggu.

Attitude.

Di sebuah jamuan, dia cukup tahu diri. Sebagai ‘pendatang baru’, datang lebih awal. Hanya saja, dia keliru memilih pembunuh waktu.

Sebatang rokok.

Bukan salah, hanya tidak cocok. Ini tempat bebas asap rokok. Tak perlu pasang papan pengumuman seperti di SPBU, kan? Dan sepertinya dia tak menyadari tatapan pengunjung lain yang mengarah tajam padanya.

Hingga beberapa teman yang ditunggu tiba. Seorang di antaranya langsung melotot ke arah rokok sembari mencubit. Dia terkejut dan sadar akan kekeliruan. Namun, alih-alih mematikan, rokok itu dimasukkan dalam tas. Entah apa pertimbangannya.

Sayang, mungkin.

Dia undur diri, perlahan menuju kamar kecil. Maksud hati ingin menghabiskan rokok yang tersisa. Apa daya tangis sesenggukan yang tumpah di sana. Tas berwarna chartreuse nan mahal tiada tara cacat terkena sundut rokok.

Ah, terbayang cicilan yang belum lunas.

Iklan

Violet

weheartit

Aku masih berdiri trotoar. Etalase toko ini masih memajangnya. Gaun cantik berwarna violet. Cantik. Dan mahal. Sudah beberapa belas hari aku melintas, gaun itu masih ada di sana. Seakan memanggilku untuk singgah, mencoba dan membawanya pulang.

Sabar, Cantik. Tunggu sebentar lagi. Aku masih menunggu bulan berganti yang baru.

*

Bulan baru, tanggal baru. Kakiku ringan melangkah di trotoar. Hari ini, aku akan bawa pulang di cantik violet.

Itu dia! Masih membalut manekin dengan anggunnya. Aku tersenyum sumringah. Hingga seorang pramuniaga muncul di etalase, melucutinya.

HEI! Mau dibawa kemana violet?!

Buru-buru aku masuk ke dalam toko. Violet telah terlipat rapi lalu masuk dalam tas belanja. Berpindah tangan dari petugas di belakang meja kasir pada seorang gadis muda.

Violet, kenapa kau tak mau menungguku barang sedikit lebih lama…

Aquamarine

weheartit

Ia menyematkan cincin berbatu warna aquamarine di jari manisku.

“Maukah kau jadi isteriku?”

Mataku berkaca-kaca. Ku tutup bibirku dengan telapak tangan kiri. Mengangguk dan berakhir dengan hamburan ke pelukannya. Orang yang tak kami kenal jadi saksi peristiwa ini ikut bergembira. Tertawa dan beberapa memberi selamat. Senyum bahagia menghias wajahnya. Pun denganku.

*

Kacamata hitam. Jaket gelap berhoodie. Celana jeans dan kepatu kets. Sempurna. Aku yakin tak ada yang mengenaliku.

Duduk sendiri di bangku taman. Mencoba bersikap wajar. Hingga seseorang duduk di sampingku.

“Kau yakin dengan tujuanmu?”

Aku mengangguk. Dia mengulurkan amplop besar. Berisi lembaran uang dolar Amerika, tiket, paspor lengkap dengan visanya. Ku hitung lembar demi lembar. Genap.

Aku tersenyum. Dia mengangguk. Ku ulurkan tangan padanya. Warisan keluarga turun temurun belasan generasi berpindah tangan pada penadah internasional.

Cincin aquamarine.

Vermilion

weheartit

“Jingga plus merah. Jadilah vermilion.”

Dia menyapukan kuas ke kanvas.

“Kenapa vermilion?”

“Hangat. Agak sedikit panas. Cenderung menenangkan. Buatku.”

Dia melukis beberapa kelinci yang tertidur di ranting pohon. Absurd kelihatannya.

“Itu intinya. Sedemikian hangatnya, hingga yang tidak mungkin pun bisa terjadi.”

Dia menghentikan kegiatannya. Mengambil jarak beberapa langkah. Menatap lukisan di depannya. Mengambil gelas berisi red wine di atas meja kecil. Menyesap sedikit demi sedikit, sambil tetap menatap hasil karyanya.

Aku hanya memperhatikan sejak tadi. Tak berani mengganggu.

Dia tersenyum. Meletakkan kembali gelasnya. Menyentuh lukisan, memastikan telah kering sempurna. Melepas kanvas dari rangkanya.

Aku masih diam. Hanya berani mengira-ira apa yang akan dilakukannya. Akankan lukisan itu untukku? Semoga.

Dilihatnya sekali lagi lukisan di kain kanvas. Dibawanya ke perapian yang sejak tadi hangat menyala.

Aku tercekat. Apa ini? Apa yang akan dia lakukan?

Dilemparkannya kanvas berlukis itu ke dalam perapian. Terdengar derak-derak api mulai membakarnya.

“HEI! Kenapa?”

Dia menoleh padaku. Tersenyum.

“Biar hangatnya abadi…”

Marigold

weheartit

Aku berjongkok di depan lemari yang baru saja di cat ulang dengan warna marigold. Lemari kecil berlaci banyak. Lemari yang sudah ada sejak aku masih anak-anak.  Dulu, lemari ini milik ibu. Dipakai untuk menyimpan surat-surat penting miliknya.

Ibu membolehkan aku memiliki salah satu laci mungilnya. Ku simpan kertas-kertas berisi hasil coretanku di dalamnya. Juga beberapa benda seperti pensil warna, crayon dan sejenisnya.

Entah kenapa, aku justru tertarik pada laci lain yang bukan milikku. Laci milik ibu. Suka melihat barang-barang di dalamnya. Walaupun saat itu aku belum bisa membaca. Sampai aku menemukan tumpukan surat bersampul marigold muda, warna favorit ibu. Yang diikat rapi menjadi satu dengan tali berwarna coklat. Cantik sekali warnanya.

“Apa itu, Nak?”

Tanya ayah yang tiba-tiba muncul di belakangku saat itu. Ku ulurkan segepok surat bersampul marigold muda. Ayah membacanya satu persatu. Setelah itu, aku tak pernah bertemu ayah lagi.

Tumpukan surat itu. Surat dari kekasih ibu.

Cyan

weheartit

Aku takjub di depan akuarium.

“Keren, kan?”

Aku mengangguk.

“Itu cyan. Susah carinya. Dapetnya malah dikasih temen.”

Aku masih geming. Terpesona. Jadi ini namanya cyan?

“Namanya juga dikasih. Walau sedikit yang penting dapet. Ini aja udah yang bergradasi. Kalau cari sendiri, mungkin cuma dapet yang satu tone.”

Aku tak begitu mendengarkannya. Masih terbengong dengan bebatuan di dasar akuarium berwarna cyan. Cantik. Bahkan lebih cantik dari sang tuan rumah, si penguasa tunggal kotak kaca mungil ini.

Ikan cupang.

Amarillo

weheartit

“Kau tahu apa warna bunga matahari?”

“Kuning!”

“Bukan. Itu Amarillo.”

Sejak itu aku melihatnya bak bunga matahari. Cerah. Ceria. Bersemangat. Dan itu menular pada lingkungannya. Sangat inspiratif. Sosok yang paling sering ditunggu kehadirannya.

Namun semua lenyap. Amarilloku hilang bersama tetas air dari langit di musim penghujan.