Ungu

weheartit

 

Dia benci ungu. Dari dulu. Tapi entah kenapa ungu selalu identik dengannya. Bahkan sejak tangis pertama pecah. Masih berbalur darah dan selaput putih di sana sini, semburat ungu telah menghiasi kulit putihnya.

Tak pernah ingin bersinggungan dengan ungu. Apapun itu. Makanan, pakaian, pun buku pelajaran. Tak mau. Tak sudi.

“Aku benci ungu. BENCI!” tegasnya suatu kali.

Mahfumku untuknya. Ungu mengalir dalam tubuhnya. Seakan tak terpisahkan. Dia terbelenggu. Tak berkutik. Mau tak mau harus berdamai dengan ungu. Kadang air mata mengalir dalam diam tanpa isak. Ketika ungu menyapa, datang dengan riangnya.

“Kapan ungu pergi dariku?” lirihnya.

Mengiris hati. Terasa patah arang. Dia tahu, itu mustahil. Ungu tak kan pernah pergi. Sampai kapanpun. Geming bersamanya.

Sabar, sayang. Hanya maut yang memisahkanmu dari ungu. Suatu hari nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s