Merah

weheartit

Aku yakin dia pakai guna-guna. Atau pelet. Atau…entahlah. Aku tak pernah tahu hal-hal seperti itu. Semua orang hanya bisa menduga-duga. Tapi hanya aku yang yakin. Dan akan ku buktikan.

Aku mengenalnya sudah lama. Dulu dia biasa saja. Entah kenapa sekarang begitu gegap gempita. Semua yang keluar dari mulutnya bisa jadi bahan berita. Padahal sebenarnya biasa saja. Tidak istimewa. Lalu, ada apa sebenarnya?

Dan kasak kusuk mulai merebak. Awalnya aku tak percaya. Buktinya, dia biasa saja saat berbincang denganku. Namun berubah saat berias paripurna. Bukan. Bukan dia letak masalahnya. Sepertinya aku mulai tahu sekarang.

Diam-diam ku menyelinap ke kamarnya. Duduk manis di depan meja riasnya. Berderet alat rias berbaris rapi dalam aneka warna, rupa dan guna. Ku ambil lipstick bertabung hitam mengkilat. Ku buka tutupnya dan perlahan ku putar keluar batang merah menyala. Ini yang ku cari.

Perlahan, ku lepas stiletto dari kaki kanan. Hampir bersamaan dengan terbuka pintu yang memunculkan sosok sang empunya kamar. Raut terkejut. Juga takut. Dia berteriak. Namun terlambat. Hak runcing sudah menghujam lumat lipstick merah menyala tepat di meja rias. Hancur, bercampur dengan debu jalanan.

Dia terpekur lemas. Aku tersenyum puas.

Dugaanku tak salah. Lipstik merah menyala itu kuncinya.

Iklan