Vermilion

weheartit

“Jingga plus merah. Jadilah vermilion.”

Dia menyapukan kuas ke kanvas.

“Kenapa vermilion?”

“Hangat. Agak sedikit panas. Cenderung menenangkan. Buatku.”

Dia melukis beberapa kelinci yang tertidur di ranting pohon. Absurd kelihatannya.

“Itu intinya. Sedemikian hangatnya, hingga yang tidak mungkin pun bisa terjadi.”

Dia menghentikan kegiatannya. Mengambil jarak beberapa langkah. Menatap lukisan di depannya. Mengambil gelas berisi red wine di atas meja kecil. Menyesap sedikit demi sedikit, sambil tetap menatap hasil karyanya.

Aku hanya memperhatikan sejak tadi. Tak berani mengganggu.

Dia tersenyum. Meletakkan kembali gelasnya. Menyentuh lukisan, memastikan telah kering sempurna. Melepas kanvas dari rangkanya.

Aku masih diam. Hanya berani mengira-ira apa yang akan dilakukannya. Akankan lukisan itu untukku? Semoga.

Dilihatnya sekali lagi lukisan di kain kanvas. Dibawanya ke perapian yang sejak tadi hangat menyala.

Aku tercekat. Apa ini? Apa yang akan dia lakukan?

Dilemparkannya kanvas berlukis itu ke dalam perapian. Terdengar derak-derak api mulai membakarnya.

“HEI! Kenapa?”

Dia menoleh padaku. Tersenyum.

“Biar hangatnya abadi…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s