Majas

Majas adalah gaya bahasa dalam tulisan yang mewakili pikiran dan perasaan penulis. Majas dibagi dalam beberapa macam, yaitu majas perbandingan, majas sindiran, majas penegasan dan majas pertentangan.

 

Majas Perbandingan

Alegori

Menyatakan dengan kiasan atau penggambaran.

Contoh: Dia adalah tulang punggung keluarga.

Alusio

Penggunaan ungkapan yang tak diselesaikan karena sudah dikenal.

Contoh: Akankah penculikan aktivis akan terus terjadi?

Simile

Perbandingan eksplisit yang menggunakan kata penghubung (layaknya, bagai, dll).

Contoh: Wajahnya muram bagai mendung di musim hujan.

Metafora

Perbandingan analogis dengan menghilangkan kata penghubung.

Contoh: Larinya adalah anak panah yang lepas dari busurnya.

Antropomorfisme

Penggunaan kata yang bersifat manusiawi untuk menggambarkan sesuatu yang bukan manusia.

Contoh: Dia memandang jauh ke kaki langit.

Sinestesia

Ungkapan yang berhubungan dengan suatu indera yang dikenakan pada indera lain.

Contoh: Suara merdunya menyejukkan telinga.

Antonomasia

Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.

Contoh: Kau seperti anak ayam kehilangan induk saja.

Aptronim

Pemberian nama yang sesuai dengan sifat atau pekerjaan orang.

Contoh: Terkenal dengan kumisnya, sehingga ia sering disebut pak kumis.

Metonimia

Penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri atau atribut.

Contoh: Hobinya makan indomie.

Litotes

Ungkapan berupa mengecilkan fakta dengan tujuan merendahkan diri.

Contoh: Oleh-oleh yang kami bawa ini tak seberapa nilainya.

Hiperbola

Pengungkapan yang berlebih-lebihan.

Contoh: Kini dia sudah terkenal seantero dunia bahkan akherat.

Personifikasi

Pengungkapan dengan menyampaikan benda mati sebagai manusia.

Contoh: Buku-buku di perpustakaan ini memberi makan pada otak manusia.

Depersonifikasi

Pengungkapan dengan menggunakan benda mati atau tak bernyawa.

Contoh: Jika kau bunga, aku jadi kumbangnya.

Pars Pro Toto

Pengungkapan sebagian dari obyek untuk mengungkapkan keseluruhan obyek.

Contoh: Sudah lama tak terdengar sepak terjangnya.

Totum Pro Parte

Pengungkapan keseluruhan obyek padahal yang dimaksud hanya sebagian.

Contoh: Kini, berhadapan di babak final, Inggris lawan Perancis.

Eufinisme

Pengungkapan kata yang dianggap tabu/kasar dengan kata yang lebih halus.

Contoh: Pengelihatan ayah sudah mulai berkurang.

Fabel

Menyatakan perilaku binatang yang bisa berfikir dan bertingkah seperti manusia.

Contoh: Kancil mencuri timun.

Parabel

Ungkapan pelajaran atau nilai yang dikiaskan atau disamarkan lewat cerita.

Contoh: cerita “Bawang merah, Bawang putih”.

Perifrase

Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang pendek.

Contoh: Kendaraan tua berbentuk kodok berwarna telur asin itu selalu menemani langkahnya setiap hari.

Eponim

Menjadikan nama orang sebagai nama tempat.

Contoh: Jalan Gatot Subroto, Gelora Bung Karno, dll.

Simbolik

Melukiskan sesuatu dengan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.

Contoh: Dikirimkannya sekotak cokelat untuk mengungkapkan rasa cintanya.

 

Majas Sindiran

Ironi

Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan yang sebaliknya.

Contoh: Kali ciliwung begitu indah berhias sampah yang mengapung.

Sarkasme

Sindiran langsung dan kasar.

Contoh: Mati kau, Pelacur!

Sinisme

Ungkapan mencemooh (lebih kasar dari ironi).

Contoh: Permainan musiknya mampu memecahkan kaca manapun.

Satire

Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi atau parody untuk mengecam atau menertawakan.

Contoh: Sudah terhitung tahun ku dengar kau bicara tanpa henti.

Innuendo

Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sebenarnya.

Contoh: Dia menabung sen demi sen untuk melanjutkan pendidikannya.

 

Majas Penegasan

Apofasis

Penegasan dengan seolah menyangkal yang ditegaskan.

Contoh: Saya tidak ingin mengatakan bahwa istri anda telah berselingkuh.

Pleonasme

Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas.

Contoh: Hujan deras sudah membasahi tubuhnya hingga kuyub.

Repetisi

Pengulangan kata, frase dan klausa yang sama dalam satu kalimat.

Contoh: Dia tersentak ketika mendengar teriakan, “Awas! Awas!”.

Pararima

Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.

Contoh: Bolak-balik, kelak-kelok.

Aliterasi

Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.

Contoh: Lama-lama jemu juga.

Paralelisme

Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase atau klausa yang sejajar.

Contoh: Jika kau usir, dia akan pergi.

Tautologi

Pengulangan kata yang menggunakan sinonimnya.

Contoh: Sudah lama ia merindukan dan mengharapkan kehadiranmu.

Sigmatisme

Pengulangan bunyi ‘s’ untuk efek tertentu.

Contoh: Kutulis surat ini kala gerimis.

Antanaklanis

Menggunakan pengulangan kata yang sama, tapi dengan makna yang berbeda.

Contoh: Bagai menerima sebongkah emas dari seseorang berhati emas.

Klimaks

Pemaparan pemikiran dari hal yang sederhana lalu meningkat ke hal yang kompleks.

Contoh: Ia menabung dari koin-koin hasil mengamen, kini jumlah tabungannya membesar hingga mampu membeli alat musik yang bagus.

Antiklimaks

Pemaparan pemikiran dari hal yang kompleks menuju hal yang sederhana.

Contoh: Terkenal sebagai orang kaya raya yang karena kecerobohannya, semua harta hilang hingga ia kini miskin papa.

Inversi

Menyebutkan predikat dalam kalimat terlebih dulu, baru kemudian subyeknya.

Contoh: Lahapnya menyantap makanan, membuat kami terpana melihatnya.

Retoris

Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung dalam pertanyaan tersebut.

Contoh: Inikah yang dinamakan cinta?

Elipsis

Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang seharusnya ada dalam susunan kalimat normal.

Contoh: Risalah hidup yang dijalani ini.

Koreksio

Ungkapan yang menyebutkan hal yang dianggap keliru, lalu disebut maksud yang sesungguhnya.

Contoh: Selamat pagi, eh maaf, selamat malam.

Asindenton

Pengungkapan suatu kalimat tanpa kata penghubung.

Contoh: Semua uneg-uneg, ganjalan hati, perasaan yang tidak selaras, ditumpahkan saat itu juga.

Interupsi

Penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.

Contoh: Anak perempuan, yang rambutnya dikepang dua, adalah anak pertamanya.

Ekskalamasio

Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.

Contoh: Hai, apa kabarmu?

Enumerasio

Penegasan berupa penguraian bagian per bagian dari keseluruhan.

Contoh: Langit gelap. Beberapa bintang kecil menghiasi. Tak ada awan. Bulan sabit malu-malu di awal bulan. Angin sepoi menambah keindahannya.

Preterito

Penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

Contoh: Sudah alang kepalang, mari kita jalani saja.

Alonim

Penggunaan varian nama untuk menegaskan.

Contoh: Dulah dari Abdullah.

Kolokasi

Asosiasi tetap antara satu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.

Contoh: Nasibku, harus berurusan dengan si keras hati.

Silepsis

Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan berfungsi lebih dari satu sintaksis.

Contoh: Hilang sudah tanda pangkat dan harga dirinya.

Zeugma

Silepsis yang menggunakan kata tidak logis dan tidak gramatis untuk sintaksis kedua, sehingga menjadi kalimat rancu.

Contoh: Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat.

 

Majas Pertentangan

Paradoks

Pengungkapan yang menyatakan dua hal yang seakan bertentangan, namun benar adanya.

Contoh: Dia tinggi hati namun kecil nyali.

Oksimoron

Paradoks dalam satu frase

Contoh: Sepi dalam hingar bingar.

Antitesis

Pengungkapan dengan menggunakan kata yang berlawanan arti satu dengan yang lain.

Contoh: Laki-laki perempuan, tua muda, miskin kaya, besar kecil, semua turut andil dalam menggalang bantuan untuk bencana alam.

Kontradiksi Interminus

Pernyataan yang bersifat menyangkal yang sudah disebutkan sebelumnya.

Contoh: Semua boleh ikut darmawisata, kecuali Ade.

Anakronisme

Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian antara peristiwa dan waktunya.

Contoh: Pujangga itu mengungkapkan bahwa larinya secepat kilat. Padahal saat itu belum ditemukan cara mengukur kecepatan kilat.

Iklan

Makna Kata

Dalam bahasa Indonesia, dapat ditemukan kata-kata yang memiliki hubungan dalam maknanya, seperti sinonim, antonim, himonim, homograf, homofon, polisemi, hiponim dan hipernim.

 

Sinonim

Sinonim adalah kata yang mempunyai bentuk berbeda, tapi memiliki arti atau makna yang sama/serupa.

Contoh: bisa-dapat-mampu, kamu-kau-dikau-engkau.

 

Antonim

Antonim (lawan kata) adalah kata yang artinya berlawanan satu sama lain.

Contoh: siang-malam, kanan-kiri, pintar-bodoh, kotor-bersih.

 

Homonim

Homonim adalah kata yang ejaan dan lafalnya sama tapi memiliki makna berbeda.

Contoh: Bisa ular berbahaya (bisa = racun) ; Aku bisa berenang (bisa = mampu)

 

Homograf

Homograf adalah kata yang ejaannya sama namun pengucapan dan arti berbeda.

Contoh: Apel merah (apel = buah) ; Apel pagi (apel = upacara)

 

Homofon

Homofon adalah kata yang pengucapannya sama namun ejaan dan arti berbeda.

Contoh: Aku sangsi (sangsi = ragu) ; Itu sanksinya (sanksi = hukuman)

 

Polisemi

Polisemi adalah kata yang memiliki arti dan makna berbeda karena adanya perbedaan konsep.

Contoh: Pejuang gugur ; Dia gugur dalam SNMPTN.

 

Hipernim dan Hiponim

Hipernim adalah kata yang menjadi istilah dari beberapa kata lain.

Hiponim adalah kata-kata yang lebih khusus, yang diwakili oleh hipernim.

Contoh: Buah (hipernim) ; Duku, Jeruk, Apel (hiponim).

Bilangan

Angka digunakan untuk menyatakan nomor. Biasanya menggunakan angka Arab (1, 2, 3) dan angka Romawi (I, II, III)

Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, isi, luas (1 cm, 5 kg, 10 hektar), waktu (1 jam 30 menit, 1 Januari 2000),  nilai uang ( Rp 5000,-, $150), kuantitas (30 orang, 1 perumahan).

Angka digunakan untuk memberi nomor pada detil alamat (jalan, rumah, kamar, dll).

Contoh: Jl. Anggrek No. 13

Angka digunakan untuk menomori bagian karangan dan ayat dalam kitab suci.

Contoh: Bab 5, ayat 21

Lambang bilangan dapat ditulis dengan menggunakan angka maupun huruf.

Contoh: 100% = seratus persen

Penulisan lambang bilang yang menyatakan tingkat, dapat dilakukan dengan menggunakan angka Romawi (Bab X), angka Arab (Bab ke-10), perpaduan keduanya (Bab X, halaman 56, cetakan ke-3).

Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran (sufiks) –an, mengikuti angka sebelumnya.

Contoh: era 90-an, uang 1000-an

Lambang bilangan yang terdapat di awal kalimat, ditulis dengan huruf. Lambang bilangan yang terdapat di tengah atau akhir kalimat, dapat ditulis dengan angka atau huruf.

Contoh: Dua puluh atlet berhak ikut dalam babak selanjutnya.

Angka tengan jumlah besar dan utuh dapat dieja sebagian untuk memudahkan dibaca.

Contoh: Penduduk Indonesia sudah lebih dari 200 juta.

Akronim dan Singkatan

Singkatan dan akronim adalah kata atau gabungan kata yang dipendekkan. Bedanya, singkatan dilafalkan huruf per huruf, sedangkan akronim dilafalkan sebagai kata.

 

Berikut beberapa bentuk singkatan dan akronim:

Singkatan yang terdiri dari huruf besar yang merupakan huruf pertama dari masing-masing kata dan tidak menggunakan tanda titik.

Contoh: UUD (Undang-Undang Dasar), WNI (Warga Negara Indonesia).

Akronim yang tersusun atas huruf besar yang berasal dari huruf pertama masing-masing kata.

Contoh: HAM (Hak Asasi Manusia), SIM (Surat Ijin Mengemudi).

Singkatan yang terdiri dari huruf kecil dan merupakan huruf pertama dari tiap kata, serta menggunakan tanda titik di antaranya.

Contoh: a.l. (antara lain), a.n. (atas nama)

Singkatan yang terdiri dari tiga huruf kecil yang merupakan huruf awal dari setiap kata dan diakhiri dengan tanda titik.

Contoh: dll. (dan lain-lain), yad. (yang akan datang).

Singkatan yang berupa akronim dari nama badan atau departemen. Terdiri dari huruf-huruf dalam bagian kata yang dirangkai dan dilafalkan menjadi sebuah kata akronom.

Contoh: Kemenakertrans (kementrian tenaga kerja dan transmigrasi).

Akronim yang dalam penulisannya menggunakan huruf kecil.

Contoh: pilkada (pemilihan kepala daerah), pujasera (pusat jajanan serba ada).

Singkatan pada gelar kesarjanaan atau kehormatan. Tanda titik digunakan pada huruf besar yang dipakai.

Contoh: S.E. (Sarjana Ekonomi). R.M. (Raden Mas)

Singkatan yang digunakan pada unsure kimia, besaran, ukuran, dan sejenisnya. Tidak menggunakan tanda titik.

Contoh: Km (kilometer), KMnO4 (Kalium Permanganat).

Singkatan yang berasal dari bahasa asing. Tidak menggunakan tanda titik dalam penggunaannya.

Contoh: info (informasi), nego (negosiasi).

Kalimat Ambigu

Dia bertemu penunggang kuda hitam dari Sumbawa”.

Kalimat di atas bisa jadi termasuk kalimat ambigu. Siapa yang dari Sumbawa? Sang penunggang kuda atau si kuda? Untuk menghindari kalimat agar tidak jadi ambigu, bisa diakali dengan penggunaan tanda baca, kata penghubung ataupun perubahan susunan kata.

Jika yang berasal dari Sumbawa adalah si penunggang kuda, kalimat bisa diubah menjadi “Dia bertemu orang Sumbawa yang menunggangi kuda hitam”.

Jika yang berasal dari Sumbawa adalah si kuda hitam, kalimat bisa diubah menjadi “Dia bertemu orang yang sedang menungganggi kuda hitam Sumbawa” atau “Dia bertemu kuda hitam Sumbawa yang sedang ditunggangi seseorang”.

Oleh karena itu, berhati-hatilah agar kalimat tidak menjadi ambigu karena bermakna ganda.

Perubahan Makna

Perubahan makna yang terjadi dalam penggunakan kata, terjadi karena pergeseran konotasi, masa penggunaan, dan lain lain. Macam perubahan makna kata yaitu menyempit, meluas, amelioratif, peyoratif, asosiasi dan sinestesia.

 

Menyempit/Spesialisasi

Kata yang dulu biasa dipakai untuk hal yang luas, tapi karena perkembangan kini hanya dipakai untuk hal yang lebih sempit.

Contoh: Kata “Sarjana” dulu dipakai untuk menyebut orang yang pandai dan berilmu tinggi. Namun, sekarang hanya dipakai untuk lulusan perguruan tinggi.

 

Meluas/Generalisasi

Kata yang dulu dipakai dalam konteks terbatas, dalam perkembangannya kini digunakan dalam wilayah yang lebih luas. Dalam hal ini, generalisasi adalah kebalikan dari spesialisasi.

Contoh: Kata “Aktor” dulu dipakai untuk pemeran dalam film, teater dan pementasan seni lainnya. Kini, kata “Aktor” juga dipakai dalam dunia criminal (misal: aktor pembunuhan, aktor perampokan).

 

Amelioratif

Kata yang maknanya dirasa kurang baik, sehingga keberadaannya untuk menaikkan/memperhalus arti yang sesungguhnya.

Contoh: pramuria, pramuwisma.

 

Peyoratif

Kebalikan dari amelioratif. Kata yang maknanya justru menurunkan arti yang sesungguhnya.

Contoh: oknum, gerombolan.

 

Asosiasi

Kata yang maknanya muncul karena persamaan sifat.

Contoh: kata “Kacamata”, punya dua makna. Kacamata sebagai benda, juga kacamata yang bermakna sudut pandang.

 

Sinestesia

Perubahan makna karena pengaruh dua panca indera.

Contoh: kata “Sejuk”. Indera perasa merasakan hawa yang sejuk, sedang indera pendengaran menangkap kalimat yang sejuk.

Kata Ganti

Kata ganti orang (pronomina) dibedakan menjadi tiga, yaitu orang pertama, kedua dan ketiga. Masing-masing juga dibedakan menjadi dua, tunggal dan jamak.

Kata ganti orang pertama: tunggal (aku, saya, hamba) dan jamak (kami, kita).

Kata ganti orang kedua: tunggal (anda, kamu, engkau) dan jamak (kalian, kamu semua).

Kata ganti orang ketiga: tunggal (ia, dia, beliau) dan jamak (mereka).

 

Selain itu, akhiran (sufiks) yang juga merupakan kata ganti (pronomina) seperti –ku, -mu, -nya, berfungsi membentuk kata keterangan kepemilikan (bukuku, kekasihnya, adikmu).