Titik Dua

Titik dua dipakai dalam teks drama, sesudah kata yang menunjukkan pelaku dan diikuti oleh ucapan tokoh.

Contoh: Romeo : “Juliet, mengapa kau meninggalkanku?!”

 

Titik dua dipakai pada akhir penyataan lengkap jika diikuti oleh rangkaian atau detil.

Contoh: Dia kembali mengamati isi ruangan: lemari, kursi, meja dan lukisan.

 

Titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau detil itu tidak merupakan pelengkap suatu kalimat.

Contoh: Hidup atau mati, bukan urusanku.

 

Titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang membutuhan penjelasan.

Contoh: Tempat & tgl. lahir : Jakarta, 31 Oktober 1990

 

Titik dua dipakai di antara jilid atau nomor dan halaman.

Contoh: Intisari, II, 57:8

 

Titik dua dipakai di antara surat dan ayat dalam kitab suci.

Contoh: Al-Baqarah:123

 

Titik dua dipakai di antara judul dan anak judul suatu karangan.

Contoh: Pendidikan Usia Lanjut: Sebuah Penelitian.

 

Titik dua dipakai di antara nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.

Contoh: W. J. S. Poerwadarminta., 1985. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s