Olive

olive image

Waiter itu meletakkan gelas berkaki kecil di hadapannya. Wajahnya terlihat bingung. Sang pramusaji mengangsurkan secarik kertas mungil yang dengan gegas dibacanya. Tangan si waiter menunjuk ke arah meja bar yang diikuti oleh sorot matanya.

Aku mengangkat gelas cocktail di tangan. Dia melakukan hal yang sama. Aku mengulum buah olive yang sedari tadi berendam sendiri dalam gelas. Lalu beringsut meninggalkan meja bar, menuju mejanya.

Aku rasa dia sudah masuk dalam perangkapku.

*

Di waktu yang sama. Di area parkir basement. Seseorang sedang mencari mobil dengan plat nomor yang sama dengan petunjuk yang aku berikan.

Itu dia! Sedan hitam mengkilat.

Tak lama, setelah sekitar dirasa aman, ia bergerak ke bawah mobil. Memutus beberapa kabel utama.

Seringai menghias wajah. Wajahnya. Juga wajahku.

Leci

leci image

“Mana yang bener? Leci ato lychee?”

“Sama aja. Cuma beda bahasa.”

“Sebenernya buahnya kayak gimana, sih? Cuma tau sirupnya aja?”

“Lah, belom pernah liat?”

“Belom. Cuma liat gambarnya. Buah yang sebenernya belom pernah liat.”

“Aku ada leci di kulkas.”

“Hah? Mana? Bawa sini.”

Tak lama kemudian…

“Nih!”

“Ini bukan leci. Ini rasberry.”

“…..”

Peach

peach image

Anak laki-laki kecil itu begitu takzim menyantap buah peach yang telah dikupas oleh ibunya. Segar, rasa manis asam, sungguh sempurna menyambutnya pulang dari sekolah. Tak ingin yang lain. Hanya peach. Bahkan kulit buahnya pun selalu berhasil menerbitkan air liurnya.

*

Laki-laki itu terkesiap. Perempuan yang berdiri tak jauh menarik perhatiannya. Bukan rambutnya yang indah. Atau gaun mahalnya yang elegan. Tapi bibirnya yang tersaput lipstick berwarna peach.

Ya. Peach. Buah favoritnya sejak kecil.

Yang terbersit di kepalanya hanya ingin melumat bibir bersaput perona peach.

Tak peduli bibir itu milik isteri sahabat karibnya.

Duku

duku image

Lelaki muda itu tersenyum memandang tas plastik di tangan kanannya. Isinya penuh dengan duku Palembang yang dijamin manis tak tertahankan. Duku Palembang untuk meluluhkan ayah sang pujaan hati. Kiranya dengan duku ini beliau berkenan merestui hubungan mereka.

Dengan doa dan semangat, berangkatlah ia ke rumah kekasih tercinta

*

“Selamat malam, Om…”

“Malam…”

“Saya bawa oleh-oleh buat Om sekeluarga. Semoga berkenan.”

Aku mengangsurkan tas plastik hitam. Berdebar. Lelaki berkumis dan berkacamata bingkai tanduk menerimanya. Kekasih tercinta melemparkan pandangan bertanya-tanya. Si lelaki muda membalas dengan senyum menenangkan.

“Apa ini?”

“Itu duku Palembang, Om. Manisnya jaminan mutu.”

Pak Kumis itu menatap dalam. Sang pujaan hati menutup muka dengan kedua telapak tangan. Lelaki muda itu terkesiap. Membaca pertanda adanya ketidakberesan.

“Nak…”

“Iya, Om…”

“Saya mengidap diabetes.”

“…”

Salak

salak image

Senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan pulang. Membayangkan segerombol salak pondoh oleh-oleh tetangga yang menanti di rumah. Rasa manis sepat yang selalu kurindukan. Belum lagi aroma harum menguar ketika dikupas.

Berkernyit dahi ketika mendapati kulit salak pondoh bertebaran di meja ruang tengah. Tersangka utama hanya tersenyum tanpa dosa menyambut kacak pinggangku. Hanya tinggal beberapa butir tersisa. Itupun hanya dalam hitungan jari sebelah tangan.

“Habis enak, sih.”

“Katanya konstipasi?”

“Makan buah kan memperlancar buang air.”

“Tapi salak sebaliknya.”

Senyum di wajahnya hilang seketika.

Rambutan

rambutan image

“Kenapa dia nggak suka rambutan?”

“Nggak tau.”

“Buah enak gini. Manis, seger pula.”

“Nggak jelas. Tiap kali ada rambutan, dia langsung menghindar. Kadang lari terbirit kalau ada yang menakut-nakuti pake rambutan.”

“Nah, itu anaknya! Woi, ada rambutan, nih! Manis, deh!”

Yang diajak bicara hanya melihat dari jarak aman, dengan dahi berkerut dan bahu mengedik ngeri.

Kenangan tentang sekawanan lebah penghuni pohon rambutan yang menyerbunya ketika kecil terlintas jelas di matanya.

Sirsak

sirsak image

“Nggak ada es buah?”

“Enggak. Kali ini kita bikin es sirsak.”

“Es sirsak?”

“Iya. Sirsak diambil daging buahnya, dicampur dengan air soda, plus es batu. Ditambah sirup rasa sirsak, sedikit. Untuk menguat rasa.”

“Woaa! Sepertinya menggoda.”

“Pastinya. Tapi es batunya dicampur belakangan kalau mau dihidangkan.”

“Entar nggak dingin es sirsaknya.”

“Air sodanya udah didinginkan, sirsaknya juga. Jadi dijamin dingin dan segar semua.”

“Wah, jadi nggak sabar.”

Aku tersenyum.

Membayangkan obat pencahar yang akan kumasukkan dalam es sirsak sebelum dihidangkan.