Apel

apel image

Bergandengan tangan menyusuri lorong supermarket. Berhenti di booth buah-buahan, memilih apel segar berwarna merah tua.

“Inget cerita Snow White?”

“Yang ketemu tujuh kurcaci? Inget.”

“Dia sempat makan apel yang diracun, kan?”

“Iya.”

“Itu yang kasih racun siapa?”

“Bukannya ibu tiri yang nggak mau kecantikannya disaingi Snow White? Bener, nggak? Aku rancu.”

“Nah itu dia! Aku kadang suka rancu sama cerita Sleeping Beauty. Beda kan ceritanya?”

“Beda, tapi mirip. Sama-sama tertidur. Yang satu kena jarum beracun, yang satu kena apel beracun. Itu juga kalau nggak salah.”

Aku manggut-manggut. Kemudian memilih beberapa apel segar untuk ditimbang.

*

Keesokan harinya.

Aku melangkah santai di koridor rumah sakit, sembari menjinjing tas plastik berisi apel segar yang dibeli kemarin. Mencari kamar rawat inap yang tertera di secarik kertas.

Nah, itu dia! Akhirnya sampai juga.

Seorang laki-laki sepuh berbaring di tempat tidur. Seorang perempuan duduk tak jauh darinya. Wajah masam menyambutku, berbeda dengan raut muka sang pendamping.

“Kok repot-repot, Nak. Pakai bawa-bawa apel segala.”

“Enggak repot, Bu. Cuma apel, kok. Moga-moga bapak suka.”

Sang istri lalu mengupas satu apel, mengiris dan mengangsurkan pada suaminya. Laki-laki sepuh itu menerima dengan setengah hati, lalu mengunyahnya. Kali ini, ganti aku yang berdesir.

Apel untuk calon mertua yang enggan anaknya bersanding denganku.

Apel yang kemarin aku beli bersama anaknya di supermarket.

Apel beracun itu…

2 thoughts on “Apel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s