Yang tertunda

weheartit.com

weheartit.com

Akhir tahun lalu, seorang teman laki-laki memberikan undangan pernikahan pada saya. Dia berujar akan maklum bila saya tidak bisa hadir, karena akad dan resepsi dilaksanakan di luar kota, tempat mempelai perempuan bermukim. Iseng-iseng saya tanya, dimana mereka berkenalan. Entah kenapa, tiba-tiba dia agak tersipu. Eh?

Usut punya usut, dua sejoli ini adalah teman lama. Teman main masa kecil. Hingga akhirnya, si anak perempuan harus pindah keluar kota mengikuti sang ayah pindah tugas. Sampai disini, ceritanya masih biasa saja, setidaknya buat saya. Sampai teman laki-laki ini bercerita bahwa dia sudah jatuh cinta pada teman mainnya sejak dulu. Weits! Terdengar mulai menarik kisahnya🙂

Dia lalu bercerita, setelah si teman pindah, mereka masih saling berhubungan lewat surat, lalu telepon ketika sudah tersambung di rumah. Si teman perempuan ini beberapa kali pindah tempat tinggal mengikuti orang tuanya. Demikian pula dengan teman saya ini. Tapi hubungan pertemanan mereka masih terus terjalin. Hingga internet mulai merambah dimana-mana. Semakin intenslah komunikasi mereka, walaupun tak pernah bertatap muka sekalipun, sejak berpisah dulu.

Iseng saya bertanya padanya. Selama berpisah dan hanya berkomunikasi via surat, telepon dan internet, masihkah menyimpan hati pada si gadis? Dia tersenyum, lalu mengangguk. Wow! Dan pernahkah sekali saja perasaan itu diutarakan pada si gadis? Dia tersenyum, tapi kali ini menggeleng. Lah! Jadi dipendam sendiri? Dia mengangguk. Edan!

Dan setelah lebih dari 20 tahun, mereka bertemu lagi, ketika sang laki-laki bertugas luar kota di tempat sang perempuan tinggal. Berbincang panjang lebar, hingga lupa waktu. Sampai akhirnya, si laki-laki mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaannya. Apa yang terjadi? Si perempuan menerimanya! Tapi bukan itu headline utamanya. Karena ternyata, sejak dulu, si perempuan juga menaruh hati pada temannya yang satu ini. Hahaha!

“Tau gitu, ditembak dari dulu aja, yah!” seru saya.

“Hehehe…iya,” dia terkekeh.

“Whoa…jodoh emang nggak kemana…hihihi,” saya nyengir.

“Padahal selama ini kami juga pacaran dengan orang lain. Tapi ya, emang nggak jodoh. Jadinya bubaran,” jelasnya.

Saya senyum-senyum sendiri. Penasaran. Kalau seumpama tak ada satupun yang punya nyali mengutarakan perasaan, kira-kira apa yang akan terjadi?

 

2 thoughts on “Yang tertunda

  1. cerita yang menarik, biarpun di mana jauhnya tinggal ataupun jarak yang memisahkan seseorang, tetapi jodoh tidak kemana, itu semua takdir yang maha kuasa…😀🙂
    Thank u . . . sobat . . . Mampir di blog ku : irwanmuhamad.wordpress.com masih banyak kekurangan, mungkin sobat bisa membagi …😀 (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s