Menanti Lamaran

weheartit.com

weheartit.com

Aku masih duduk di dapur. Sendiri. Sesekali menyesap cokelat hangat. Di depanku, laptop masih menyala sejak tadi. Tak ada perubahan. Aku melihat koleksi foto-foto keluarga, ketika kakek, nenek dan sepupuku datang menjenguk minggu lalu.

Ya. Sudah hampir seminggu aku di rumah berteman sakit yang mengharuskanku istirahat dan tidak melakukan apapun. Aku tersenyum. Yang benar saja? Tidak melakukan apapun? Bagaimana mungkin? Sementara aku hanya seorang diri. Lalu siapa yang akan melakukan semua jika bukan aku?

Lihat saja, bahkan dapur ini bersih. Kosong, lebih tepatnya. Aku belum belanja untuk kebutuhan minggu ini. Bahkan untuk makan hari ini, aku menyerah pada daftar telepon layanan antar milik resto cepat saji.

Menyedihkan.

Inikah wujud gadis yang sedang menanti lamaran? Sesungguhnya, iya. Aku memang sedang menunggu lamaran. Sejak…entah kapan. Yang pasti sebelum aku jatuh sakit. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah aku tak tahu sampai kapan aku harus menanti. Sebenarnya apa yang salah? Terlalu tinggikah standar yang aku tetapkan? Atau memang tawaranku sama sekali tidak menggoda?

Semoga ini bukan semacam pertanda buruk.

Aku kembali menekuni berkas pekerjaan. Hey, tak mungkin kan aku hanya berdiam seharian? Beberapa pekerjaan sengaja aku bawa dari kantor untuk diselesaikan sembari menunggu penyakit ini angkat kaki dari tubuhku. Juga sambil menunggu lamaran yang tak kunjung datang. Hah…

Sambil lalu, kulihat foto-foto yang diambil minggu lalu sebagai selingan membunuh bosan. Beberapa kukirim pada sepupu via email. Pasti kakek dan nenek senang sekali. Setidaknya lebih bahagia dibandingkan aku yang masih tetap diam disini menanti lamaran. Sama gemingnya dengan folder inbox, tanpa satupun email yang masuk.

Tiba-tiba ponsel berderak-derak meminta perhatian. ‘Office’ tertera di layarnya.

“Selamat siang…” suaraku masih terdengar berat.

“Siang. Clara? Kamu sudah baikan?” itu atasanku.

“Jauh lebih baik, Bu. Terima kasih perhatiannya,” jawabku sopan.

“Saya hanya mau tanya. Dewi bilang semua pekerjaanmu dia ambil alih kecuali soal recruitment. Betul?” tanyanya. Aku menelan ludah.

“Betul, Bu…” jawabku sedikit gugup.

“Lalu? Ada kemajuan?”

“Belum ada, Bu. Sampai sekarang saya masih menunggu lamaran yang masuk untuk posisi yang kosong.”

“Baiklah. Kabari saya kalau ada kemajuan. Kamu banyak-banyak istirahat biar cepat sembuh.”

“Baik, Bu. Terima kasih banyak.”

Sambungan putus. Aku kembali menanti lamaran yang tak kunjung datang.

4 thoughts on “Menanti Lamaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s