Bangunkan Aku Pukul Tujuh

weheartit.com

weheartit.com

 

“Besok bangunkan aku jam 7. Pagi, bukan malam.”

Bibi mengangguk. Walau terlihat ada sesuatu yang ingin diungkapkan, tapi sepertinya dia urungkan.

Badanku remuk redam. Sendi-sendi ini rasanya seperti mau copot saja. Kuseret badan ke kamar mandi. Berada di bawah shower dengan air hangat, sungguh terapi pijat yang menenangkan.

Selesai ritual mandi, keramas, gosok gigi dan sebagainya, aku beringsut masuk dalam pelukan selimut. Astaga! Betapa aku merindukan tempat tidur ini selama berhari-hari. Aku tersenyum sendiri. Membayangkan tidurku akan layaknya mati suri saja.

Tapi, ini sudah lewat satu jam. Kenapa mataku tak kunjung terpejam?

Ah, jet lag sialan! Tubuhku masih belum bisa berkompromi. Aku mengutuk diri sendiri yang sudah berani membuat janji temu esok hari. Setidaknya aku memberi waktu yang cukup untuk tubuhku beradaptasi.

Persetan! Kubuka laci nakas sebelah ranjang. Kuambil sebutir obat tidur, lalu menegaknya dengan segelas air mineral. Hanya berdoa semoga mimpi indah berkenan menemaniku malam ini.

*

Telingaku menangkap suara alarm berdering sangat nyaring. Tapi mataku enggan bekerjasama. Hanya tangan yang berusaha menggapai sumber bunyi untuk membunuhnya seketika.

Aku beringsut, mencoba duduk serta mengumpulkan segenap nyawa dan ingatan. Ah, ya, aku sudah di rumah. Dan ada janji temu hari ini. Kulirik jam weker di atas meja. Jam 7 pagi. Bahkan sudah ada sarapan yang tersedia disana.

Sempurna.

Aku bersiap, sembari menghabiskan sarapanku. Di ruang tamu, koran pagi menanti di atas meja. Tapi sepertinya ada yang aneh. Sebentar…

Koran edisi 22 Januari 2013?

“Bibi!”

“Iya, Neng,” si bibi tergopoh-gopoh datang.

“Ini kenapa ada koran edisi tanggal 22 Januari?” tanyaku bingung.

“Lah, kan sekarang memang hari Selasa tanggal 22, Neng.”

“Tapi kan saya kemarin datang hari Minggu, tanggal 20,” aku masih bingung.

Lah! Kok si bibi tersenyum?

“Gini, Neng. Hari minggu malam waktu baru datang, Neng kan minta dibangunin jam 7 pagi,” bibi mendetil. Aku mengangguk.

“Nah, besoknya jam 7 pagi, bibi bangunin sesuai pesanan. Tapi Neng nggak bangun-bangun. Tidurnya pulas sekali. Kayaknya capek banget.”

“Terus?”

“Bibi udah bolak-balik bangunin tiap lima belas menit, tapi Neng tetep nggak bangun. Akhirnya Bibi pasang alarm jam weker jam 7. Eh, Neng bangun juga tadi jam 7 pagi,” si bibi kembali tersenyum.

“Jadi ini bener tanggal 22?”

“Iya, Neng.”

“Jadi aku tidur lebih dari 24 jam, gitu?”

“Iya, Neng.”

“…..”

8 thoughts on “Bangunkan Aku Pukul Tujuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s