CUT!

weheartit.com

weheartit.com

Hari belum terlalu malam sebenarnya. Tapi halte ini lebih sepi dari biasanya. Hanya ada aku dan beberapa orang. Bis yang aku tunggu lewat tanpa bisa aku naiki karena sesaknya. Itu yang membuatku masih disini. Menunggu dalam lelah.

Satu demi satu teman menungguku pergi dengan bis silih berganti datang. Aku masih sama sejak tadi. Jenuh, letih, rindu kampung halaman, pun lapar yang mendera sejak sore. Sedikit senyum tiap mengingat dua anak kecil yang akan menyambutku saat tiba di rumah nanti. Juga ciuman kecil dari lelaki belahan jiwa. Seketika semua beban lenyap entah kemana.

Sepadan dengan menunggu bis yang selalu penuh dengan jejal penumpang.

Hingga, tiba-tiba…

“CUT!” suara teriakan laki-laki.

Tubuhku dipeluk dari belakang oleh seseorang. Aku tak bisa melihat wajahnya. Hanya bau serupa tak tersentuh air dan peralatan mandi berminggu lamanya menerjang penciumanku. Dan yang lebih parah lagi, aku tak bisa bergerak.

“Cut Aisyah! Anakku! Kau kemana saja, Nak?!”

Pelukannya lepas. Seorang laki-laki tua kini berdiri di depanku. Dengan pakaian tak lengkap dan kondisi tak karuan. Dengan senyum seringai menghias wajahnya.

Khas penderita gangguan jiwa yang beredar di jalanan.

“Tolong!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s