Lebay + Labil + Galau = ‘Sesuatu’

des(c)ision cover

Buku ini saya pinjam dari seorang teman. Dipaksa pinjam, sebenarnya. Dari seringainya, saya tahu dia punya niat tersembunyi. Oke, saya tidak akan berlama-lama. Begini ceritanya…

Buku ini berkisah tentang Desi, mahasiswi yang sedang berkutat dengan skripsi. Kegalauan muncul ketika Desi ingin memutuskan hubungan dengan kekasihnya, De. Kenapa? Karena De di mata Desi tidak romantis. Hal ini juga didukung oleh Cindy, sahabat Desi. Maka, putuslah hubungan Desi dan De.

Selesai? Ternyata keruwetan dan berbagai masalah justru muncul setelah putusnya hubungan mereka berdua. Dan melibatkan banyak pihak. Keluarga Desi (ayah, mama, Anggi, Fifi, Linggar), teman-teman di kampus, juga ‘keluarga’ De. Banyak konflik yang muncul, yang pada akhirnya terungkap fakta-fakta yang menyadarkan Desi tentang banyak hal. Tentang siapa sebenarnya orang-orang di sekitarnya. Orang yang layak dipercaya maupun tidak. Orang yang baik ataupun sebaliknya. Orang yang berkualitas juga yang bertolak belakang. Mata Desi mulai terbuka. Dan semua itu berpengaruh pada hubungan Desi dengan De.

Lalu, bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah Desi kembali pada De? Atau justru sebaliknya?

Entah kenapa, kata ‘lebay’ terlintas di kepala setelah membaca buku ini. In many ways. Mungkin buku ini bergenre drama komedi romantis. Tapi, saya tidak bisa menangkap sisi komedinya. Maafkan sense of humor saya yang acakadut🙂 Detil karakter tokoh-tokohnya terasa agak berlebihan. Reaksi yang ditampilkan, kalimat juga diksi yang dipakai. Bisa jadi mungkin ini berangkat dari masalah komedi yang tak tertangkap oleh saya. Mungkin tidak akan mengganggu bagi pembaca lain.

Semarang sebagai kota yang dipilih untuk setting cerita juga terkesan tempelan. Belum lagi diperkuat dengan dialog hampir seluruh tokoh menggunakan ‘lo-gue’. Yakin ini di Semarang? Atau jalan Semarang di Menteng?

Terlepas dari masalah teknis yang mengganggu buat saya, banyak hal yang bisa diambil dari kisah ini. Tentang persahabatan, misalnya. Yakinkah bahwa orang yang kita panggil sebagai sahabat benar-benar layak menjadi sahabat? Juga tentang menilai orang per orang. Layakkah kita menilai seseorang dari tampilan luarnya saja? Dari perilaku saat bersama kita? Dari lamanya saling mengenal? Seberapa dalam kita mengenal seseorang? Bisa jadi bahan renungan yang sangat dalam.

Saya tidak akan banyak berkata. Selamat membaca. Mari kita ambil hikmahnya🙂

 

Judul: Des(c)ision, kisah galau sepanjang masa.

Penulis: Almira Raharjani

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Juli 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s