Soka

soka image

Mudik. Senang. Riang. Begini ini jadi mahasiswa perantauan.

“Aku pulaaaaang!” teriakku di ambang pintu rumah.

Dari dalam, ibu tergopoh-gopoh menyambutku.

“Adek, kamu dapet hadiah dari bapak,” ujar ibu sambil senyum-senyum.

“Hadiah?” aku bingung.

“Emang nggak liat? Itu yang di depan,” ibu menunjuk-nunjuk arah depan rumah.

“Apa sih, Bu?” aku masih bingung.

Ibu lalu menarik tanganku ke arah teras.

“Itu…” ibu menunjuk deretan pohon bunga soka. Merah, pink, kuning, oranye dan putih. Aku bengong.

“Bapak bilang buat kamu. Kamu kan suka bunga, Dek,” ibu tersenyum.

“Iya sih, Bu…”

Senyum hilang dari wajah ibu.

“Kenapa?”

“Tapi kan kalo bunganya rontok bikin ribet bersihinnya,” ujarku.

“…..”

Rafflesia Arnoldii

weheartit.com

weheartit.com

 

Aku menghirup udara pagi dalam-dalam. Segarnya. Sontak membuat senyum terukir di wajah. Pemandangan yang kulihat sama setiap pagi tak bergulir menjadi jemu. Tetap indah di bawah kilau sinar mentari.

Tak ada sesuatu yang istimewa hari ini. Kulakukan hal yang sama setiap hari. Kesana kemari, sambil sesekali menyapa setiap sosok yang kujumpai. Hingga tiba-tiba aku melihat sesuatu yang berbeda di kejauhan sana. Rasanya kemarin benda itu belum ada. Apa itu?

Entah magnet apa yang dikandungnya, tapi berhasil membuatku mendekat. Semakin dekat. Semakin lebih dekat lagi. Hingga berada pada jarak yang begitu dekat untuk menyadari bahwa aku dalam bahaya. Bau itu begitu menyengat. Busuk. Aku kalap. Tapi tak mampu berbuat apa-apa.

Tolong!!!

*

Seekor serangga terlihat terperangkap di tengah bunga rafflesia arnoldii.

Rosella

rosella image

“Silahkan dicoba, Mbak,” seorang SPG menyodorkan gelas plastik kecil berisi cairan berwarna merah.

“Apa ini?” tanya perempuan berambut pendek.

“Ini teh rosella. Dibuat dari bunga rosella,” jelas si SPG.

“Ada manfaatnya?”

“Banyak, Mbak. Bisa menurunkan kadar gula darah, menekan merkembangan sel kanker, menurunkan hipertensi, menurunkan berat badan…”

“Menurunkan berat badan?” sambar si perempuan.

“Iya, Mbak,” wajah si SPG semringah, merasa akan mendapat calon pembeli.

“Kalo gitu boleh coba?”

“Boleh, Mbak. Silahkan…” si SPG menyodorkan gelas plastik kecil.

Si perempuan menerima lalu meneguknya. Namun, raut mukanya lalu mengkerut setelah habis meneguk cairan berwarna merah.

“Duh! Kok kecut?”

“Ini kan rosella, Mbak. Bukan sirop frambozen,” jawab si SPG kalem.

“…..”

Anthurium

weheartit.com

weheartit.com

 

“Saya nyari anthurium, Mbak.”

“Yang mana?”

“Anthurium.”

“Iya. Yang mana?”

“Maksudnya?”

“Anthurium kan macam-macam. Yang mana?”

“Oh, macemnya banyak, Mbak?”

“Iya.”

“Saya baru tau. Kalo gitu adanya apa?”

“Macam-macam.”

“Apa aja, Mbak?”

“Maunya yang mana?”

“…”

Percakapan serupa lingkaran setan yang tak berujung pangkal.

Will You?

lovely proposal cover

Apa jadinya ketika seorang perempuan berusia hampir 31 tahun, yang berharap naik pelaminan justru harus menerima kenyataan putus dengan sang kekasih?

Buku ini bercerita tentang Karla, perempuan 30 tahun pemilik Kedai Nona. Karla bertanya-tanya, akankah Mario, sang kekasih yang berusia lebih muda lima tahun berniat meminangnya? Namun, yang diterimanya adalah penyataan putus sepihak dari Mario. Karla berusaha memperjuangkan cintanya, namun Mario yang berubah menjadi misterius, enggan melanjutkan hubungan mereka yang telah berjalan lima tahun.

Sedih, pasti. Tapi  dengan dukungan mami, Evan dan Lola sahabatnya, juga para pegawai di Kedai Nona, Karla berusaha move on. Termasuk berusaha membuka hati pada lelaki lain. Muncullah Paul, owner majalah kuliner yang menaikkan popularitas Kedai Nona, yang menaruh hati pada Karla. Walaupun berujung marah dan takut, karena pada akhirnya Karla tahu Paul adalah seorang playboy brengsek.

Charles kemudian hadir dalam hidup Karla. Pelanggan Kedai Nona yang ternyata anak owner jaringan hotel ternama. Charles yang kikuk, kaku dan sederhana, sempat mencuri perhatian Karla, walau gadis itu tetap waspada pada orang yang baru dikenalnya. Ketika Karla dan Charles semakin dekat, tiba-tiba Mario hadir lagi dengan kabar yang membuat semua keputusan dan perbuatannya termaafkan oleh Karla.

Saat Karla dan Mario seakan tak terpisahkan, tiba-tiba lamaran-lamaran dari para lelaki yang mencintai Karla datang bertubi-tubi. Karla gamang. Di satu sisi dia begitu mencintai Mario tapi tahu Mario tak akan pernah melamar untuk menikahinya, di lain sisi ada para lelaki yang begitu mencintai dan melamarnya tapi tak mampu diterimanya.

Lalu, apa pilihan Karla? Pada siapa hatinya berlabuh?

Novel yang cukup tebal. Kadang sering membuat orang jadi malas membacanya. Tapi percayalah, tidak dengan novel yang satu ini. Cerita mengalir ringan, tanpa menjadi picisan. Menyelami perasaan dan kejadian yang dialami Karla, membuka mata bahwa menjadi dewasa tak semudah yang kita bayangkan saat remaja.

Tak perlu berkerut kening menyelesaikan buku ini, walau kadang emosi sering diseret untuk tertawa, mata berkaca-kaca, jengkel, kembali tersenyum, sedikit bersedih, bahkan bisa memunculkan api kecil kemarahan. Tak apa, memang itu adanya. Tapi, ketika kita menutup buku ini setelah menamatkannya, ada desah perenungan tentang yang tersurat dan tersirat. Tentang banyak hal yang sepertinya harus dibaca sendiri untuk meresapinya.

Buku yang manis dan dalam. Lovely, tentu saja.

 

Judul: LOVELY PROPOSAL

Penulis: Christina Juzwar

Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, Januari 2013

Tebal: 371 halaman

Kana

kana image

“Woo…jadi itu yang namanya bunga kana.”

“Iya. Ada juga sih yang bilang bunga tasbih.”

“Sering liat, sih. Di taman-taman kan sering ada. Berjejer, gitu. Kuning, oranye, merah. Tapi nggak tau namanya.”

“Ya itu tadi. Namanya kana.”

“Kirain kana itu nama orang. Nama cewek, gitu…”

“Kok, jadi kepikiran kesitu?”

“Iya. Inget lagu dangdung. Punya Mansyur S kayaknya. Kanaaaaa…”

“…..”

Adenium

adenium obesum

Alisku terangkat. Tempat ini tak terlalu luas, namun penuh dengan adenium aneka bentuk dan warna. Potnya bersih, berjejer rapi di atas meja kayu sederhana.

“Deret sebelah sini yang sudah jadi. Ada yang hasil kawin silang, ada juga yang hasil bonsai,” jelasnya.

Aku kembali kagum. Bagaimana caranya semua bisa begini cantik?

“Nah, yang di sebelah sini, sedang dalam proses,” dia menunjuk meja sebelah kiri.

Berbagai pohon adenium sedang diikat kawat di dahan-dahannya.

“Kenapa diikat begini?” tanyaku.

“Untuk membentuk dahannya,” ujarnya. Aku manggut-manggut.

Di salah satu ujung meja, salah satu asistennya sedang berkutat dengan pot berbunga merah. Dahannya penuh kawat, bahkan ada yang terikat ke bawah pot. Sepertinya dia sedang bingung, alisnya tertaut sambil matanya tetap memandang pot.

“Kalau yang sebelah sana, itu masih anakan, hasil kawin silang. Iseng aja, sebenarnya,” jelas si empunya.

Tapi perhatianku masih tersita pada si asisten. Tiba-tiba tangan kanannya yang memegang tang, mengarah ke pot berbunga merah. Lalu memotong salah satu kawat yang terikat ke dasar pot.

“Jangan!”

Terlambat. Kawat sudah putus. Si empunya sibuk meyambung dahan ke pot dengan kawat yang baru. Si asisten mundur beberapa langkah dengan wajat terkejut dengan reaksi bosnya.

“Ini belum waktunya kawat dipotong. Dahannya belum mantap tumbuhnya. Masih bisa kemana-mana. Paham?” ujarnya tegas. Si asisten mengangguk. Aku tertegun.

Ini yang namanya kegiatan iseng?