Adenium

adenium obesum

Alisku terangkat. Tempat ini tak terlalu luas, namun penuh dengan adenium aneka bentuk dan warna. Potnya bersih, berjejer rapi di atas meja kayu sederhana.

“Deret sebelah sini yang sudah jadi. Ada yang hasil kawin silang, ada juga yang hasil bonsai,” jelasnya.

Aku kembali kagum. Bagaimana caranya semua bisa begini cantik?

“Nah, yang di sebelah sini, sedang dalam proses,” dia menunjuk meja sebelah kiri.

Berbagai pohon adenium sedang diikat kawat di dahan-dahannya.

“Kenapa diikat begini?” tanyaku.

“Untuk membentuk dahannya,” ujarnya. Aku manggut-manggut.

Di salah satu ujung meja, salah satu asistennya sedang berkutat dengan pot berbunga merah. Dahannya penuh kawat, bahkan ada yang terikat ke bawah pot. Sepertinya dia sedang bingung, alisnya tertaut sambil matanya tetap memandang pot.

“Kalau yang sebelah sana, itu masih anakan, hasil kawin silang. Iseng aja, sebenarnya,” jelas si empunya.

Tapi perhatianku masih tersita pada si asisten. Tiba-tiba tangan kanannya yang memegang tang, mengarah ke pot berbunga merah. Lalu memotong salah satu kawat yang terikat ke dasar pot.

“Jangan!”

Terlambat. Kawat sudah putus. Si empunya sibuk meyambung dahan ke pot dengan kawat yang baru. Si asisten mundur beberapa langkah dengan wajat terkejut dengan reaksi bosnya.

“Ini belum waktunya kawat dipotong. Dahannya belum mantap tumbuhnya. Masih bisa kemana-mana. Paham?” ujarnya tegas. Si asisten mengangguk. Aku tertegun.

Ini yang namanya kegiatan iseng?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s