Kaca Spion

ITEOTS

Dulu, mendiang nenek saya pernah berujar, “Nduk, hati-hati ketika berbicara, berfikir dan berkata dalam hati. Karena Tuhan maha mendengar.”

Buku ini adalah kisah nyata si penulis. Berawal dari, entah niat mulia atau justru kesombongan masa muda, yang membuahkan nazar dalam doa dan berujung pada terseoknya jalan hidup. Bangkrut di saat awal pernikahan, isteri mengandung anak pertama, merantau ke ibukota dengan bekal pengalaman tanpa ijasah sarjana, tak berpenghasilan sampai hitungan bulan, benar-benar seperti skenario sinetron.

Dan sepertinya kesialan tak pernah ada habisnya. Dari satu hal ke hal yang lain. Benar-benar menguji kesabaran dan keimanan. Lalu, bagaimana akhir rentetan kesialan pasangan muda ini?

Kisah nyata yang berat, namun ditulis dengan ringan. Diksinya lugas tanpa mengakibatkan kerut kening pembacanya. Alurnya pun mengalir, hingga tak terasa menghanyutkan pembaca sampai di halaman terakhir. Kadang menghasilkan helaan nafas plus elusan dada, kadang sukses memunculkan senyum dari rangkaian kalimat satir. Semacam mempermainkan emosi, naik turun, tak henti hingga akhir.

Buat saya, membaca kisah nyata, entah biografi ataupun nukilan cerita hidup, ibarat melihat ke kaca spion. Kali ini, saya melihat lewat kaca spion milik Ega, sang penulis dan empunya true story. Sesekali kita perlu melihat ke kaca spion, saat hendak belok, parkir, mendahului kendaraan di depan, ataupun hanya untuk memastikan keadaan di belakang. Gunanya, agar kita aman berkendara dan melaju ke depan.

Bisa jadi buku ini sedikit menakutkan bagi penderita gamophobia seperti saya (ehem..). Tapi percayalah, banyak hal lain yang bisa diambil, tanpa perlu mengalaminya sendiri. Walau mungkin, ada beberapa kejadian pernah saya atau pembaca lain alami juga.  Sepertinya tidak perlu saya absen satu persatu untuk menjaga kejutannya. Termasuk deretan nominal yang dicetak tebal di akhir cerita 🙂

Well done, Ega. Satu buku satu tahun? Ditunggu realisasinya. Dan kalau tagline buku ini (Berapa harga sebuah masa lalu?) harus dijawab, jawaban saya comot dari sebuah iklan.

Priceless 🙂

Judul: In The Eye Of The Storm

Penulis: Brilliant Yotenega

Penerbit: Nida Dwi Karya (via nulisbuku.com)

Tebal: 101 halaman

Biar Waktu yang Menyembuhkan Luka

memori cover

Ada yang bilang waktu bisa menyembuhkan luka hati. Kenyataannya, semua kembali pada individu. Semua mampu, tapi tak semua mau untuk ‘sembuh’.

Buku yang bercerita tentang Mahoni, arsitek yang tinggal di Virginia, Amerika. Dihadapkan pada berita kematian ayah dan ibu tirinya karena kecelakaan lalu lintas. Mahoni pulang ke Indonesia, hanya sekedar ingin memberi penghormatan terakhir lalu kembali ke Amerika. Tapi, keberadaan Sigi, anak SMA putra almarhum ayah dengan ibu tiri, yang membuat Mahoni mau tidak mau harus tetap tinggal untuk sementara waktu.

Marah, jengkel, sedih, dan entah apalagi yang berkecamuk. Belum lagi semua pekerjaan dan impian yang harus Mahoni lepaskan hanya demi Sigi, pemuda belia yang ogah dia akui sebagai adik. Ingatan tentang ayah yang meninggalkan ibu kandung Mahoni, demi menikah dengan Grace, ibu Sigi, semakin membuat Mahoni tersiksa.

Di tengah ketersiksaannya, tak sengaja Mahoni bertemu dengan Simon, teman kuliah plus mantan kekasih, sebelum mereka memutuskan memilih jalan sendiri-sendiri. Simon, pada akhirnya mengajak Mahoni bergabung dengan MOSS, studio milik Simon dan Sofia, kekasihnya.

Mahoni lalu tenggelam dalam pekerjaan, walau sejatinya keinginan untuk kembali ke Virginia tak pernah padam. Hingga, keadaan-keadaan yang muncul kemudian membuatnya benar-benar harus melepaskan keinginan dan semua impiannya. Plus tetap harus serumah dengan Sigi yang terasa bagai duri dalam daging, walau sebenarnya Sigi adalah anak yang baik dan tak merepotkan. Belum lagi Mahoni harus berhadapan dengan Mae, ibu kandungnya, yang tidak terima Mahoni harus mengasuh Sigi. Dan seperti habis jatuh tertimpa tangga, ketika Simon menyatakan ingin kembali pada Mahoni dan melepaskan Sofia. Belum lagi ditambah masalah-masalah pekerjaan yang muncul kemudian. Pelik. Apa yang dilakukan Mahoni selanjutnya?

Detil. Semua hal yang berkenaan dengan desain dan arsitektur di buku ini ditulis detil. Bisa diterima, karena sang penulis adalah seorang arsitek lepas. Adalah menyenangkan ketika kita mendapatkan ilmu dan pengetahuan setelah membaca buku. Dan itu yang saya dapat dari buku ini.

Cerita dalam buku ini dirangkai dengan diksi yang indah, beberapa tak lazim dipakai dalam sastra popular, tanpa menjadikan buku ini terkesan ‘jadul’. Cerita mengalir dan membuat pembaca tak ingin berhenti sebelum sampai di halaman terakhir. Setidaknya bagi saya.

Pesan moral yang didapat? Banyak dan rasanya tak perlu saya sebut satu persatu karena akan mengurangi kejutannya. Tak semuanya tersurat, namun yang tersirat begitu terasa membekas di hati.

Selamat membaca 🙂

 

 

Judul : Memori

Penulis : Windry Ramadhina

Penerbit : GagasMedia, Jakarta

Cetakan : I, 2012

Tebal : 301 halaman

Dua Sisi Mata Uang

sunset in weh island cover

Ada yang bilang, cinta dan benci itu seperti dua sisi mata uang. Saling bertolak belakang namun sejatinya mereka itu satu. Jadi, cinta bisa berubah jadi benci, semudah benci bisa berubah jadi cinta. Maka,berhati-hatilah 🙂

Buku ini berkisah tentang Mala, gadis asal pulau Weh yang sedang menyelesaikan kuliahnya di Banda Aceh. Setiap hari Jumat, Mala mudik ke pulau Weh demi membantu di cottage Laguna milik ayahnya yang minta dipanggil Bram setelah ibu Mala berpulang.

Di suatu hari Jumat, Mala yang terburu-buru mengejar feri agar tak tertinggal, berujung ‘perkenalannya’ dengan Axel, pemuda Jerman yang ternyata keponakan paman Alan, pemilik cottage Alan Scuba Diving. Bukan perkenalan yang menyenangkan, karena Mala menabrak Axel di kapal penyeberangan hingga terjatuh. Dan kelanjutannya, mereka bak kucing dan tikus.

Perjumpaan Mala dan Axel tak mungkin terhindarkan, karena mereka tinggal bertetangga. Olok-olok, cibiran, debat, silat lidah, tak kenal henti. Termasuk tentang kebiasaan Mala menikmati sunset pulau Weh setiap hari. Sunset yang selalu mengingatkan Mala pada almarhum ibunda.

Raffi, sosok kakak kelas Mala saat SMA yang bekerja di Alan Scuba Diving, muncul di antara mereka. Kenyataan bahwa Mala memendam hati pada Raffi, ditangkap Axel dan menjadikannya bahan untuk menggoda Mala. Hingga mereka berdua mendapati fakta bahwa Raffi telah punya kekasih. Sedih, pasti. Namun, kenyataan ini yang pada akhirnya mendekatkan Mala dengan Axel.

Ya, Axel pada akhirnya mengaku jatuh hati pada Mala. Pun demikian dengan Mala. Hingga muncul berita Raffi putus dengan kekasihnya, dan menyatakan cinta pada Mala. Gadis itu gamang. Mana yang harus dipilih?

Wawasan baru. Buku ini bersetting  pulau Weh dan sekitarnya, pulau paling Barat dari Indonesia. Tempat yang jarang diangkat, yang ternyata tak kalah indah dengan sudut lain negeri ini. Walau di bab ‘One Fine Day’ terasa terlalu banyak informasi yang berjejalan ingin diinformasikan pada pembaca, demi plot cerita tentang Mala yang mengajak Axel berkeliling ke tempat-tempat yang indah di pulaunya. Tempat yang layak dikunjungi karena kecantikannya. Pun dasar lautnya yang konon tak kalah dengan Bunaken, juga Raja Ampat.

Cerita yang diangkat juga manis. Tak melulu tentang cinta dua anak manusia. Juga cinta pada keluarga, lingkungan, sesama. Pun kemauan memaafkan, menerima kelebihan dan kekurangan orang lain, dan impian-impian yang layak diperjuangkan walaupun terasa terlalu muluk. Mungkin akan lebih membuat penasaran jika konflik ditambah atau diperumit. Tapi, bagi pembaca belia, ini sudah lebih dari cukup.

Well, selamat membaca dan selamat menikmati keindahan pulau Weh. Berharap bisa sampai ke sana suatu saat nanti 🙂

 

Judul : Sunset In Weh Island

Penulis : Aida M.A.

Penerbit : Bentang Belia, Yogyakarta

Cetakan : I, Januari 2013

Tebal : 246 halaman.