Dua Sisi Mata Uang

sunset in weh island cover

Ada yang bilang, cinta dan benci itu seperti dua sisi mata uang. Saling bertolak belakang namun sejatinya mereka itu satu. Jadi, cinta bisa berubah jadi benci, semudah benci bisa berubah jadi cinta. Maka,berhati-hatilah🙂

Buku ini berkisah tentang Mala, gadis asal pulau Weh yang sedang menyelesaikan kuliahnya di Banda Aceh. Setiap hari Jumat, Mala mudik ke pulau Weh demi membantu di cottage Laguna milik ayahnya yang minta dipanggil Bram setelah ibu Mala berpulang.

Di suatu hari Jumat, Mala yang terburu-buru mengejar feri agar tak tertinggal, berujung ‘perkenalannya’ dengan Axel, pemuda Jerman yang ternyata keponakan paman Alan, pemilik cottage Alan Scuba Diving. Bukan perkenalan yang menyenangkan, karena Mala menabrak Axel di kapal penyeberangan hingga terjatuh. Dan kelanjutannya, mereka bak kucing dan tikus.

Perjumpaan Mala dan Axel tak mungkin terhindarkan, karena mereka tinggal bertetangga. Olok-olok, cibiran, debat, silat lidah, tak kenal henti. Termasuk tentang kebiasaan Mala menikmati sunset pulau Weh setiap hari. Sunset yang selalu mengingatkan Mala pada almarhum ibunda.

Raffi, sosok kakak kelas Mala saat SMA yang bekerja di Alan Scuba Diving, muncul di antara mereka. Kenyataan bahwa Mala memendam hati pada Raffi, ditangkap Axel dan menjadikannya bahan untuk menggoda Mala. Hingga mereka berdua mendapati fakta bahwa Raffi telah punya kekasih. Sedih, pasti. Namun, kenyataan ini yang pada akhirnya mendekatkan Mala dengan Axel.

Ya, Axel pada akhirnya mengaku jatuh hati pada Mala. Pun demikian dengan Mala. Hingga muncul berita Raffi putus dengan kekasihnya, dan menyatakan cinta pada Mala. Gadis itu gamang. Mana yang harus dipilih?

Wawasan baru. Buku ini bersetting  pulau Weh dan sekitarnya, pulau paling Barat dari Indonesia. Tempat yang jarang diangkat, yang ternyata tak kalah indah dengan sudut lain negeri ini. Walau di bab ‘One Fine Day’ terasa terlalu banyak informasi yang berjejalan ingin diinformasikan pada pembaca, demi plot cerita tentang Mala yang mengajak Axel berkeliling ke tempat-tempat yang indah di pulaunya. Tempat yang layak dikunjungi karena kecantikannya. Pun dasar lautnya yang konon tak kalah dengan Bunaken, juga Raja Ampat.

Cerita yang diangkat juga manis. Tak melulu tentang cinta dua anak manusia. Juga cinta pada keluarga, lingkungan, sesama. Pun kemauan memaafkan, menerima kelebihan dan kekurangan orang lain, dan impian-impian yang layak diperjuangkan walaupun terasa terlalu muluk. Mungkin akan lebih membuat penasaran jika konflik ditambah atau diperumit. Tapi, bagi pembaca belia, ini sudah lebih dari cukup.

Well, selamat membaca dan selamat menikmati keindahan pulau Weh. Berharap bisa sampai ke sana suatu saat nanti🙂

 

Judul : Sunset In Weh Island

Penulis : Aida M.A.

Penerbit : Bentang Belia, Yogyakarta

Cetakan : I, Januari 2013

Tebal : 246 halaman.

2 thoughts on “Dua Sisi Mata Uang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s