Biar Waktu yang Menyembuhkan Luka

memori cover

Ada yang bilang waktu bisa menyembuhkan luka hati. Kenyataannya, semua kembali pada individu. Semua mampu, tapi tak semua mau untuk ‘sembuh’.

Buku yang bercerita tentang Mahoni, arsitek yang tinggal di Virginia, Amerika. Dihadapkan pada berita kematian ayah dan ibu tirinya karena kecelakaan lalu lintas. Mahoni pulang ke Indonesia, hanya sekedar ingin memberi penghormatan terakhir lalu kembali ke Amerika. Tapi, keberadaan Sigi, anak SMA putra almarhum ayah dengan ibu tiri, yang membuat Mahoni mau tidak mau harus tetap tinggal untuk sementara waktu.

Marah, jengkel, sedih, dan entah apalagi yang berkecamuk. Belum lagi semua pekerjaan dan impian yang harus Mahoni lepaskan hanya demi Sigi, pemuda belia yang ogah dia akui sebagai adik. Ingatan tentang ayah yang meninggalkan ibu kandung Mahoni, demi menikah dengan Grace, ibu Sigi, semakin membuat Mahoni tersiksa.

Di tengah ketersiksaannya, tak sengaja Mahoni bertemu dengan Simon, teman kuliah plus mantan kekasih, sebelum mereka memutuskan memilih jalan sendiri-sendiri. Simon, pada akhirnya mengajak Mahoni bergabung dengan MOSS, studio milik Simon dan Sofia, kekasihnya.

Mahoni lalu tenggelam dalam pekerjaan, walau sejatinya keinginan untuk kembali ke Virginia tak pernah padam. Hingga, keadaan-keadaan yang muncul kemudian membuatnya benar-benar harus melepaskan keinginan dan semua impiannya. Plus tetap harus serumah dengan Sigi yang terasa bagai duri dalam daging, walau sebenarnya Sigi adalah anak yang baik dan tak merepotkan. Belum lagi Mahoni harus berhadapan dengan Mae, ibu kandungnya, yang tidak terima Mahoni harus mengasuh Sigi. Dan seperti habis jatuh tertimpa tangga, ketika Simon menyatakan ingin kembali pada Mahoni dan melepaskan Sofia. Belum lagi ditambah masalah-masalah pekerjaan yang muncul kemudian. Pelik. Apa yang dilakukan Mahoni selanjutnya?

Detil. Semua hal yang berkenaan dengan desain dan arsitektur di buku ini ditulis detil. Bisa diterima, karena sang penulis adalah seorang arsitek lepas. Adalah menyenangkan ketika kita mendapatkan ilmu dan pengetahuan setelah membaca buku. Dan itu yang saya dapat dari buku ini.

Cerita dalam buku ini dirangkai dengan diksi yang indah, beberapa tak lazim dipakai dalam sastra popular, tanpa menjadikan buku ini terkesan ‘jadul’. Cerita mengalir dan membuat pembaca tak ingin berhenti sebelum sampai di halaman terakhir. Setidaknya bagi saya.

Pesan moral yang didapat? Banyak dan rasanya tak perlu saya sebut satu persatu karena akan mengurangi kejutannya. Tak semuanya tersurat, namun yang tersirat begitu terasa membekas di hati.

Selamat membaca🙂

 

 

Judul : Memori

Penulis : Windry Ramadhina

Penerbit : GagasMedia, Jakarta

Cetakan : I, 2012

Tebal : 301 halaman

2 thoughts on “Biar Waktu yang Menyembuhkan Luka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s