Problem Penyusunan Kalimat: Ketidaklogisan

writing11 image

Kadang, muncul ketidaklogisan dalam penulisan kalimat. Ini bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti kebiasaan, meniru orang lain, dan lain-lain.

Contoh:

1. Waktu dan tempat dipersilahkan.

2. Bagi yang membawa telepon seluler, mohon dimatikan agar tidak mengganggu acara.

3. Yang memarkir kendaraan di depan pintu masuk, mohon dipindahkan.

Pertanyaan yang muncul adalah:

1. Apa atau siapa yang dipersilahkan?

2. Apa atau siapa yang dimatikan?

3. Apa atau siapa yang dipindahkan?

Logisnya, susunan kalimat tersebut dibuat sebagai berikut:

1. Bapak ketua RT kami persilahkan.

2. Telepon seluler dan alat komunikasi lainnya, mohon dimatikan agar tidak mengganggu acara.

3. Kendaraan yang diparkir depan pintu masuk, mohon dipindahkan.

Problem Penyusunan Kalimat: Kecermatan

writing10 image

Kadang, muncul gejala ketidakcermatan saat kita menulis kalimat.

Contoh:

1. Di dalam laci ada uang dua puluh lima ribuan.

2. Murid pulang lebih cepat karena guru ada rapat.

3. Jembatan kota bersejarah itu sedang direnovasi.

Perlu kecermatan dalam penulisan, sehingga tidak muncul salah tafsir.

Contoh:

1a. Di dalam laci ada uang dua puluh-lima ribuan. (20 x 5000)

1b. Di dalam laci ada uang dua-puluh-lima-ribuan. (1 x 25000)

2a. Murid pulang lebih cepat karena guru mengadakan rapat.

2b. Murid pulang lebih cepat karena di sekolah guru ada rapat.

3a. Jembatan-kota bersejarah itu sedang direnovasi. (jembatannya yang bersejarah)

3b. Jembatan kota-bersejarah itu sedang direnovasi. (kotanya yang bersejarah)

Problem Penyusunan Kalimat: Keparalelan atau Kesejalanan

writing9 image

Menciptakan kalimat yang bagus dan serasi, diperlukan struktur paralel. Ada dua tipe keparalelan dalam kalimat yang harus diperhatikan, yaitu keparalelan struktur kata dan keparalelan struktur kalimat.

Contoh:

Hasil penerapan kurikulum baru diharapkan dapat mencetak generasi yang jujur, bertanggungjawab, disiplin dan komitmen.

Kalimat contoh di atas terasa adanya ketidaksejalanan. Kata jujur dan bertanggungjawab merupakan kata sifat, sedang disiplin dan komitmen adalah kata benda. Bentuknya akan jadi sejalan/paralel, jika kata benda diubah menjadi kata sifat.

Contoh:

Hasil penerapan kurikulum baru diharapkan dapat mencetak generasi yang jujur, bertanggungjawab, berdisiplin dan berkomitmen.

Problem Penyusunan Kalimat: Obyek Berpreposisi

writing8 image

Ada dua kata yang sering mengganggu kehadiran obyek, yaitu kata tentang atau mengenai dan kata daripada.

Contoh:

1. Mobil yang mogok itu menghambat daripada lalu lintas di jalan ini.

2. Kuliah kali ini membahas tentang topik yang sedang hangat.

3. Mereka sibuk membicarakan mengenai kecelakaan semalam.

Kalimat tersebut di atas akan kohesif, jika kata-kata di depan obyek ditanggalkan.

Contoh:

1. Mobil yang mogok itu menghambat lalu lintas di jalan ini.

2. Kuliah kali ini membahas topik yang sedang hangat.

3. Mereka sibuk membicarakan kecelakaan semalam

Malam Pertama

jasmine flowers

20.00.

Belum terlalu malam, tapi aku sudah berada dalam kamarku. Kamar yang kali ini lebih bersih dan harum dari biasanya. Entah tangan siapa yang membuatnya jadi seperti ini, tapi aku suka.

Belasan kuntum melati berkumpul dalam mangkuk putih kecil di atas meja rias. Ah, ini dia sumber harumnya.  Aku duduk di kursi depan cermin dan mulai menciumi wangi melati yang menguar.

Sayup kudengar suara ramai di ruang depan. Sepertinya tetamu mulai undur diri. Teman dan kerabat tersayang, berkenan meluangkan waktu memberi doa dan perhatian. Aku tersenyum penuh terima kasih. Semoga kebaikan mereka mendapat balasan berlipat-lipat.

Aku masih menghirup wangi melati, ketika pintu kamar terbuka. Seorang wanita paruh baya berdiri di ambangnya. Wajah lelah kuyu. Dia berjalan masuk lalu duduk di tepi ranjang. Mengambil foto berbingkai di atas meja nakas. Memandangi, mengelus, lalu mendekapnya. Bulir air mata mulai nampak, ketika seorang wanita muda datang menghampiri.

“Mama, makan dulu, yuk. Mumpung tamu pengajian sudah pulang semua,” ajaknya dibalas gelengan.

“Mama belum makan. Nanti sakit,” rayunya lagi.

“Mama kangen kakak. Ini malam pertama kakak…” suaranya parau. Perempuan muda itu memeluknya.

“Kakak baik-baik saja, Ma. Kakak sudah senang dan tenang. Sekarang, makan dulu ya, Ma.”

Perlahan mereka berdua beranjak pergi.

Meninggalkanku.

Duduk sendiri di kursi depan meja rias, yang cerminnya tak memantulkan sosokku.

“Mama, kakak juga rindu…” ujarku lirih.

Problem Penyusunan Kalimat: Preposisi ‘di’, ‘pada’, ‘dalam’ dan ‘ke’

writing7 image

Ada kecenderungan tumpang tindih penggunaan preposisi di, pada, dalam dan ke.

Contoh:

1. Di awal tahun ajaran baru kali ini, tidak ada murid pindahan dari sekolah lain.

2. Di buku kami, semua pemasukan dan pengeluaran tercatat rapi dan lengkap.

3. Pada tembok sekeliling rumahnya, tertempel poster aneka rupa.

4. Kami akan sampai ke rumahmu jam lima sore.

 

Menuruti intuisi berbahasa, akan terasa janggal penggunaan beberapa preposisi di atas. Seharusnya:

1. Pada awal tahun ajaran baru kali ini, tidak ada murid pindahan dari sekolah lain.

2. Dalam buku kami, semua pemasukan dan pengeluaran tercatat rapi dan lengkap.

3. Di tembok sekeliling rumahnya, tertempel poster aneka rupa.

4. Kami akan sampai di rumahmu jam lima sore.

 

Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam penggunaan preposisi di, pada, dalam dan ke, yaitu:

1. Preposisi (kata depan) di, digunakan di depan kata benda yang mengandung makna tempat dan juga alat.

2. Preposisi di tidak digunakan di depan kata benda yang mengandung makna waktu, manusia dan makna yang berhubungan dengan bahasa.

3. Preposisi dalam digunakan didepan kata benda yang menyatakan hal yang berhubungan dengan bahasa.

4. Kadang, preposisi di bergabung dengan dalam seperti dalam bentukan di dalam kolam, di dalam ember, dll.

5. Preposisi pada digunakan di depan kata benda yang menyatakan waktu, manusia dan binatang.

6. Preposisi ke menyatakan arah atau tujuan.

Problem Penyusunan Kalimat: Frasa ‘saling pengertian’ dan ‘saling ketergantungan’

writing6 image

Frasa saling pengertian dan saling ketergantungan sering dijumpai, walau sejatinya tidak sesuai dengan tata bahasa yang berlaku. Kata keterangan saling tidak lazim diikuti dengan kata benda, tapi diikuti oleh kata kerja (misal: saling memukul, saling mendahului, dll).

Mungkin, frasa saling pengertian dan saling ketergantungan merupakan terjemahan dari bahasa Inggris mutual understanding dan interdependence. Kalau memang demikian, mungkin bisa dicarikan jalan keluar penggunaannya dalam kalimat bahasa Indonesia.

Contoh:

Karena adanya kesalingpengertian antara kedua belah pihak yang berseteru, maka masalah bisa diselesaikan secara kekeluargaan.