Terperosok

car accident

Aku membuka mata. Memicingkannya ketika terkena sinar lampu yang berkelebat menerobos jendela…

Mobil?

Aku baru sadar. Aku ada di jok belakang. Mobil siapa ini? Kenapa aku ada di sini dalam keadaan…

Terikat?

Bingung, sedikit panik. Aku meringkuk dengan kaki dan tangan terikat. Apa-apaan ini? Siapa yang melakukan ini padaku? Apa yang terjadi sampai aku diperlakukan seperti ini?

“Kamu sudah telepon untuk minta tebusan?”

Deg! Aku tercekat. Suara laki-laki yang tidak familiar. Berusaha mengingat, tapi tetap tak mengenalinya.

“Sudah. Tapi orang tuanya minta waktu sampai besok.”

Suara laki-laki, tapi bukan yang tadi. Kucari sumber suaranya. Berasal dari kursi penumpang sebelah sopir. Tapi aku tak bisa melihat wajahnya.

“Bagus. Besok siang kamu hubungi lagi mereka. Tempat dan jam belum berubah.”

Suara laki-laki pertama. Ternyata dia yang mengemudikan mobil.

Aku membaca situasi dan kondisi. Terikat seperti ini, tak mungkin aku melompat keluar. Mobil juga melaju kencang sepertinya. Sampai mataku menangkap tuas rem tangan yang tak terlalu jauh letaknya.

Beringsut sedikit demi sedikit, aku berusaha menjangkau tuas dengan dua tangan yang terikat di pergelangan. Adrenalin mengalir deras. Ketika tanganku hampir mencapai tuas, tiba-tiba…

“Hei!!!”

Suara laki-laki pengemudi mobil, menangkap basah gerakanku. Terlambat. Aku telah menarik tuas rem tangan, lalu berusaha menjangkau kemudi mobil. Dan…

Berhasil!

Mobil berbelok tajam ke kiri. Tapi…

BRAAAKKK!!!

Benturan hebat. Lalu…

Gelap.

*

Aku membuka mata. Memicingkannya ketika sinar lampu terasa lebih menyilaukan dari sebelumnya. Kudapati diriku tergeletak di atas rumput. Kaki dan tanganku sudah bebas tak terikat.

Tak jauh, sebuah mobil merah terperosok dalam keadaan rusak parah. Sedang mobil lain yang ada di seberang jalan terlihat tak kalah rusaknya. Polisi dan beberapa warga sedang berusaha mengeluarkan korban dari mobil yang hampir tak berbentuk.

Satu korban dikeluarkan. Seorang laki-laki. Penumpang di kursi depan. Aku mengenali bajunya. Sepertinya sudah tak bernyawa.

Satu korban lagi keluar. Seorang laki-laki. Si pengemudi. Aku ingat jam bersepuh emas di tangan kirinya. Diusung dalam keadaan sama, tak bernyawa.

Aku menghela nafas.

Korban ketiga dibebaskan. Seorang perempuan muda. Lagi-lagi tak bernyawa. Bedanya, aku kenal sosoknya.

Nafasku tercekat.

Itu tubuhku.

9 thoughts on “Terperosok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s