Guru Tercinta

image

“Sepi…” ujar si kuning.
“Iya,” timpal si coklat.
“Lalu bagaimana?” tanya si hitam.
“Ketuk saja pintunya. Belum tentu juga tidak ada penghuninya, kan?” usul si kuning.
“Baiklah…” si hitam lalu mengetuk pintu.
Tak terlalu lama, pintu dibuka. Sesosok perempuan sepuh terlihat di ambang pintu. Raut wajahnya seolah berusaha mengenali ketiga tamunya.
“Selamat sore, Bu. Apakah benar ini rumah Pak Hudson?” tanya si coklat.
“Benar. Maaf, anda siapa?” tanya si perempuan sepuh.
“Kami dulu murid-murid Pak Hudson, Bu,” jelas si hitam.
“Oh, pantas saya tidak mengenali kalian. Murid Bapak banyak sekali. Sulit kalo harus mengingat semuanya. Ayo, silakan masuk,” perempuan sepuh itu menyilakan tetamunya.
“Bagaimana kalau di teras saja, Bu? Pemandangan di sekitar sini indah sekali. Sayang rasanya kalau dilewatkan,” tawar si kuning.
“Baiklah. Mau minum apa?”
“Aduh, tidak usah repot-repot, Bu. Kami hanya ingin berkunjung dan berbincang dengan Ibu,” tolak si coklat sopan.
Mereka berempat lalu duduk bersama di teras rumah. Pemandangan musim gugur sungguh menghangatkan.
“Begini, Bu,” si kuning buka suara. “Kami menerima berita duka tentang berpulangnya Pak Hudson minggu lalu. Benar begitu, Bu?”
Perempuan sepuh itu tersenyum, namun matanya menyiratkan duka.
“Iya, Nak. Kurang lebih seminggu lalu beliau berpulang.”
“Duka kami untuk Ibu sekeluarga. Semoga diberi ketabahan dan keikhlasan,” ujar si hitam takzim.
“Terima kasih, Nak…”
“Pak Hudson sakit, Bu?” tanya si coklat.
“Tidak ada sakit yang serius sebenarnya. Lazimnya mahluk yang semakin tua, mengalami banyak kemunduran. Dan sepertinya sudah waktunya beliau berpulang. Mengejutkan, memang. Tapi keluarga sudah mengikhlaskan,” jelas perempuan sepuh sendu.
“Kami sungguh kehilangan beliau, Bu. Kami ini adalah murid-murid beliau yang dulu paling bermasalah. Selalu berbuat keonaran,” cetus si hitam membuka kenangan. Kuning dan coklat tersipu. Perempuan sepuh tersenyum lebar.
“Ah, itu sudah biasa. Wajarnya anak-anak, kan?” jawab perempuan sepuh. Ketiga tamunya masih tersipu.
“Kami merasa bersalah pada Pak Hudson. Telah merepotkan beliau selama ini. Kenakalan kami sungguh luar biasa, tapi Pak Hudson begitu sabar menghadapi kami. Dan parahnya, kami belum pernah minta maaf dan berterima kasih pada beliau,” cetus si kuning disambut anggukan kedua temannya.
“Mendiang Bapak selalu berujar betapa beruntungnya beliau memiliki banyak murid dengan aneka watak dan sifatnya masing-masing. Itulah dinamika seorang guru. Itu yang membuat hari-harinya berwarna,” perempuan sepuh itu berujar. Ketiga tamunya saling tatap.
“Beliau dimakamkan di mana, Bu?” tanya si hitam.
“Tidak terlalu jauh. Ikuti saja jalan ini ke Selatan. Di persimpangan pertama, belok ke kiri. Tidak terlalu jauh, ada pemakaman umum di sebelah kanan jalan,” jelas perempuan sepuh.
“Kalau begitu, kami mohon diri, Bu. Kami akan berziarah ke makam Pak Hudson, sebelum malam datang,” si coklat buka suara.
“Perlu diantar?” tawar si perempuan sepuh.
“Tidak usah repot-repot, Bu. Kami bisa sendiri,” jawab si hitam cepat.
“Kami pamit, Bu. Terima kasih banyak, Ibu sudah berkenan menerima kami,” pamit si kuning.
“Sama-sama. Hati-hati di jalan. Kalau ada waktu, main-main ke sini ya, Nak…”
“Iya, Bu. Terima kasih. Akan kami usahakan,” ketiganya undur diri.
Melenggang bertiga menuju makan guru tercinta. Pak Husdon, seekor burung hantu yang berhasil ‘menaklukkan’ tiga jagoan cilik. Si kuning singa Benggala, si coklat beruang madu dan si hitam serigala hutan.

image

Iklan

Prompt #40: Teman Jalan

image

Waktunya pulang. Kurunut lagi semua pekerjaan. Sudah purna seluruhnya. Meja pun telah kembali rapi. Saatnya beradu dengan keriuhan jalan raya.
Helm dan jaket telah kukenakan. Earphone sudah menyumpal telinga. Petikan dawai gitar akustik mengalun merdu. Sepeda motor telah siap melantai di aspal hitam.
Tak seperti biasanya, jalan terasa lengang. Membuatku nyaman berkendara. Sempat berhenti ketika lampu menyala merah. Dan aroma sate melintas menggoda. Ah, rupanya lapak sate ayam Pak Kumis sudah siap menerina para tamu.
Sabar ya, ujarku dalam hati sambil menepuk perut.
Lampu menyala hijau. Aku melaju dengan kecepatan sedang. Mencoba rute baru yang tak terlalu besar dan ramai. Saran dari seorang kawan. Setelah perlintasan kereta api, akan sampai di jalan besar, begitu katanya.
Benar rupanya. Aku melihat jalan besar nan ramai nampak tak jauh setelah rel kereta api. Tak ada palang pintu melintang, membuatku tetap melaju sedang.
Tapi…kenapa tiba-tiba semuanya menjadi gelap?
                           ***
Orang-orang berkerumun. Seorang pengendara sepeda motor dengan earphone di telinga tertabrak kereta api di perlintasan tanpa palang pintu.

Acousticophobia: ketakutan irasional pada kebisingan.

Ketika mencair…

image

Dua orang laki-laki datang menghampiriku. Salah satunya adalah bosku, pemilik club ini. Dan yang lain adalah tamunya. Lebih tepatnya, pesaing. Begitu kabar yang berhembus.
Well, kau mau minum apa?” tanya si Bos.
Scotch, please,” pintanya. Aku mengangguk sopan. Kutangkap sorot mata tajam si Bos.
Aku lalu mengambil bongkah es dari kompartemen yang berbeda di dalam freezer, di bawah meja bar. Ketika akan menuangkan scotch ke dalamnya, si Bos menahan.
Open bottle, Bro,” ujarnya. Aku mengangguk lalu mengambil sebotol Johnnie Walker dan menunjukkan pada mereka untuk meminta persetujuan.
Please…” sang tamu sepakat.
“Kita minum di sini atau cari tempat yang lebih nyaman?” cetus Bos.
“Di sini saja,” jawab sang tamu.
Aku membuka botol lalu menuangkan isinya dalam gelas yang berisi es. Mereka minum dan tandas dalam beberapa teguk. Aku kembali mengisi gelas yang telah kosong. Kali ini mereka berbincang. Entah tentang apa. Aku melayani tamu yang lain, sembari sesekali mencuri pandang dengan Bos.
Aku sedang berbincang dengan seseorang di ujung meja bar, ketika kulihat tamu Bos meninggalkan kursinya dan menuju pintu keluar.
“Kamu tadi tidak keliru?” tanya Bos ketika kuhampiri.
“Tidak, Bos,” aku mengambil gelas scotch bekas minum tamu. Memasukkan dalam kantong plastik yang akan kubuang terpisah dengan sampah lain.
“Tak lama lagi dia akan mati. Setelah kejang dan sesak napas tentunya, ” Bos menyeringai. Aku menghela napas.
Ya. Ketika mencair, maka strychinine dalam es batu akan bercampur dengan scotch yg diminum tamu. Tinggal menunggu waktu, saat ajal akan menjemputnya.

Prompt #39: Penghangat Hati

image

“Bang, baksonya satu, dibungkus. Yang komplit, ya,” pesanku.
Sang Abang mulai memasukkan bakso, tahu dan lainnya ke dalam kantung plastik. Tak lama, pesananku selesai. Aku mengulurkan beberapa lembar uang kertas lusuh karena sering berpindah tangan serta beberapa uang koin. Transaksi selesai, aku berlalu.
Gerimis mulai turun. Aku mendekap erat plastik berisi bakso. Panas, memang. Tapi aku tak rela plastik itu jatuh dan isinya tumpah gara-gara keteledoranku. Aku berjalan cepat menyusuri jalan raya tanpa mengurangi kehati-hatian.
Aku tiba di sebuah kolong jalan layang. Bertemu seseorang yang beberapa hari lalu hampir tertabrak mobil.
“Nenek… Nenek masih ingat saya? Saya Jono, Nek,” aku menyapa beliau.
Si Nenek berusaha mengenali wajahku. Ah, sepertinya dia tak ingat.
“Ini saya bawakan bakso buat Nenek. Masih hangat,” aku mengangsurkan plastik berisi bakso. Si Nenek menerima dengan tangan bergetar.
“Terima kasih, Nak. Sudah repot-repot belikan Nenek bakso,” senyum menghias wajah tuanya.
Aku tersenyum dan pamit sejurus kemudian. Kembali ke jalan raya sambil menenteng gitar kecilku. Berusaha kembali mengais rejeki dan menyisihkan sedikit untuk nenek tua yang sepertinya sebatang kara.

Prompt #38: Terus Berlari

image

Aku duduk sendiri dengan mata masih fokus menatap televisi. Stephan Kiprotich sedang berlari, masih menghias layarnya. Aku berusaha menghitung kecepatan langkahnya.
“Beda dengan sprinter. Kecepatan berlari bukan yang utama buat pelari maraton. Endurance lebih penting,” begitu kata pelatih suatu kali.
Aku tahu itu. Tapi bagaimanapun, aku tetap menghitung langkah pelari maraton internasional ini, karena dari sana aku bisa mengira-ira ketahanan fisiknya.
“Kamu jangan hanya fokus pada ketahanan fisik saja. Ketahanan mental juga harus dibentuk,” ujar pelatih di kali lain.
Tenang, Coach. Soal yang satu itu, aku berani diuji. Hampir semua orang meragukan kemampuanku. Aku bisa mengerti alasannya. Aku sendiri sempat tak punya rasa percaya diri. Kaulah yang berhasil meyakinkanku, Coach. Mengenalmu adalah lebih dari sekadar luar biasa. Terima kasih banyak.
Pelari Uganda itu berhasil menyentuh garis finish. Medali emas lari maraton olimpiade London berhasil diraihnya. Aku ikut tersenyum. Rekaman-rekaman seperti ini selalu bisa menaikkan semangatku untuk terus dan tetap berlari. Walau di kejuaraan dan level yang berbeda, tentu saja.
Ah, sudah waktunya pemanasan. Aku beringsut ke kiri sofa. Menggapai kaki palsu yang lalu kupasang di kedua paha. Ayo!