Prompt #38: Terus Berlari

image

Aku duduk sendiri dengan mata masih fokus menatap televisi. Stephan Kiprotich sedang berlari, masih menghias layarnya. Aku berusaha menghitung kecepatan langkahnya.
“Beda dengan sprinter. Kecepatan berlari bukan yang utama buat pelari maraton. Endurance lebih penting,” begitu kata pelatih suatu kali.
Aku tahu itu. Tapi bagaimanapun, aku tetap menghitung langkah pelari maraton internasional ini, karena dari sana aku bisa mengira-ira ketahanan fisiknya.
“Kamu jangan hanya fokus pada ketahanan fisik saja. Ketahanan mental juga harus dibentuk,” ujar pelatih di kali lain.
Tenang, Coach. Soal yang satu itu, aku berani diuji. Hampir semua orang meragukan kemampuanku. Aku bisa mengerti alasannya. Aku sendiri sempat tak punya rasa percaya diri. Kaulah yang berhasil meyakinkanku, Coach. Mengenalmu adalah lebih dari sekadar luar biasa. Terima kasih banyak.
Pelari Uganda itu berhasil menyentuh garis finish. Medali emas lari maraton olimpiade London berhasil diraihnya. Aku ikut tersenyum. Rekaman-rekaman seperti ini selalu bisa menaikkan semangatku untuk terus dan tetap berlari. Walau di kejuaraan dan level yang berbeda, tentu saja.
Ah, sudah waktunya pemanasan. Aku beringsut ke kiri sofa. Menggapai kaki palsu yang lalu kupasang di kedua paha. Ayo!

18 thoughts on “Prompt #38: Terus Berlari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s