Prompt #40: Teman Jalan

image

Waktunya pulang. Kurunut lagi semua pekerjaan. Sudah purna seluruhnya. Meja pun telah kembali rapi. Saatnya beradu dengan keriuhan jalan raya.
Helm dan jaket telah kukenakan. Earphone sudah menyumpal telinga. Petikan dawai gitar akustik mengalun merdu. Sepeda motor telah siap melantai di aspal hitam.
Tak seperti biasanya, jalan terasa lengang. Membuatku nyaman berkendara. Sempat berhenti ketika lampu menyala merah. Dan aroma sate melintas menggoda. Ah, rupanya lapak sate ayam Pak Kumis sudah siap menerina para tamu.
Sabar ya, ujarku dalam hati sambil menepuk perut.
Lampu menyala hijau. Aku melaju dengan kecepatan sedang. Mencoba rute baru yang tak terlalu besar dan ramai. Saran dari seorang kawan. Setelah perlintasan kereta api, akan sampai di jalan besar, begitu katanya.
Benar rupanya. Aku melihat jalan besar nan ramai nampak tak jauh setelah rel kereta api. Tak ada palang pintu melintang, membuatku tetap melaju sedang.
Tapi…kenapa tiba-tiba semuanya menjadi gelap?
                           ***
Orang-orang berkerumun. Seorang pengendara sepeda motor dengan earphone di telinga tertabrak kereta api di perlintasan tanpa palang pintu.

Acousticophobia: ketakutan irasional pada kebisingan.

12 thoughts on “Prompt #40: Teman Jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s