Blast from the past

image

“Ren, gue jadi pinjam vespa lo, yah,” ujar Juno pada sepupunya.
“Itu kuncinya di lemari. Hati-hati, vespa warisan turun temurun, tuh!” tukas Reno tanpa meninggalkan tatapan dari layar laptop.
“Sip. Tenang, Bro…” Juno menyambar kunci vespa dan kemudian berlalu.
                       *
“Selamat ulang tahun, cantik…” Juno menyerahkan kotak kecil berwarna biru muda dengan pita putih menghiasinya.
“Whaaa! Apa nih?” Anggi terbelalak.
“Ada deh. Tapi bukanya nanti aja, yah. Kita jalan, yuk,” ajak Juno yang diangguki Anggi.
Mereka menuju halaman depan, ketika tiba-tiba langkah Anggi terhenti.
“Itu…” Anggi menunjuk vespa di garasi.
“Oh, itu. Vespa punya sepupuku. Sepeda motorku lagi ngadat. Tapi tenang aja. Tua-tua begini, vespa ini masih oke,” jelas Juno.
Anggi tak menghiraukan penjelasan Juno. Dia masih memperhatikan kendaraan roda dua di depannya. Dia mengenali vespa ini. Sangat kenal. Tak salah lagi.
“Ini vespa mas Reno?” tanya Anggi.
“Iya. Kok kamu tahu, Nggi? Kenal sepupuku itu?” Reno kaget.
“Dia kakak kelasku di SMA,” jawab Anggi dan diangguki Juno.
Anggi menepuk boncengan vespa. Kenangan seketika mencuat bersama debu yang beterbangan. Menyusuri jalanan sepulang sekolah. Berbagi cerita, canda dan bahagia. Bersama mas Reno.
Cinta pertamanya.

Rujak Buah

image

“Apa?!”
“Aku pengin rujak buah.”
“Ya udah. Nanti aku beliin di pasar.”
“Nggak mau! Aku maunya kamu yang bikin.”
Sorot mata si suami jelas-jelas penuh tanda tanya. Kerut-kerut menghias keningnya. Susah memang punya isteri yang sedang ngidam.
“Bahan-bahannya udah aku siapin, kok. Kamu tinggal bikin aja.”
Si suami mengalah. Demi anak. Mereka menuju dapur. Sudah ada buah aneka macam. Plus bahan-bahan yang siap diolah menjadi sambalnya.
“Aku harus mulai dari mana?”
“Bikin sambalnya aja. Buahnya aku yang kupas.”
Si suami mengambil cobek.
“Apa aja yang diuleg, nih?”
“Semua bahan yang ada di situ. Udah pas takarannya, tinggal diuleg.”
“Hah? Cabe rawit sebanyak ini? Semuanya?”
“Iya.”
“Entar enggak kepedesan?”
“Enggak. Penginnya gitu, kok.”
Si suami lalu memindahkan semua bahan ke atas cobek. Cabe rawit, gula merah, air asam jawa, kacang tanah, sejumput garam dan lada, serta sedikit air. Menggerus semuanya dengan tenaga yang kuat, tak membutuhkan waktu lama sampai seluruhnya berbaur halus.
Si isteri mencicipi sambal dengan sepotong bengkuang. Sang suami memicingkan mata, seakan tak sanggup membayangkan rasa pedas yang menyengat.
“Gimana? Ada yang kurang?”
“Pas! Pedasnya top!”
Sang suami mencuci tangan hingga bersih. Tugasnya tuntas, memenuhi keinginan isteri yang sedang ngidam. Namun, ketika kembali ke depan televisi, buah potong plus sambalnya sudah siap di atas meja.
“Lho, ini kenapa rujak buahnya ada di sini? Enggak dimakan?”
“Aku maunya kamu yang makan…”
“Apa?!”

Terbaik

image

Aku berdiri geming. Di depanku terbentang jalan setapak dengan pagar di sisi kanan kirinya. Entah sudah berapa lama aku tak menginjakkan kaki di salah satu puncak gunung ini. Halimun samar mengaburkan ujungnya. Jalan yang akan membawaku ke akhir sebuah petualangan panjang.
Menarik beberapa napas dalam, aku melangkahkan kaki dengan mantap.
                                                  *
Aku telah sampai di ujung jalan setapak. Berada di sebuah kastil kuno nan megah. Dan Ratu berkenan menerimaku saat itu juga.
“Jadi, setelah sekian lama, kau sudah menemukannya?” suara Sang Ratu yang anggun namun berwibawa memenuhi balairung.
“Benar, Ratu. Hamba telah menemukannya,” jawabku takzim.
“Yang terbaik?” Ratu kembali bertanya.
“Benar, Ratu. Yang terbaik,” aku berusaha meyakinkan.
“Tunjukkan padaku,” Sang Ratu bertitah.
Aku maju mendekati meja yang telah disediakan. Mengeluarkan beberapa kantong kecil dari tas punggung, lalu memindahkan isinya ke dalam pinggan porselen di atas meja. Serbuk aneka bentuk, rupa dan warna bercampur, tampak tertangkap mata.
Mengambil tongkat dari dalam saku, aku lalu mengetukkannya ke pinggan sebanyak tiga kali. Serbuk-serbuk berputar di dalamnya, semakin cepat hingga bagai pusaran angin. Tak lama, putaran melambat dan serbuk-serbuk telah berubah bentuk.
Aku memegang pinggan dengan kedua telapak tangan, lalu membawanya ke hadapan Ratu.
“Jadi ini yang terbaik?” Ratu menatap pinggan yang kubawa.
“Benar, Ratu. Terbaik dan terlezat yang ada di muka bumi. Hamba persembahkan rendang dari Indonesia.”

Welcome Home

image

Mobil austin carbodies serupa black cab di Inggris meluncur di aspal boulevard de lauzelle, Brussel. Di dalamnya, selain pengemudi, ada dua sosok yang sedang menikmati pemandangan.
“Rasanya sudah lama sekali ya,” laki-laki berambut pirang berujar. Sosok yang diajaknya berbincang tersenyum lebar.
Mobil hitam itu berbelok ke arah boulevard du Nord dengan pemandangan hijau parc de la source sebagai latarnya.
“Astaga! Tempat ini tak banyak berubah. Kita sudah melanglang ke lima benua. Bahkan pergi ke bulan. Tapi tempat ini masih tetap sama. Tetap menakjubkan dan merindukan,” lanjut si pirang disetujui rekannya.
Memang, semua masih sama, kecuali bangunan artistik moderen  berwarna putih yang menjulang ketika mobil memasuki rue labrador. Dua sosok itu geming. Antara takjub dan terkejut.
Tak lama, mobil berhenti tepat di depannya. Laki-laki berambut pirang turun. Tubuhnya tak terlalu tinggi untuk ukuran kaukasia. Rekannya mengikuti di belakang.
“Ini… Luar biasa…” dia kehabisan kata-kata.
Seorang laki-laki muncul dari dalam gedung putih, lengkap dengan senyum semringah, menyambut dua tamunya.
Welcome home, Tintin. And you too, Snowy,” serunya.
“GUK!”

Bersamamu

image

Aku duduk di salah satu kursi tak jauh dari pintu keluar bandara. Harap-harap cemas menunggu sosokmu nampak di ambangnya. Ya, kamu. Perempuan, teman kecilku. Yang entah kenapa mampu mencuri hatiku setelah sekian lama bersahabat.
Entah sudah berapa tahun kita terpisah jarak dan waktu. Benar kata orang. Jodoh adalah rahasia Tuhan. Tak ada yang menduga akhirnya kita akan bersama. Tak lama lagi.
Pengumuman burung besi yang membawamu telah menyentuh landasan beberapa saat lalu. Aku berdiri di antara para penjemput. Menjemput perempuanku. Bidadariku. Masa depanku. Betapa beruntungnya aku.
Dan kamu muncul. Dengan balutan baju putih berbunga mungil. Lengkap dengan tas tangan dan koper berwarna coklat. Kamu menemukanku. Senyummu masih sama. Masih semanis dulu.
Ku genggam tanganmu. Kucium lembut punggung telapaknya. Lalu melangkah bersama sambil berbagi cerita.
                                                    *
Seorang anak muda tersenyum, memperhatikan seorang kakek bertongkat kayu dan seorang nenek berbaju putih bunga mungil, bergandengan tangan berlalu menjauh dari pintu keluar bandara.

Too Late

image

“Ren, Shanty cantik, yah,” Doni meminta persetujuan Rendy.
“Shanty siapa?” Rendy masih sibuk dengan tabletnya.
“Itu… Anak ekonomi 12,” Doni berujar.
“Yang mana sih?” kali ini mata Rendy menerawang.
“Ah, elo! Masa cewek secantik itu nggak tau,” protes Doni lalu menunjuk salah satu gadis yang sedang duduk bergerombol di sudut kantin.
“Oh, itu. Iya cantik,” ujar Rendy sambil lalu. Doni mendengus kesal.
“Pasti udah punya cowok,” Doni menduga.
“Kok tau?” mata Rendy kembali menatap monitor.
“Kali aja. Apa iya cewek secantik itu nggak punya cowok?” Doni menduga.
“Udah… Tembak aja. Entar juga tau dia udah punya cowok atau belum,” seloroh Rendy.
“Nggak segampang itu lah. Grogi tau!” Doni kembali menekuni piring nasi gorengnya.
“Ya udah. Siap-siap aja kecewa kalo dia direbut cowok lain,” kali ini buku 200 halaman milik Doni sukses mendarat di kepala Rendy.
                                                   *
Doni grogi. Telapak tangannya berkeringat. Matanya tak berani menatap gadis cantik di hadapannya. Ya, Doni baru saja mengungkapkan isi hatinya pada Shanty.
“Don…,” Shanty buka suara.
“Ya?” Doni angkat wajah.
“Terima kasih, yah. Udah sayang sama aku,” Shanty tersenyum. Doni deg-degan. Jangan-jangan, cintanya diterima.
“Tapi aku sudah punya cowok, Don. Maaf yah…” suara manis itu bagai petir menggelegar buat Doni. Dunia kiamat kecil.
“Nah, itu dia datang. Hai, Beib…,” Shanty melambaikan tangan.
Doni menoleh. Mulutnya menganga.
“Rendy?”

Anakku

family_holding_hands-silhouette

“Kamu yang sabar, ya. Banyak berdoa dan sedekah.”

“Sudah berapa tahun, sih? Kok belum punya anak?”

“Mandul, ya?

“Angkat anak aja. Buat pancingan.”

Deretan pertanyaan dari yang menguatkan hati hingga yang sanggup membuatku bunuh diri mulai berdatangan di tahun ketiga pernikahan kami. Semakin tahun, semakin banyak pertanyaan menghampiri.

Awalnya aku, juga mas Tino suamiku, masih adem ayem menanggapi. Kami sudah memeriksakan diri ke dokter, dan kondisi kami dinyatakan sehat. Anak itu rejeki, dan rejeki adalah rahasia Tuhan selain umur dan jodoh.

Namun, semakin bertambah tahun dan tetap tak ada derai tawa dan tangis bocah di rumah, kami menjadi goyah. Ralat. Bukan kami, tapi aku. Ya, aku. Deretan pertanyaan yang datang semakin banyak dan semakin menyakitkan hati, alih-alih memberikan semangat atau perhatian. Pun keimanan yang fluktuatif dari hari ke hari, sungguh membebani pikiranku.

“Mas, apa sebaiknya kita angkat anak saja, yah? Buat pancingan,” ujarku suatu hari pada mas Tino. Dia tersenyum.

“Dik, aku terserah kamu. Tapi, kalo alasannya untuk pancingan, Mas nggak setuju,” jawabnya. Aku berkerut kening.

“Kenapa, Mas? Mas nggak mau punya anak?” nadaku sedikit tinggi.

“Bukan begitu. Mas cuma nggak sreg dengan alasan ‘pancingan’. Anak itu amanah, Dik. Siapapun dan dari manapun anak itu. Jabatan tertinggi yang bisa disandang manusia adalah menjadi orang tua. Entah itu anak kandung atau bukan. Kenapa? Karena pertanggungjawabannya bukan ke manager, bos ataupun para pemegang saham, tapi langsung ke Sang Pencipta. Kalaupun pada akhirnya kita mengangkat anak, Mas ingin anak itu benar-benar akan jadi anak kita, layaknya anak kandung. Bukan hanya anak pancingan, walaupun mungkin setelah kehadirannya, kita lalu dikaruniai anak kandung,” detil mas Tino. Aku tercenung.

“Niat, Dik. Mulailah segala sesuatu dengan niat yang baik. Walaupun pelaksanaannya juga harus baik, tapi niat sebagai fondasi itu yang utama,” lanjutnya. Mukaku kusut.

“Aku bingung, Mas. Apa rencana Tuhan, ya? Apa aku tidak layak untuk jadi ibu buat anak-anakku?” mataku mulai berkaca-kaca. Mas Tino mengelus kepalaku.

“Kamu tahu, Dik? Kamu adalah orang yang paling layak jadi seorang ibu. Kamu adalah perempuan yang memiliki kasih sayang yang berlimpah dan tak terhitung. Sedemikian banyaknya, hingga kasih sayang itu akan mubazir untuk diberikan hanya bagi anak kandungmu sendiri. Kasih sayang yang kamu punya bisa menghangatkan hati banyak anak-anak yang kehausan. Kamu pasti nggak pernah menyadari itu,” kembali mas Tino berujar.

Air mataku tumpah. Bertahun-tahun hidup seatap dengan laki-laki sebaik ini sepertinya jarang aku syukuri. Ketika terlalu peduli dengan deretan pertanyaan yang menyiksa batin, aku justru abai dengan dukungan sosok yang tak lelah mendampingiku.

Sepertinya, aku harus memulai hidup baru. Meenata hati, niat dan langkahku.

*

Hari ini ulang tahun kesepuluh pernikahan kami. Mas Tino duduk di sampingku. Kami saling tatap. Saling menguatkan.

“Kamu sudah yakin, Dik?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Niatku sudah bulat, Mas. Niat yang baik,” aku menjawab sambil tersenyum.

Sejurus kemudian, kami keluar dari mobil, lalu masuk ke rumah bercat putih dengan papan berukuran sedang di halaman yang bertuliskan ‘PANTI ASUHAN’.

Total: 473 kata