Nomor Kontak

image

“Hai, Sandy. Ada apa, Honey?” suara beratnya terdengar jelas di telinga. Sanggup membuat lututku lemas seketika.
“Hai, Dear. Aku cuma mau tanya. Nanti malam jadi, kan?” tanyaku sambil mengaduk-aduk isi tas, mencari charger.
“Jadi, dong. Nanti aku jemput di kantor, yah,” suara itu sanggup melumpuhkan seluruh sel syarafku.
“Oke. Jangan terlambat, yah,” ancamku.
I won’t. See you,” dia memutuskan sambungan telepon setelah memberikan kecupan. Aku langsung lemas di kursi.
                                                 *
“Pesan apa, Hon?” matanya menatap daftar menu. Aku mencuri pandang padanya. Mata itu, sanggup membuat siapapun tenggelam di dalamnya.
“Terserah kamu, deh. Aku belum pernah ke sini. Pesenin yang enak yah,” jawabku sambil berusaha tetap fokus.
Dia tersenyum. Aduh! Senyumannya. Aku tak tahu bagaimana harus mendeskripsikan. Jenis senyuman yang sanggup membuatku meninggalkan akal sehat saat itu juga.
Dia lalu memesan beberapa menu pada pelayan. Lalu berdiri dari kursinya.
“Aku ke toilet dulu, Hon. Titip ponsel, yah,” dia berlalu, meninggalkan ponsel yang menancap pada power bank.
Aku masih mengamati interior resto, ketika ponselnya berderak-derak tanpa suara. Oh! Ada panggilan masuk. Haruskah kuterima? Atau kuabaikan saja?
Kulihat layar ponsel dan berkerut kening seteleh membaca nama yg tertera.
134-Sweety Sandra.
Siapa? Apa? Berbagai pertanyaan menari dalam kepala. Antara ingin tahu dan curiga, ikut serta berkecamuk. Haruskah kuhubungi si Sweety Sandra ini? Ah, buat apa? Tapi rasa penasaran kembali menjajah. Lalu, kenapa ada nomor 134 di depan namanya?
Peduli setan! Kuambil ponselnya, lalu membuka daftar kontak. Ternganga melihat deret daftar nama perempuan yang entah berakhir di nomor berapa.
Aku tercekat. Jangan-jangan, aku ada di antara daftar ini?
Kuambil ponsel, lalu mencoba menghubunginya. Ponsel hitamnya kembali berderak-derak di atas meja. Kembali ternganga melihat nama di layarnya.
156-Honey Sandy
Oh! Itu namaku baginya. Itu juga nomor urutku untuknya. Bergegas mengetik sebaris singkat teks di ponselku lalu mengirimkannya. Ponsel hitam itu kembali berderak-derak ketika aku meninggalkannya untuk pulang. Pesanku sudah sampai.
Aku pulang. Jangan menghubungi dan menemuiku lagi. 156-Honey Sandy.

Dari fiksimini Rosita J Aisyah :
Playboy. Kuambil nomor antrian. Oh, aku wanitanya ke-156.

10 thoughts on “Nomor Kontak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s