Jalan Panjang

image

Aku masih bersungut-sungut. Sungguh sial nasibku ini. Libur kenaikan kelas, tanpa bisa pergi kemanapun. Semua gara-gara Eyang yang tiba-tiba muncul di rumah kami. Kangen cucu, katanya. Eyang putri datang diantar tante Desi, yang harus kembali pulang karena urusan pekerjaan. Oleh karena itu pula sekarang aku ada di sini. Duduk di kursi 9C gerbong eksekutif 2 kereta api Argo Wilis, mengantarkan Eyang kembali ke Surabaya.
Sial, sial, sial, gerutuku dalam hati. Semua rencana liburan bersama teman-teman yang telah disusun rapi sejak lama, berantakan dalam sekejap mata. Aku masih pasang muka cemberut ketika memperhatikan Eyang yang sedang menata perbekalan tak jauh dari kakinya.
“Kenapa nggak naik pesawat aja sih, Ma?” tawarku beberapa hari lalu.
“Eyang takut naik pesawat, Nak. Lagipula kamu sudah lama nggak naik kereta api, kan? Sekali-sekali nggak apa-apa. Refreshing, ” jawab Mama.
Apanya yang refreshing? Membayangkan perjalanan hampir dua belas jam ke depan saja sudah membuatku suntuk berlipat-lipat.
Aku mendengus ketika kereta mulai bergerak. Tepat jam 08.00 pagi. Kereta mulai meluncur menuju Surabaya. Aku merogoh tas ransel, mencari buku yang rencananya akan kutamatkan selama perjalanan. Semoga sanggup membunuh waktu.
Aku masih mencari-cari ke dalam tas ransel, ketika menangkap suara anak perempuan kecil.
“Ibu, lihat itu! Bagus, ya?” serunya menunjuk ke luar jendela. Ibunya mengangguk sambil tersenyum. Aku berusaha mengikuti arah yg ditunjukkannya. Penasaran. Aku tak menekukan sesuatu yang istimewa selain hamparan sawah sepanjang mata memandang. Aneh.
Sepertinya keherananku ditangkap sang ibu.
“Sendirian, Nak?” tanyanya.
“Tidak, Bu. Dengan Eyang,” aku menunjuk Eyang putri yang sudah terlelap bersender jendela.
“Libur sekolah?” tanyanya lagi.
Aku tersenyum kecut. “Iya, sekalian antar Eyang pulang ke Surabaya.”
Ibu itu mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Ibu berdua saja?” tanyaku basa-basi.
“Iya, dengan anak saya. Ayahnya tidak bisa ijin kerja. Padahal kami sudah berjanji akan mengajaknya mudik ke Jawa saat libur sekolah. Jadinya, ya begini. Hanya kami berdua,” jelasnya.
“Oh, Ibu dari mana?” tanyaku. Kali ini penasaran.
“Kami dari Palangkaraya, Nak. Ini pertama kalinya saya mudik setelah punya anak. Rindu keluarga besar,” penjelasannya terhenti oleh celoteh si kecil yg menunjuk-nunjuk truk trailer di luar jendela. Heboh sekali!
“Maaf ya, Nak, kalau berisik. Ini pertama kalinya dia naik kereta api. Tidak ada sawah, apalagi truk trailer di sekitar tempat kami tinggal. Jadinya begini ini. Ribut,” jelasnya sambil terkekeh.
Aku lalu tercenung. Melihat sawah yang terhampar luas saja sudah bisa membuat bocah kecil itu bahagia. Sederhana. Melakukan banyak hal untuk pertama kali, membuatnya begitu antusias. Belum lagi jika bertemu dengan keluarga besar yang belum pernah ditemuinya nanti. Tak terbayang kehebohannya.
Tiba-tiba aku merasa malu. Mengeluh untuk hal-hal yang sepele dan tak perlu. Dibanding bocah kecil itu, aku bisa dibilang jauh lebih beruntung. Setidaknya, pengalamanku lebih banyak. Aku tak perlu pergi terlalu jauh untuk berkumpul dengan keluarga besarku. Tak perlu heran melihat sawah dan truk trailer yang entah sudah berapa miliar kali kulihat. Dan entah berapa banyak hal lainnya.
Bisa jadi hidup yang kita jalani adalah impian banyak orang. Jadi kenapa harus mengeluh? Mulailah bersyukur.
Dan aku mulai berdamai dengan sisa perjalananku yang masih panjang ini.

2 thoughts on “Jalan Panjang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s