Still…

“Jun, tau nggak? Lo tuh kayak cewek!”
JEGERRR!!! Apa coba maksudnya? Boro-boro sempat ditelan, sebagian mie goreng masih ada yang menjuntai dari mulut Juno. Tertahan gara-gara kalimat yang dilontarkan Abi. Andien yang duduk di sebelah Juno cuma cengar-cengir. Yang bikin tambah bete, Tyo yang duduk di depannya justru tertawa mereaksi kalimat Abi.
“Iya! Kayak cewek!” Abi mengulangi kalimatnya. Sepertinya dia bisa membaca mata Juno yang tidak setuju dengannya.
“Biasanya cewek kan suka protes kalo cowoknya kurang perhatian lah, lebih mentingin temen-temennya dibanding ceweknya lah, nggak romantis lah. Pokoknya gitu, deh! Lha ini, elo yang jelas-jelas cowok, malah protes kayak gitu. Apa bukan kayak cewek namanya?” detil Abi.
“Sorry nih, Ndien. Nggak semua cewek kayak gitu, sih! Tapi sering aja gue denger cewek yang protes kayak gitu,” lanjutnya minta pengertian Andien. Yang diajak ngomong cuma manggut-manggut.
Juno menyelesaikan mie yang masih menggantung. Benar juga omongan si tengil ini. Kenapa jadi kayak gini, yak? Ceweknya, Tiara, memang rada beda sama cewek kebanyakan. Nggak manja, nggak posesif, mandiri, Sebenarnya enak sih, nggak ribet. Cuma kok belakangan rasanya aneh aja gitu. Kayak ada yang kurang. Tapi apa, yah?
“Lo enak banget sebenernya, Jun. Tiara tuh nggak rese’ kayak Dina,” Tyo buka suara. Lah, kenapa sekarang jadi Tyo yang curhat?
“Bayangin, deh. Gue jalan sama anak-anak, dicurigain. Katanya gue jalan sama cewek lain. Gue banyak banget tugas ampe nggak sempet ngucapin happy anniversary pas jam 12 malem teng, dia marah besar. Belum lagi katanya gue nggak perhatian lah gara-gara gue lebih mentingin hobi ngulik motor. Uuuhh…bete!” Tyo bersungut-sungut.
“Jun, menurut gue, lo sama Tiara nggak ada masalah, deh…” Andien buka suara. Temen yang satu ini memang nggak banyak omong. Tapi, sekali buka mulut, kalimatnya bernas.
“Masih bisa diomongin, kan? Mau lo apa, maunya dia apa. Secara dia bukan cewek yang rese’. Iya nggak, Bi?” kali ini ia minta persetujuan Abi. Ganti Abi menggut-manggut.
Mie goreng sudah tandas. Ganti es jeruk menyita perhatian. Bener juga kata Andien. Sebenernya nggak ada masalah antara Juno sama Tiara. Tiara bukan Dina. Juno nggak harus nganterin kemanapun Tiara mau. Lo itu cowok gue, bukan supir gue, begitu kata Tiara suatu hari. Tiara juga nggak curiga kalau Juno ngumpul bareng anak-anak kayak sekarang ini. Tiara tahu ada Andien di sini, toh dia nggak cemburu. Juga nggak pernah bawel waktu Juno ngulik motor bareng Tyo. Tapi kenapa yang nggak pernah dirasain itu justru yang Juno rindukan, yah?
“Atau lo mau tukeran? Tiara buat gue aja, yak! Si Dina boleh lo ambil…hehehe!” seru Tyo yang lalu berusaha menghindar dari sambitan es batu.
***
16.10.
Angka itu ada di pergelangan tangan. Lumayan, masih cukup buat istirahat sebentar. Juno janji ketemu Tiara jam setengah lima sore. Dan motor sudah diparkir rapi di tempat teduh walau matahari sudah condong ke Barat.
Ruangan besar ini nggak terlalu ramai. Sudah agak lama Juno nggak tempat ini. Diedarkannya pandangan. Beberapa teman Tiara yang Juno kenal ada di sisi Timur ruangan. Mereka melambaikan tangan yang dibalas dengan senyum dan anggukan kepala. Akhirnya Juno memilih duduk di bangku kayu di tribun, tak jauh dari mereka.
BUUUGHH!!! Suara dari tengah ruangan.
“YUKO!” suara seorang laki-laki.
“Aaaahhh! Kok yuko? Paling nggak tadi kan bisa dapet wazaari?!!” suara Tiara bernada protes. Semua mata memperhatikan.
“Ra, itu tadi nggak cukup buat dapet wazaari,” kali ini asal suara tak jauh dari Juno. Yang diajak ngomong cuma bersungut-sungut. Tiga orang kembali ke tengah ruangan.
Juno hanya memperhatikan dari tempat duduk. Ini salah satu dunia Tiara. Judo. Sudah digeluti Tiara sejak kecil. Koleksi trofi dan medali berbagai kejuaraan ada di lemari kacanya. Tiara sangat mencintai judo, sama seperti Juno mencintai motor. Persis seperti kata Andien, tidak ada masalah di antara mereka. Juno dan Tiara saling memahami kesukaan masing-masing. Tapi, kenapa Juno merasa ada yang hilang?
Dua orang yang ada di tengah ruangan saling membungkuk, lalu meninggalkan arena. Tiara menyapu pendangan lalu melambaikan tangan. Lagi-lagi Juno tersenyum membalasnya.
***
“Jun, maem gado-gado, yuk! Yang dipojokan sono,” ujarnya sambil naik ke boncengan motor. Juno mengiyakan dan motor perlahan meninggalkan parkiran dojo.
“Tumben latihan? Mau tanding lagi?” tanya Juno iseng-iseng.
“Iya sih, tapi masih lama. Akhir tahun gitu,” suaranya terdengar sayup-sayup dari belakang.
“Lah, masih lama banget! Kok sekarang udah latihan?”
“Niatnya nyicil. Soalnya latihan bakal kepotong. Banyak libur. Bulan puasa latihannya juga dikurangi,” detilnya. Motor melambat, masuk parkiran warung gado-gado.
“Nggak apa-apa, tuh? Yaaaa… cuma ngingetin aja, kan mau UAS…” kata Juno setelah duduk di kursi dekat jendela.
“Nah, itu dia! Rencana gue itu latihan terakhir sebelom UAS. Abis itu cuma latihan reguler aja, biar ototnya nggak berubah,” jelas Tiara, kali ini sambil menulis pesanan di notes kecil.
“Beregu atau perorangan?” tanya Juno lagi.
“Dua-duanya. Abis gimana lagi. Di kampus gue yang ikut judo nggak banyak. Jadi jalan keluarnya musti ngrangkep. Kalo cuma ikut salah satu, kok rugi banget. Capek sih, tapi mau gimana lagi…” oceh Tiara dengan mulut diisi kacang bawang yang dicomot dari meja sebelah.
Juno memperhatikan Tiara lebih seksama. Segar sekali, maklum habis mandi. Wajahnya polos tanpa polesan bedak. Juno lalu mengulurkan sesuatu yang diambil dari dalam ransel.
“Apa, nih?” tanya Tiara.
“Happy birthday…” lanjut Juno.
Kado itu masih tergeletak di atas meja. Tiara menatap, masih dengan tangan memegang bungkus kacang bawang. Jujur, Juno deg-degan, karena pengalaman yang sudah-sudah berakhir ‘nggak sesuai rencana’. Tangan Tiara mulai bergerak dan perlahan membuka bungkusnya.
“Waaa…Jun, thanks, yah!” matanya berbinar-binar.
“Lumayan, buat ngelap keringat biar nggak panuan hehehe…” Juno nyengir dibalas pelototan Tiara. Memberi sesuatu buat Tiara nggak segampang yang diduga orang. Tiga kali ulang tahun, baru kali ini Tiara bereaksi seperti ini.
Dulu, ulang tahun pertama setelah jadian, Juno kasih boneka teddy bear. Tahu reaksi Tiara? “Jun, lo kira gue anak kecil, gitu?” seru Tiara waktu itu. Ulang tahun kedua, dikasih bunga. Yaaa… cuma setangkai aja, sih. Itupun atas saran Tyo dan Abi. Dan reaksi Tiara, “Jun, yang bener dong! Lo kira gue udah mati, ampe lo musti ngasih bunga segala?”
Hah! Bikin bete, kan?! Tapi nggak tahu kenapa, Juno justru tertantang. Sampai akhirnya diikutin juga saran si Andien. “Kasih handuk kecil, aja” gitu katanya. Sempet Juno protes, berasa ngasih hadiah lomba tujuh belas Agustusan.
“Tiara kan maniak olahraga, nggak mungkin dia nolak kalau lo kasih handuk kecil dan pasti dipake,” gitu argumen Andien. Akhirnya, Juno membeli tiga handuk kecil dengan tingkat gradasi berbeda dari warna favorit Tiara, biru. Dan ternyata, saran Andien manjur. Terbukti Juno hampir saja dapat pelukan dari Tiara. Coba kalo pesanan gado-gado itu nggak keburu muncul. Hmm…
Mereka makan dalam diam. Bisa jadi Tiara lapar berat. Yang pasti, Juno makan dalam galau. Ada sesuatu yang bakal diomongin, setelah ini. Juno sedang mengumpulkan nyali, sedikit demi sedikit. Dan dua piring gado-gado sudah tandas.
“Ra…” suara Juno lirih.
“Hmm…”Mulut Tiara masih menegak air mineral, langsung dari botolnya.
“Gue mau ngomong…”.
“Apaan?”
“Gini…”
***
“ORANG SINTING!!!” itu suara Abi.
“Lo lewat jembatan mana? Kesambet setan lo? Nggak punya perasaan!” yang ini serapah si Tyo. Andien seperti biasa, diam. Tapi dia melipat tangannya di depan dada dan pasang muka yang sangat sangat nggak bersahabat. Semua menatap dengan sorot mata menghujam.
“Oke, Juno! Hubungan elo sama Tiara bukan urusan gue. Tapi mutusin cewek di hari ulang tahunnya, dengan alasan yang sangat egois, buat gue itu bener-bener nggak banget. Elo nggak punya perasaan, Jun!” Abi emosi.
“Jun, ini Tiara, Jun. T-I-A-R-A! Ya ampun, Jun! Dikemanain otak lo?!” Tyo nyamber. Juno melirik Andien. Berharap dia mau menengahi. Tapi Andien geming.
“Oke, bisa jadi gue egois. Nggak punya perasaan…” Juno buka suara.
“Itu pasti!” sambar Tyo. Juno menghela napas. Sepertinya dia musti menunggu mereka agak reda. Nggak ada gunanya dijelasin kalau seperti ini kondisinya. Dan kelihatannya, Abi dan Andien sedikit mulai ‘melunak’.
“Gue pernah cerita kan, Tiara itu baik banget. At least, kayak Tyo bilang, kalo dibandingin sama Dina, Tiara itu ngerti gue banget. Dan itu gue akuin bener…” jelas Juno ketika suasana mendingin.
“Dia nggak nuntut banyak dari gue. Setia, percaya, mandiri, nggak manja, pokoknya most wanted, lah,” Mata Juno menatap mereka satu persatu.
“Tapi ternyata, justru itu semua yang bikin gue nggak comfort. Gue berasa kayak pacaran sama cowok! Gue ngerasa ‘nggak dibutuhin’. Dia bisa melakukan semuanya sendiri, tanpa bantuan gue. Mau pergi kemana-mana, nggak harus diantar. Sekali-kali juga pengin dia bilang minta diantar atau dijemput pulang latihan judo, misalnya. Kadang gue juga pengin dicemburuin. Ato ngambek gara-gara gue telat dateng waktu janjian. Gue pengin juga ngerasain bete yang dirasain Tyo ke Dina,” lanjut Juno. Andien, Tyo dan Abi masih diam.
“Tapi gue nggak pernah ngerasain itu semua. Karena sifat-sifat Tiara, sifat-sifat gue juga, yang bikin hubungan ini rasanya datar banget. Paling nggak, itu yang gue rasain. Dan jangan lo semua kira gue gampang ambil keputusan ini. Berat banget! Banget! Apalagi waktu gue lihat mata Tiara. Gue ngerasa berdosa banget. Gue udah pasrah kalo dia marah besar terus nonjok gue ampe babak belur. Gue terima. Tapi ternyata nggak,” Juno terduduk lemas di bangku kayu.
“Ha! Terbukti kan, dia emang baik banget,” Tyo masih menyisakan emosi. Juno mengangguk.
“Juno…” kali ini suara Andien. “Gue kan pernah nyaranin elo buat ngomongin ini sama Tiara. Paling nggak, kalo dia tahu mau lo dan lo juga tahu maksud dia, kan nggak perlu ampe putus”.
“Itu juga udah aku lakuin hari itu. Gue ngomong semua yang gue rasain dan yang gue mau. Gitu juga Tiara,” jelas Juno.
“Terus?” Andien minta penjelasan.
“Dia bilang kalo dia ngelakuin semua ini juga buat gue. Dia nggak mau gue ngerasa terkekang, ngerasa nggak dipercaya. Dia bilang kalo dia ngelakuin semua itu ke gue juga karena dia nggak suka kalo dibegituin.”
“Lo kan bisa minta dia berubah. Yaaah… nggak berubah drastis. Sedikit aja. Misalnya, agak manja dikit. Ato sekali-kali minta diantar kemana gitu…” saran Abi.
“Gue juga ngomong. Tapi Tiara nggak seperti itu. Dia nggak bisa. Dan yang bikin gue tambah sedih adalah waktu dia minta maaf kalo dia nggak bisa jadi seperti yang gue pengin. Bayangin! Gue yang mutusin dia, tapi malah dia yang minta maaf!” nada suara Juno meninggi. Yang lain menatap dalam diam.
“Gue emang egois. Gue emang nggak punya perasaan. Gue akuin itu semua. Tapi gue nggak mau jadi orang yang munafik. Gue nggak mau ngelakuin sesuatu yang bikin gue nggak nyaman. Kalo gue nggak ngerasa nyaman, keluarnya juga bakalan sama. Itu juga gue omongin ke Tiara. Dan dia bisa terima itu,” detil Juno.
“Terserah semua mau ngomong apa, yang penting gue udah pikirin ini matang-matang sebelum gue ngomong ke Tiara. Gue jelasin baik-baik. Dan dia bisa ngerti dan nerima. Dan keputusan putus ini juga keputusan berdua. Gue sama dia juga sepakat tetap jadi teman baik. Still keep in touch,” akhir penjelasan Juno. Abi dan Andien masih diam sedang Tyo geleng-geleng kepala.
***
Riuh sekali. Tepuk tangan dan sorak sorai menggema di ruangan yang cukup penuh. Tapi Juno diam saja. Konsentrasi.
“Gawat! Kalo sampai dia pake uchimata, abis deh lawannya! Itu kan andalan dia” sebuah suara dari belakang Juno.
“Siapa bilang? Pernah liat deashibarai-nya? Serem!! Secara kakinya panjang gitu tapi bisa gerak cepet banget!” kali ini suara di sebelah suara pertama.
Juno geming mendengarnya. Walau dia tahu, yang jadi topik pembicaraan adalah Tiara. Yap, Tiara. Yang sedang ada di tengah-tengah arena di partai semifinal. Dan Juno berusaha menepati janjinya, memberi dukungan dari tribun penonton.
BUUUGGHH!!!
“IPPON!!”
“WUAAAA!!” ruangan bergemuruh. Kembali tepuk tangan dan sorak sorai bergema.
Tiara berlari menghambur pada timnya setelah memberi hormat, tanda pertandingan usai. Praktis ia menyumbangkan satu nilai untuk regunya, demi memudahkan laju ke final.
Ah, senyum itu. Masih sama seperti dulu. Juno tersenyum sendiri. Tapi senyum itu bukan milik Juno lagi. Juno cuma berusaha menepati janji yang disepakati.
“Kita masih teman yah, Jun” itu pinta Tiara dulu. Dan Juno mengiyakan.
Itu juga yang membuat Juno ada di sini. Dukungan dari seorang teman baik. Walau di satu sisi hati Juno, perasaan cinta dan sayang itu masih ada.
Still…

Keterangan:
Yuko : Nilai tambahan yang diperoleh jika teknik yang diperagakan tidak cukup bagus untuk memperoleh nilai ½ (setengah).
Wazaari : Nilai ½ (setengah) angka.
Ippon : Nilai 1 (satu) angka.
Uchimata : Teknik bantingan paha.
Deashibarai : Teknik sapuan samping.

6 thoughts on “Still…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s