Too Late

image

“Ren, Shanty cantik, yah,” Doni meminta persetujuan Rendy.
“Shanty siapa?” Rendy masih sibuk dengan tabletnya.
“Itu… Anak ekonomi 12,” Doni berujar.
“Yang mana sih?” kali ini mata Rendy menerawang.
“Ah, elo! Masa cewek secantik itu nggak tau,” protes Doni lalu menunjuk salah satu gadis yang sedang duduk bergerombol di sudut kantin.
“Oh, itu. Iya cantik,” ujar Rendy sambil lalu. Doni mendengus kesal.
“Pasti udah punya cowok,” Doni menduga.
“Kok tau?” mata Rendy kembali menatap monitor.
“Kali aja. Apa iya cewek secantik itu nggak punya cowok?” Doni menduga.
“Udah… Tembak aja. Entar juga tau dia udah punya cowok atau belum,” seloroh Rendy.
“Nggak segampang itu lah. Grogi tau!” Doni kembali menekuni piring nasi gorengnya.
“Ya udah. Siap-siap aja kecewa kalo dia direbut cowok lain,” kali ini buku 200 halaman milik Doni sukses mendarat di kepala Rendy.
                                                   *
Doni grogi. Telapak tangannya berkeringat. Matanya tak berani menatap gadis cantik di hadapannya. Ya, Doni baru saja mengungkapkan isi hatinya pada Shanty.
“Don…,” Shanty buka suara.
“Ya?” Doni angkat wajah.
“Terima kasih, yah. Udah sayang sama aku,” Shanty tersenyum. Doni deg-degan. Jangan-jangan, cintanya diterima.
“Tapi aku sudah punya cowok, Don. Maaf yah…” suara manis itu bagai petir menggelegar buat Doni. Dunia kiamat kecil.
“Nah, itu dia datang. Hai, Beib…,” Shanty melambaikan tangan.
Doni menoleh. Mulutnya menganga.
“Rendy?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s