Rujak Buah

image

“Apa?!”
“Aku pengin rujak buah.”
“Ya udah. Nanti aku beliin di pasar.”
“Nggak mau! Aku maunya kamu yang bikin.”
Sorot mata si suami jelas-jelas penuh tanda tanya. Kerut-kerut menghias keningnya. Susah memang punya isteri yang sedang ngidam.
“Bahan-bahannya udah aku siapin, kok. Kamu tinggal bikin aja.”
Si suami mengalah. Demi anak. Mereka menuju dapur. Sudah ada buah aneka macam. Plus bahan-bahan yang siap diolah menjadi sambalnya.
“Aku harus mulai dari mana?”
“Bikin sambalnya aja. Buahnya aku yang kupas.”
Si suami mengambil cobek.
“Apa aja yang diuleg, nih?”
“Semua bahan yang ada di situ. Udah pas takarannya, tinggal diuleg.”
“Hah? Cabe rawit sebanyak ini? Semuanya?”
“Iya.”
“Entar enggak kepedesan?”
“Enggak. Penginnya gitu, kok.”
Si suami lalu memindahkan semua bahan ke atas cobek. Cabe rawit, gula merah, air asam jawa, kacang tanah, sejumput garam dan lada, serta sedikit air. Menggerus semuanya dengan tenaga yang kuat, tak membutuhkan waktu lama sampai seluruhnya berbaur halus.
Si isteri mencicipi sambal dengan sepotong bengkuang. Sang suami memicingkan mata, seakan tak sanggup membayangkan rasa pedas yang menyengat.
“Gimana? Ada yang kurang?”
“Pas! Pedasnya top!”
Sang suami mencuci tangan hingga bersih. Tugasnya tuntas, memenuhi keinginan isteri yang sedang ngidam. Namun, ketika kembali ke depan televisi, buah potong plus sambalnya sudah siap di atas meja.
“Lho, ini kenapa rujak buahnya ada di sini? Enggak dimakan?”
“Aku maunya kamu yang makan…”
“Apa?!”

6 thoughts on “Rujak Buah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s