Keliru

image

“Jalan Melati nomor 31. Jangan lupa lho, Mas,” suara Sasti terdengar di ponsel.
“Iya. Aku ingat,” jawabku sambil menyuap sesendok gado-gado ke dalam mulut.
“Nggak pake telat, yah. Nggak enak sama Bapak Ibu,” lanjutnya lagi.
“Iya. Aku bakal tepat waktu,” jawabku dengan mulut penuh.
Pembicaraan disudahinya. Aku kembali menekuni makan siangku.
                                              *
Jam tangan menunjukkan pukul 11.30. Aku datang lebih awal dari janjiku. Bertemu orangtua Sasti untuk pertama kali, aku berusaha untuk memberi kesan terbaik.
Rumah bercat putih ini terlihat lengang. Tak ada suara dari dalam. Mencari bel yang tak kunjung ditemukan, akhirnya kuketuk saja pintunya.
Tok… tok… tok… tok…
Selang tak seberapa lama, pintu terbuka lengkap dengan deritnya. Seorang perempuan muda berdiri menyambutku. Manis. Berbaju terusan biru muda, dengan rambut sebahu serta wajah minim polesan, membuatnya terlihat segar. Adik Sasti kah?
“Selamat siang, Dik. Saya Rendra. Sasti ada?” tanyaku. Perempuan muda itu tersenyum.
“Silakan masuk, Mas. Sudah ditunggu dari tadi,” jawabnya sambil mengundangku masuk.
Aku memilih duduk menghadap jendela. Ruang tamu ini sungguh nyaman. Walau jendela dan pintu tak terbuka, namun udara terasa sejuk.
“Mas mau minum apa?” tanya si perempuan muda.
“Nggak usah repot-repot, Dik,” basa-basiku.
“Nggak repot kok, Mas. Yang dingin aja, yah. Di luar panas sekali, lebih enak minum yang dingin sepertinya,” usulnya yang kusetujui. Dia berlalu ke ruang dalam.
Aku sedang mengamati ruang tamu ini, ketika ponselku berbunyi. Keningku berkerut menatap layarnya. Sasti?
“Hallo…”
“Hallo. Mas di mana? Ditungguin dari tadi, kok nggak datang-datang,” suara Sasti memberondong dari seberang.
“Lho, aku sudah di rumahmu,” jawabku bingung.
“Di rumahku? Di mana? Dari tadi aku di rumah, Mas belum datang,” jelasnya.
“Aku di ruang tamu. Adikmu yang menyilakanku masuk,” jawabku masih bingung.
“Mas, aku dari tadi ada di ruang tamu. Dan aku nggak punya adik. Kan aku anak bungsu,” penjelasan Sasti semakin membingungkanku.
“Sebentar… Rumahmu jalan Melati nomor 13, kan?” aku berusaha merunut dari awal.
“Bukan, Mas. Jalan Melati nomor 31,” suara Sasti bercampur dengus. Aku menepuk jidat. Aku keliru masuk rumah.
“Mas…”
“Ya?”
“Di sini nggak ada rumah nomor 13. Setelah 12, langsung nomor 14,” jelasnya pelan.
Aku diam. Menelan ludah yang entah kenapa terasa pahit. Aku yakin rumah yang kumasuki ini bernomor 13. Tapi kenapa penjelasan Sasti….
Aku harus keluar secepatnya! Ketika beranjak dari kursi, aku tercekat. Ruangan ini berubah. Pintu dan jendela hilang! Bulu kudukku meremang, ketika tiba-tiba terdengar…
“Mas Rendra mau ke mana?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s