Leo & Angel

image

Aku melemparkan pandangan ke luar jendela samping. Mendung menggantung, walau tak segelap kemarin. Yakin akan berubah gerimis dalam hitungan tak sampai satu jam lagi. Semoga benar-benar hanya berbentuk rinai, tanpa berteman angin yang bertiup kencang tak kenal arah.
Wajar kalau aku berharap demikian. Aku sedang menunggu seseorang datang kemari. Bukan hanya aku, sebenarnya. Sosok yang duduk tak jauh dari jendela juga sedang melakukan hal yang sama denganku.
Angel. Menanti dalam diamnya.
Aku hanya mampu menghela nafas. Aku tahu rindu sedang berkecamuk dalam hatinya. Walau berusaha ditutupi dengan duduk geming sembari menatap lalu lalang lalu lintas di bawah sana lewat jendela. Hanya itu yang dilakukannya sejak pagi. Dia tahu, pujaan hatinya akan datang. Namun, sama sepertiku, dia tampaknya ragu sambil menatap langit yang semakin lama semakin menggelap.
Senyum tipis kutoreh di wajah. Sekelebat teringat tentang asal mula semua ini berawal.
*
012.
Papan digital dekat jam dinding baru saja berganti angka. Aku melirik kertas yang kupegang. 014. Giliranku tak lama lagi.
“Maaf…”
Suara laki-laki membuatku menoleh ke kiri.
“Boleh pinjam ballpoint? Sebentar saja.”
Laki-laki pemilik suara tadi tersenyum. Manis. Aku mengulurkan ballpoint yang sedang kupakai mengisi teka-teki silang di koran Minggu pagi. Dia menerima sambil tersenyum sopan. Mengisi formulir, membaca ulang, menyerahkan pada petugas di meja pendaftaran, mengambil nomor antrian, lalu mengembalikan ballpoint-ku.
“Terima kasih.”
Senyumnya masih sama. Manis. Aku membalas dengan senyum yang sama.
“Siapa yang sakit?” dia membuka percakapan.
“Ini…” aku menunjuk Angel yang duduk lesu di sampingku. Entah apa yang salah, sejak semalam Angel muntah-muntah walau tak sering. Itu yang membuat kami terdampar di ruang tunggu dokter di hari Minggu ini.
013. Tulisan di papan digital. Setelah ini giliranku.
“Kamu?” tanyaku balik.
“Mengantar Leo,” dia menunjuk sosok yang tidur pulas di sebelahnya. Tanpa dikomando, kami tersenyum geli.
“Dia memang tukang tidur,” jelasnya dalam senyum yang… masih manis.
“Kakinya kenapa?” aku menunjuk kaki kanan Leo yang dibebat perban warna coklat muda.
“Dua minggu lalu dia kecelakaan, ditabrak mobil. Kaki kanannya retak. Sudah dioperasi. Hari ini waktunya periksa. Semoga baik-baik saja,” detilnya. Aku mengangguk-angguk.
Tiba-tiba papan digital di dinding berubah. 014.
“Ah, itu nomer kami. Aku dan Angel masuk dulu. By the way, tolong sampaikan salam kenal buat Leo,” aku tertawa kecil.
“Oh, maaf…” dia berdiri dari kursinya. “Aku Kevin. Senang berkenalan dengan kalian.”
“Daisy,” kami berjabat tangan.
Demikianlah. Setelah itu aku dan Angel bertemu lagi dengan mereka ketika kami keluar dari ruang periksa dokter. Dan tak mengira bahwa pertemuan tak terduga itu akan menjadi cerita yang panjang.
*
Matahari bersinar hangat. Sempurna untuk jalan-jalan santai di Sabtu pagi ini. Aku dan Angel berjalan santai di David Rodgers Park. Banyak orang melakukan hal yang sama dengan kami. Sekedar jalan santai, bersepeda, jogging, duduk santai bersama teman atau keluarga, dan kegiatan lainnya. Ya, matahari adalah barang mahal bagi warga Seattle yang sering diguyur hujan tanpa melihat musim.
Kami sedang berjalan di sisi Timur taman, ketika melihat sosok yang familiar, sedang saling melempar tangkap bola baseball. Aku memicingkan mata. Benar, tak salah. Kami berjalan mendekat.
“Kevin?!” seruku.
Sosok itu berhenti, lalu menatapku sambil memicingkan mata, mentolerir sinar mentari.
“Hai Daisy!” serunya sambil tersenyum. Manis.
“Hallo! Apa kabar?” kami berjabat tangan. Hangat.
“Baik. Sangat baik. Hai Angel,” dia mengulurkan tangan pada Angel yang kemudian disambut hangat.
“Hai Leo!” aku melambaikan tangan pada Leo yang berdiri agak jauh. Dia tersenyum lebar. Tapi matanya seakan tak bisa lepas dari Angel.
“Kalian sedang apa?” Kevin buka suara.
“Hanya jalan-jalan. Mumpung cerah,” jawabku.
“Sama, dong!” Kami tertawa.
“Leo sudah sembuh?” aku teringat kondisinya dua minggu lalu di ruang tunggu dokter.
“Sudah. Operasinya berhasil. Minggu lalu kami kembali ke dokter dan bebatnya boleh dilepas. Ini juga dalam masa penyembuhan. Kata dokter, harus bergerak. Olahraga ringan,” detilnya. Aku manggut-manggut.
“Kamu tinggal dekat sini?” tanyaku. Dia menggeleng.
“Enggak. Di 42nd avenue,” dia mengulum senyum. Keningku berkerut.
42nd avenue? East side?” tanyaku lagi. Dia mengangguk. Mataku terbelalak.
“Apa yang kalian kerjakan di sini? Tak mungkin olahraga ringan harus sejauh ini, kan? Ada Madison Park dekat sana,” seruku heran. Kevin tertawa.
“Kami semalam menginap di rumah teman di Etruria street. Itu alasannya pagi ini kami ada di sini,” dia kembali tersenyum. Manis.
“Kamu sendiri tinggal dekat sini, Daisy?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Di 4th avenue sana,” aku menunjuk sisi Barat.
“Bekerja?”. Aku menggeleng.
“Aku mahasiswa di Seattle Pasific University,” jawabku. Kali ini dia yang manggut-manggut.
“Kamu sendiri? Kuliah? Bekerja?”
“Dua-duanya,” jawabnya. Wow!
“Aku bekerja di Madison Park Dock dan ambil kelas malam di Washington University,” ujarnya.
Aku melongo. Tidak mudah masuk dan kuliah di WU. Apalagi setelah seharian menguras tenaga di galangan kapal. Minimal dia punya otak encer dan tenaga sekelas kuda.
“42nd avenue jauh dari WU, kan?” aku mengira-ira jarak. Dia mengangguk.
“Aku mencari tempat tinggal tak jauh dari tempatku bekerja. Ke kampus naik sepeda. Kadang naik bis kalau hujan atau kecapekan. Walau kadang harus kehabisan bis waktu pulang. Maklum, ambil kelas malam,” dia terkekeh.
“Berdua saja di sini?” Kevin balik bertanya.
“Enggak. Selain Angel, ada sepupu dan seorang teman yang kuliah satu kampus. Kami patungan kontrak rumah. Untungnya dapat yang murah dan tidak terlalu jauh dari kampus,” jelasku. “Kamu sendiri?”
“Selain aku dan Leo, kami berbagi flat dengan seorang teman. Dia juga bekerja di dock, tapi beda tempat denganku.” Aku mengangguk-angguk.
Tanpa kami sadari, Leo dan Angel sudah duduk berdua di tepi taman yang agak rindang. Semacam setali tiga uang dengan yang kami lakukan. Dan mereka nampak agak keberatan ketika aku dan Kevin memutuskan pulang setelah bertukar nomor ponsel.
*
Gelegar petir mengembalikanku dari masa lalu. Gerimis sudah turun. Tapi sosok yang kami tunggu belum nampak batang hidungnya. Sedangkan langit nampak semakin gelap saja. Rasanya, doaku agar hujan tak deras berangin jauh dari terkabul.
Aku menyambar ponsel dari atas meja. Mencari nama di daftar kontak dan menghubunginya. Ada nada sambung.
“Hallo, Daisy,” suara dari seberang. Samar terdengar, berjibaku dengan deru hujan menghantam bumi.
“Hallo, Kevin. Kamu di mana?” tanyaku sedikit berteriak. Semoga terdengar.
“Aku di halte bis,” dia ikut berteriak, lalu ada suara tawa. Ternyata ada segerombolan anak sekolah yang juga menunggu bis. “Sebentar…”
Aku memasang pendengaranku baik-baik. Tiba-tiba suara deru hujan sedikit mereda di seberang sana.
“Hallo? Kamu bisa dengar suaraku, Daisy?” Kevin bervolume standar.
“Iya,” jawabku.
“Baguslah. Aku masuk ke convenience store. Lumayan terbebas dari cekikikan anak sekolah, walau harus membeli segelas kopi instant,” dia terkikik, yang menular padaku.
“Kamu di halte mana?” lanjutku.
“Halte 42nd avenue dan East Madison street.”
Bahuku melorot.
”North West Madison Park?” tanyaku lagi.
“Anda benar sekali, Nona!” serunya sambil tertawa.
“Bagaimana bisa? Sudah setengah jam sejak SMS pemberitahuan keberangkatanmu, kan?” heranku.
“Begini…” terdengar dia menyesap kopi.
“Setengah jam lalu aku memang sudah berangkat dari flat. Sampai di halte, aku baru ingat belum mematikan laptop di kamar. Maka, kembali pulang lah aku. Waktu balik lagi ke halte, ternyata bis yang akan kunaiki sudah lewat. Terpaksa harus menunggu yang berikutnya. Begitu ceritanya.”
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“Lalu Leo?” lanjutku.
“Ada di sini bersamaku. Sama-sama basah kuyub. Aku harap kamu punya persediaan handuk kering yang sangat lebar, Daisy,” Kevin tertawa lagi.
“Tenang saja. Handuk, baju ganti, cokelat panas dan club sandwich akan tersedia, Tuan,” godaku.
“Tak sabar ingin segera sampai ke tempatmu. Aku lapar sekali. Jangan kemana-mana!” dia kembali tertawa. Aku ikut tertular.
See you.”
Sambungan telepon berakhir. Aku melirik ke jendela. Angel masih tetap duduk di sofa tak jauh dari sana. Diam geming.
Sabar, Angel. Tak akan lama lagi.
*
Sebulan setelah perjumpaan di David Rodgers Park, aku dan Angel pergi ke salon langganan. Menghabiskan hampir dua jam memanjakan diri. Ketika keluar, ada suara yang memanggil dalam seruan.
“Daisy! Hai Angel!”
Oh! Kevin! Dengan Leo, tentu saja. Berjalan berdua menuju ke arah kami. Dalam balutan pakaian santai, Kevin melempar senyum. Manis.
“Hai! Dari mana kalian?” tanyaku sambil tersenyum.
“Hanya jalan-jalan. Sempat mampir toko buku sebelah sana. Ternyata koleksi mereka bagus-bagus. Buku-buku lama yang sudah sulit didapat,” dia mengangkat kantong belanja, yang dari wujudnya terlihat Kevin tak hanya sekedar membeli satu atau dua buku.
“Oh ya?”
Kevin mengangguk. “Kalian sendiri?”
Aku menunjuk salon di belakang kami sambil menyeringai. Bibir Kevin membentuk huruf O, tanda mahfum lahir batin.
“Lalu, sekarang mau ke mana?” tanyanya kemudian.
“Belum ada rencana,” jawabku. Aku melirik pada Angel yang sudah kasak-kusuk berdua dengan Leo. Aku curiga dengan mereka berdua.
Jangan-jangan…
“Mau ngopi?” ajak Kevin. Aku terkejut. “Aku traktir, deh.”
“Boleh. Di mana?” tanyaku.
“Di sana saja,” Kevin menunjuk kedai kopi berlogo putri duyung yang konon memang berasal dari Seattle, berjarak selemparan batu dari tempat kami berdiri.
Kami memilih duduk di luar, masih dalam area trotoar milik pedestrian. Kevin datang beserta pesanan kami.
“Kamu nggak pesan makanan, Daisy?”
Aku menggeleng.
“Enggak. Nanggung, belum lapar.”
Aku menyesap hot chocolate pelan-pelan. Nikmatnya…
“Kamu nggak suka kopi?” tanyanya sambil menuang gula dari sachet ke dalam cangkir double espresso. Aku menggeleng.
“Kenapa?”
“Pahit,” jawabku singkat.
“Kamu kan bisa pesan latte atau macchiato yang tidak terlalu pahit.”
Aku kembali menggeleng. Kevin mengaduk kopinya.
“Sudah aku coba semua. Tetap nggak suka. Lebih suka teh, sebenarnya. Tapi di sini cokelat panasnya terkenal sedap.”
Dia tersenyum. Aku berkerut kening.
“Kenapa tersenyum?” selidikku.
“Enggak apa-apa. Sepertinya temanku selama ini terlalu homogen. Para pecinta kopi. Hampir tidak ada yang tidak suka kopi. Mengingat ini Seattle, kota hujan dan kota kedai kopi. Kenal kamu semacam memperluas network, Daisy,” jelasnya.
Aku tersenyum. Lalu terhenyak ketika melihat Leo memegang tangan Angel.
Jangan-jangan…
*
Buzz!
Sir_Kevin : Hallo🙂
Ms_Daisy : Hi🙂
Sir_Kevin : Bumi sebelah Barat aman?
Ms_Daisy : Hahaha! Terkendali, Sir. Bagaimana di Timur?
Sir_Kevin : Sejahtera, walau sedikit terlambat makan :))
Ms_Daisy : Kev, aku mau tanya?
Sir_Kevin : Tanya apa?
Ms_Daisy : Entah ini hanya perasaanku atau memang Leo dan Angel saling tertarik. Bagaimana menurutmu?
Sir_Kevin : Aku kira kamu tak memperhatikan. Tapi sepertinya begitu.
Ms_Daisy : Kamu yakin?
Sir_Kevin : Iya. Leo itu pemalu. Jadi kalau tiba-tiba dia sedekat sekarang dengan Angel, bisa dipastikan Leo memang tertarik. Angel sendiri, bagaimana?
Ms_Daisy : Rasanya juga begitu. Angel itu jarang bergaul. Pribadinya tertutup. Agak kaget juga waktu lihat dia bisa sedekat ini dengan Leo. Kemajuan buat Angel.
Sir_Kevin : Hey, bagaimana kalau kita jodohkan mereka?
Ms_Daisy : Halloooo! Bukannya mereka sudah dekat dan sedang berproses? Apa perlunya lagi kita menjodohkan mereka?
Sir_Kevin : HAHAHA! Iya, yah? Begini saja, bagaimana kalau kita merancang pertemuan mereka? Untuk meyakinkan kalau Leo dan Angel memang saling tertarik. Bagaimana?
Ms_Daisy : Wah! Boleh juga idenya. Rencananya bagaimana?
Sir_Kevin : Begini…
Kami lalu menyusun rencana untuk mempertemukan Leo dan Angel akhir pekan ini.
*
Ponsel di atas meja berderak, mengejutkanku dari lamunan masa lalu. Sebuah pesan masuk.
Kami sudah di atas bis. Jangan lupa hot chocolate dan club sandwich. Lapar maksimal, Ladies🙂
Aku tersenyum.
“Hey, Angel. Kevin dan Leo sudah di atas bis dalam perjalanan ke sini,” seruku.
Angel menoleh dari atas sofa dekat jendela. Ada kegembiraan dalam matanya. Sorot mata jatuh cinta, tak mungkin disembunyikan.
“Perutmu belum diisi sejak pagi. Ayo makan dulu, Angel,” lanjutku.
Angel hanya melengos, kembali menatap jalanan melalui jendela.
“Kevin dan Leo masih lama sampainya. Lebih dari satu jam. Mereka baru saja berangkat,” seruku lagi sambil membayangkan perjalanan panjang mereka yang harus ‘menyeberang’ interstate 5 dan Union Lake untuk sampai ke sini. Dan itu harus dilalui dengan perut yang lapar. Tapi sepertinya Angel tak peduli. Dia masih meringkuk di sofa. Masih dengan pandangan keluar jendela.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Cinta. Membutakan segalanya.
*
Aku dan Angel turun dari bis. Hari ini aku dan Kevin berencana mempertemukan Angel dan Leo. Persis seperti rencana yang kami sepakati via Yahoo! Messenger dua hari lalu. Dan matahari yang hangat di Sabtu pagi ini kuasumsikan sebagai restu Tuhan atas rencana kami.
Aku dan Angel menyeberangi East Madison street, menuju Madison Park. Seperti layaknya taman di akhir pekan, tempat ini ramai dengan pengunjung. Ya, karena cahaya matahari begitu langka di Seattle, maka semua berusaha menikmati sinar hangatnya hari ini.
Aku dan Angel berjalan lambat. Aku sedang berusaha mencari sosok Kevin, ketika Angel menarikku ke arah yang berlawanan.
“Angel! Mau ke mana kita?” seruku kaget.
Setelah terseok mengikuti tarikan Angel, tiba-tiba kami sudah berdiri tak jauh dari Kevin dan Leo yang sedang bermain frisbee.
“Hey!” seru Kevin.
“Hallo!” jawabku masih terengah-engah.
Leo serta merta meninggalkan piring frisbee, lalu berjalan mendekati Angel. Aku dan Kevin saling lirik dan senyum memperhatikan mereka. Baiklah, sejauh ini dugaan kami benar kalau mereka saling tertarik.
“Bawa apa, Daisy?” tanya Kevin.
“Ada salad…” aku menyerahkan tas kainku padanya. Kevin pasang muka berkerut.
“Kamu diet?”
“Enggak!” aku terbahak. “Aku belum selesai bicara.”
Kami duduk di atas alas yang dibawa Kevin. Aku lalu mengeluarkan isi tas. Selain salad, ada keripik kentang, sosis, aneka nugget, kentang tumbuk, cupcakes, juga buah-buahan.
“Wow! Ini bukan piknik. Ini pesta kebun!” seru Kevin.
“Aku yakin kamu dan Leo mampu menghabiskan ini semua,” ujarku sambil terkekeh.
“Benar, kami mahluk yang kelaparan sebenarnya hahaha,” tawanya sambil mencomot sebungkus keripik kentang. Dia lalu mengeluarkan beberapa botol berisi jus jeruk dan soda juga beberapa gelas plastik dari dalam ransel.
“Lihat itu,” Kevin menunjuk. Aku menoleh.
Nampak Leo dan Angel sedang duduk-duduk berteduh di bawah pohon. Entah apa yang mereka lakukan.
“Matahari sebegini hangat, mereka justru berteduh di sana,” Kevin geleng-geleng kepala. Aku tersenyum.
“Sepertinya dugaan kita memang benar, ya,” ujarku. Kevin mengangguk dengan mulut penuh nugget ikan.
“Senang lihat Leo dekat dengan Angel. Padahal dia pemalu banget, lho!” cetus Kevin. Aku mengangguk.
“Sama. Angel itu tertutup. Aku dulu butuh waktu lama sampai bisa sedekat ini dengannya. Sekarang pun aku masih merasa dia membuat jarak denganku,” jelasku. Kevin kini menyuap sepotong sosis ke dalam mulutnya.
“Semoga saja mereka memang berjodoh,” ucapku setengah berdoa.
“Amin!” Kevin masih mengunyah sosis. Aku memperhatikannya.
“Kenapa?” Kevin sadar kuperhatikan.
“Kamu sudah berapa hari tidak makan?” selidikku setengah menggoda.
Kami lalu terbahak.
*
Derita mahasiswa saat ujian mid semester. Bagai burung dalam sangkar. Ingin terbang bebas, apa daya terkurung dalam ‘kewajiban’ belajar. Demikian pula aku dan Kevin. Sedemikian sibuk, hingga tak saling menghubungi satu sama lain. Itu berarti Leo dan Angel juga menjalani ‘puasa temu’. Kasihan, sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi?
Aku sedang mengambil air di dapur, ketika melihat Angel meringkuk di sofa depan televisi. Matanya menatapku. Sayu. Rasanya air yang mengalir di tenggorokanku tak mampu mengusir dahaga. Ada terbersit perasaan bersalah. Angel pasti merindukan Leo. Tapi ujianku belum selesai. Demikian pula Kevin. Apalagi dia tak bisa cuti dari pekerjannya. Pasti saat seperti ini sangat melelahkan baginya.
Aku merogoh saku, mengambil ponsel di dalamnya. Menuliskan pesan singkat pada Kevin. Semoga tak mengganggunya.
Nanti malam ada waktu? Aku perlu bicara.

Sent.

Aku melirik Angel. Dia masih menatapku dalam ringkuknya. Ponselku bergetar.
Jam 22.30, bisa? Aku tunggu di YM.

Aku tersenyum.
Ok! See you🙂

Sent.
Aku meletakkan gelas. Menghampiri Angel, lalu memeluknya. Angel memejamkan mata. Aku mencium puncak kepalanya.
“Sabar ya, Angel. Kamu akan ketemu Leo tak lama lagi.”
*
Buzz!
Ms_Daisy : Kevin!
Sir_Kevin : Yes, Ma’am.
Ms_Daisy : Aku bingung.
Sir_Kevin : Bingung? Kenapa?
Ms_Daisy : Sepertinya Angel merindukan Leo.
Sir_Kevin : HAHAHAHA!!!
Ms_Daisy : KEVIN!!!
Sir_Kevin : Ops! Sorry, Ma’am.
Ms_Daisy : Kamu masih ujian?
Sir_Kevin : Lusa terakhir. Kamu?
Ms_Daisy : Besok terakhir. Lalu Angel dan Leo?
Sir_Kevin : Kenapa dengan mereka?
Ms_Daisy : Kapan mereka bisa ketemu?
Sir_Kevin : Oh, masalah itu. Begini, bagaimana kalau Sabtu ini aku dan Leo main ke rumahmu. Boleh?
Ms_Daisy : Tentu boleh.
Sir_Kevin : Alamat belum berubah?
Ms_Daisy : Masih tetap sama.
Sir_Kevin : Oke. Kami berangkat sekitar jam 10 pagi. Siapkan makan siang, yah🙂
Ms_Daisy : Sip! Jangan khawatir soal itu.
Sir_Kevin : Sebenarnya aku agak curiga…
Ms_Daisy : Curiga?
Sir_Kevin : Jangan-jangan bukan Angel yang kangen, tapi kamu.
Ms_Daisy : Kevin!
Sir_Kevin : HAHAHAHA!!!
Ms_Daisy : KEVIN!!!
Sir_Kevin : HAHAHAHA!!!
*
Ponselku kembali berderak. Pesan singkat kubuka.
Kami hampir sampai. Halte sudah terlihat.

Aku tersenyum. Sebentar lagi mereka turun di halte 3rd avenue, Barat Daya David Rodgers Park. Tak butuh lama untuk sampai ke sini yang berjarak dua blok saja. Masalahnya, hujan masih turun, lebih deras dari sebelumnya. Entah, apakah Kevin dan Leo membawa jas hujan, payung atau yang lainnya untuk melindungi diri.
Angel tertidur di sofa tak jauh dari jendela. Dia pasti lelah, pun perut belum terisi apapun sejak pagi. Rindu sudah menghapus rasa lapar, sepertinya. Kubiarkan saja dia tetap terlelap.
Aku keluar dan duduk di kursi teras. Tak lama, dua sosok yang kukenal nampak dari kejauhan. Benar saja, Kevin lalu melambaikan tangan. Leo berjalan di sebelahnya. Mereka menggunakan jas hujan transparan, plus payung lebar berwarna navy blue.
“Hey!” seru Kevin sesampai di teras.
Aku meletakkan telunjuk di depan bibir, lalu mengangkupkan kedua telapak tangan dan menempelkannya di pipi kiri dengan kepala miring. Kevin mengangguk, menerima isyarat bahwa Angel sedang tidur.
Kami masuk setelah Kevin dan Leo melepaskan atribut waterproof mereka.
“Sepi sekali…” ujar Kevin dalam bisik.
“Iya. Sepupuku menginap di rumah temannya. Sedang temanku ada janji di down town, mungkin baru pulang nanti malam,” jelasku sambil mengulurkan dua helai handuk besar. Mereka mengeringkan rambut dan bagian tubuh yang basah.
“Butuh baju ganti?” tawarku. Kevin menggeleng.
“Aku bawa karena aku rasa kaosmu tak cukup kalau kupakai,” ujar Kevin yang kemudian meringis karena kucubit keras.
Aku mengulurkan cokelat panas. Kevin menerima dan menyesapnya dengan nikmat. Dia lalu menyampar sepotong club sandwich dan melahapnya dengan ketakziman tinggi. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Angel di mana?” tanya Kevin. Aku menunjuk ruang makan. Leo nampak tak sabar.
“Angel…” panggilku. “Leo datang.”
Angel membuka mata lalu mengangkat kepala dari sandaran lengan kursi. Ditangkapnya sosok Leo yang berdiri bersama kami. Sontak, mereka berdua saling menghampiri dan saling melepas rindu.
So sweet.
Aku tersenyum. Senang rasanya melihat Angel dan Leo bersama setelah sekian lama. Namun senyumku memudar, ketika menyadari ada yang merambat di telapak tangan kananku. Saat kulirik, Kevin sedang menyelipkan jemari tangan kirinya di antara jemari tangan kananku, yang lalu digenggamnya erat.
Aku terdiam. Sejurus kemudian, Kevin membawa tanganku yang dia genggam, lalu mencium punggung telapak tanganku. Dia tersenyum. Manis.
“Bukan cuma Leo yang merindukan Angel, Daisy,” ujarnya masih dalam manisnya senyum.
Kurasakan, wajahku menghangat. Pasti rona merah terpampang di sana. Ya, sepertinya bukan hanya Leo dan Angel sang saling merindukan. Aku membalas senyum manis Kevin.
Di luar, hujan bertambah deras, tapi tak mampu mengusir kehangatan rindu dan cinta dalam ruangan ini.
“GUK! GUK!” seru Leo dan Angel, layaknya menyepakati kalimat Kevin.
***

2 thoughts on “Leo & Angel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s