Di Sebuah Supermarket…

image

“Hhhhh…” terdengar brokoli menghela napas.
“Ada apa, Bro?” wortel bertanya.
“Tadi wortel. Lalu tomat. Kubis. Baru saja selada masuk keranjang belanja manusia. Giliranku kapan?” brokoli berkeluh kesah.
“Sabar, Bro. Nanti juga tiba waktunya…” ujar paprika menenangkan.
“Mungkin berlaku untukmu, Pap. Tapi tidak untukku. Kau begitu berwarna. Menarik perhatian. Sedangkan aku? Hijau kusam begini. Bahkan dengan sepupuku si bunga kol saja aku kalah bersaing,” brokoli bersungut-sungut.
“Siapa bilang, Bro? Banyak lho yang nggak suka sama aku. Katanya pahit lah. Pedas lah. Macam-macam, deh,” lanjut paprika.
Perbincangan mereka terputus oleh kedatangan anak-anak kecil berseragam hijau ceria, lengkap dengan hiruk pikuknya.
“Ayo…mendekat ke sini, anak-anak. Ibu akan menunjukkan macam-macam sayuran,” suara seorang perempuan muda berusaha mengambil perhatian rombongan kecil ini.
“Ini namanya wortel. Ada yang tahu?” lanjutnya sambil mengangkat si wortel tinggi-tinggi.
“Saya, Bu guru! Wortel baik untuk mata!” seru seorang anak laki-laki di baris belakang.
“Betul, Brian. Wortel baik untuk mata karena mengandung vitamin A,” detil ibu guru.
Perempuan muda itu lalu mengambil satu per satu sayuran yang ada di kotak dan memperkenalkannya pada rombongan anak-anak.
“Anak-anak, ada yang tahu sayuran yang disebut rajanya sayuran?” ia kembali bertanya. Beberapa anak menjawab sembari berceloteh, namun tak ada yang benar.
“Eeeeehhh…” brokoli yang sejak tadi bengong memperhatikan rombongan kecil ini, terkaget-kaget ketika tubuhnya diangkat oleh si perempuan muda.
“Ini dia! Namanya brokoli!”
Brokoli bengong. Anak-anak melongo.
“Brokoli mengandung banyak zat yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Dibandingkan sayuran lain, kandungan zat dalam brokoli termasuk lengkap. Belum lagi brokoli ini adalah sayuran anti kanker, anak-anak,” jelasnya.
“Tapi rasanya nggak enak, Bu guru,” celutuk salah satu anak disambut cemberut si brokoli.
“Ah, siapa bilang? Brokoli dimasak jadi sop, enak banget lho. Diolah jadi salad, juga nikmat, kok,” anak-anak itu manggut-manggut. Perempuan itu mengembalikan brokoli ke kotaknya.
“Sekarang, kalian boleh pilih salah satu sayuran untuk dibawa pulang.”
Hiruk pikuk kembali terjadi. Juaranya tomat, banyak yang memilih dia. Brokoli masih diam di kotaknya, ketika sepasang tangan kecil meraihnya. Tangan milik seorang anak perempuan berkuncir kuda.
“Aku mau bawa brokoli untuk oleh-oleh Bunda di rumah.”
Wajah mungilnya berhias senyum pun demikian dengan brokoli. Akhirnya, ada juga yang membawanya ke dalam keranjang belanja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s