30 atau 31?

image

“30.”
“31.”
“Salah hitung. 30.”
“Enggak percaya. 31”
“Pak sopirnya jangan dihitung.”
“Enggak dihitung.”
“Kalo gitu kita hitung ulang.”
“Oke.”
“1, 2, 3, 4, 5, ……, 30.”
“Bentar. 1, 2, 3, 4, 5, ……..31!”
“Kok masih beda?”
“Enggak tahu.”
“Oke. Perhatian semua! Mohon duduk di tempat masing-masing. Kami akan hitung ulang semua peserta. Kalau jumlahnya belum pas, kita tidak akan segera berangkat.”
Aku menunduk. Sepertinya belum saatnya aku bergabung dengan rombongan ini. Padahal, aku ingin sekali pergi bersama mereka. Mungkin lain kali.
Dengan gontai ku berdiri.
Melangkah pergi.
Menembus dinding bis pariwisata ini.

#30HariMenulisAngka

26 Huruf

image

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z.
26 Huruf. Hanya 26. Plus tanda baca dan spasi, tentu saja. 26 huruf ini hanya serupa alat. Layaknya pisau saja. Akan digunakan untuk memasak makanan sehat bagi yang mencicipi, atau menghabisi nyawa seseorang sampai tercincang mati?
26 huruf adalah perangkat. Akankah dirangkai menjadi penghibur hati atau pengiris sukma? Semua ada di tangan kita, para perangkainya.
Hanya ada 26 huruf. Tak lebih, pun tak kurang.
Akan kau gunakan di jalan yang mana, teman?

#30HariMenulisAngka

29 Februari

image

“Mama kenapa sih dulu nggak minta operasi aja waktu ngelahirin aku?” tanya Febri. Tampangnya bersungut-sungut. Si Mama yang sedang melipat baju sontak berhenti.
“Emang kenapa Mama harus operasi?” Mama masih tidak mengerti arah pertanyaan anak gadisnya.
“Kalo dulu operasi, aku kan jadi nggak lahir tanggal 29 Februari,” jelas Ferbri.
“Emang ada masalah apa sama tanggal itu?” Mama masih bingung.
“Jadinya kan aku ulang tahunnya cuma empat tahun sekali,” detil Febri. Mama terbahak.
“Iihh! Kok ketawa sih, Ma?” Febri protes.
“Ya iyalah. Abis kamu ini kok lucu. Kirain ada masalah apa?” Mama kembali melipat baju.
“Itu masalah besar, Ma. Aku kan jadi dibully temen-temen. Katanya aku lahir pake waktu twilight zone. Cuma nongol empat tahun sekali,” Febri masih cemberut. Mama tersenyum.
“Dan kamu diem aja dibully kayak gitu? Lawan, dong. Coba pikir, 29 Februari itu istimewa. Cuma muncul empat tahun sekali. Dan kamu bisa lahir di tanggal itu. Apa bukan keren namanya?” Mama berusaha membalik mindset Febri.
“Iya yah?” Febri berpikir.
“Iya, dong. Lebih enaknya lagi, kamu jadi nggak ditodong traktir sama temen-temenmu tiap tahun. Irit hehehe,” Mama terkekeh.
“Iya, sih. Tapi kan aku jadi nggak punya sweet 17 party, Ma,” kembali Febri cemberut.
“Tapi kamu punya sweet 16, Feb. Kan kalo di luar negeri adanya sweet 16, bukannya sweet 17,” tukas Mama. Wajah Febri berubah.
“Eh iya yah. Berarti Mama mau bikinin pesta sweet 16, ya,” seru Febri.
“Oh, ternyata ini modusmu, Feb?” ganti Mama yang cemberut.

#30HariMenulisAngka

28 hari

image

“Istriku tuh perempuan 28 hari, Na,” Seto buka suara. Alisku terangkat.
“Maksudnya?” aku masih bingung.
“Itu. Siklus bulanannya setiap 28 hari,” jelasnya.
“Oh…” aku menyuapkan nasi beserta telur bumbu rujak ke mulut.
“Emang semua perempuan segitu siklusnya, Na?” tanya Seto lagi. Aku menggeleng.
“Mayoritas, sih. Antara 28-30, gitu. Aku 35,” ku gigit kerupuk udang.
“Hah? 35? Lebih dari sebulan?” Seto menghentikan makannya.
“Iya. Dokter bilang ada faktor genetik juga. Mama juga 35. Paling enak kalo puasa ramadhan, ada kemungkinan bisa puasa full satu bulan penuh hehehe,” aku terkekeh lalu meneguk air mineral.
“Oh gitu,” Seto kembali menekuni makanannya.
“Emang ada masalah sama siklusnya, To?” kali ini sesendok capcay masuk ke mulutku.
“Enggak ada, sih. Biasa aja. Yang nggak kuat cuma satu,” kalimat Seto menggantung.
“Apaan?”
“PMS-nya…”
Aku terbahak. Seto manyun.
“Emang PMS-nya gimana?” aku berhenti tertawa.
“Dia bisa berubah jadi orang yang berbeda. Dikit marah, dikit sedih. Mana nggak jelas penyebabnya. Nggak ada yang bener deh. Semua serba salah jadinya. Udah kayak drama queen aja gitu,” Seto bersungut-sungut.
“Kalo udah gitu, lo biasanya ngapain, To?” aku menyendok nasi berteman empal.
“Diemin aja. Mau gimana lagi. Direspon juga salah, kok. Iyain aja,” masih dengan tampang manyunnya. Aku senyum-senyum.
“Repot, yah. Direspon salah. Didiemin salah juga,” aku menggarisbawahi. Seto mengangguk.
“Kalo lo PMS gimana, Na? Bertahun-tahun sekantor, kayaknya nggak pernah liat lo berubah absurd,” Seto mengunyah nasi hainannya.
“Aku nggak absurd, yah? Masa, sih?” mataku menerawang.
“Paling nggak lo nggak pernah bertingkah aneh tanpa alasan,” tegas Seto. Aku mengangguk-angguk.
“PMS itu kan urusan hormon yang produksinya jungkir balik, To. Reaksi di tiap perempuan bisa beda-beda. Kalo aku biasanya berubah jadi lebih pendiam. Plus nafsu makan naik,” jelasku sambil kembali menyuap nasi.
“Berubah pendiam?” Seto memperhatikan.
“Iya. Kata suamiku, sih. Dia yang suka observasi. Katanya aku nggak secerewet hari-hari biasa. Kayak sekarang, nih. Kalo itunganku bener, sekarang aku lagi PMS. Nggak keliatan, yah,” aku nyengir lalu menggigit kerupuk udang.
“Oo…pantes…” Seto mengangguk-angguk.
“Pantes apaan?”
“Lo dari tadi makan mulu, nggak berhenti. Lagi PMS ternyata hehehe.”
“………..”

#30HariMenulisAngka

27 Dresses

image

Amel mematikan dvd plus televisi. Indri melap hidung dan matanya yang berair.
Happy ending, sih. Tapi sedih…” Indri membuang tisu ke tempat sampah.
“27 gaun pendamping pengantin. Banyak euy,” Amel menghempaskan tubuh ke sofa.
“Kalo aku mungkin udah galau akut punya sebanyak itu hihihi,” Indri mulai bisa nyengir.
“Sebenernya bisa aja disamakan kayak seragam pengantin kan yah? Kalo di Indonesia, umumnya kan dikasih kebaya atau sejenisnya gitu,” Amel menerawang.
“Kurang lebihnya. Tapi kalo pendamping pengantin kan lebih formal. Soalnya mendampingi pengantin di altar waktu pemberkatan nikah,” jelas Indri.
“Bener juga…” Amel mengangguk-angguk.
“Tapi kalo dianalogikan dengan kebaya seragam pengantin, lo udah punya berapa, Mel?” tanya Indri.
“Berapa, yah? Ada belasan, mungkin. Kebanyakan sih dari sodara yang nikah. Kalo dari temen, jarang. Seringnya jadi tamu, bukan dari panitia,” Amel mengingat-ingat. “Kalo lo, In?”
“Sama sih. Belasan gitu kurang lebihnya,” jawab Indri.
“Ada yang berkesan?” Amel mengedip-kedipkan mata.
“Berkesan? Ada sih. Kebaya nikahan sodara sepupu. Calon istrinya orang Makassar, jadi kita berbondong-bondong ke sana. Udah sampai Makassar, kebayaku ketinggalan hehehe,” Indri terkekeh.
“Lah! Terus?” Amel terbelalak.
“Untung nggak semua bisa berangkat. Jadi minta dikirim pake paket super ekspres. Parah hihihi,” Indri terkekeh. “Kalo lo, Mel?”
“Ada, sih. Brokat abu-abu muda,” jawab Amel.
“Berkesannya?” tanya Indri lagi.
“Itu kebaya seragam nikahannya mantan…”
“Duh…”

#30HariMenulisAngka

26 Huruf

image

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z.
26 Huruf. Hanya 26. Plus tanda baca dan spasi, tentu saja. 26 huruf ini hanya serupa alat. Layaknya pisau saja. Akan digunakan untuk memasak makanan sehat bagi yang mencicipi, atau menghabisi nyawa seseorang sampai tercincang mati?
26 huruf adalah perangkat. Akankah dirangkai menjadi penghibur hati atau pengiris sukma? Semua ada di tangan kita, para perangkainya.
Hanya ada 26 huruf. Tak lebih, pun tak kurang.
Akan kau gunakan di jalan yang mana, teman?

#30HariMenulisAngka

25 Tahun

image

Perempuan setengah baya itu tersipu. Jari manisnya baru saja disemati cincin. Lelaki yang tak kalah tuanya juga senyum-senyum kecil setelah melakukannya. Sebentuk tumpeng di hadapan mereka telah menunggu untuk dipotong. Beberapa anak muda berseru sambil bertepuk tangan memberi semangat.
Keduanya lalu saling berpegangan, menggenggam centong. Memenggal puncak gunung nasi dan melengkapinya dengan lauk dan sayur.
“Ayo saling suap!” seru sebuah suara.
Si perempuan kembali tersipu. Mereka saling suap dengan malu-malu. Layaknya pengantin yang baru menikah, tak lama mereka menerima ucapan selamat dari para tamu undangan, termasuk bupati dan jajarannya.
“Akhirnya ya, Pak. Setelah 25 tahun, kita bisa nikah resmi juga,” ujar si perempuan.
“Iya, Bu. Kalau tidak ada acara nikah masal, sepertinya nggak mungkin,” jawab si lelaki tua.

#30HariMenulisAngka