3 in 1

image

2004
“Yang mana?” Dila pelan menjalankan mobil.
“Yang itu?” Ryan menunjuk seorang ibu.
“Ogah. Itu bawaannya banyak bener. Pulang dari pasar kayaknya…” tolak Dila.
“Yang itu, gimana?” Ryan menunjuk seorang anak berseragam SMA.
“Boleh, deh,” Dila menepikan mobil dan berhenti tepat di depan anak yang ditunjuk.
“Halo,” sapa Ryan.
“Selamat pagi, Kak,” jawab si anak SMA sopan.
“Mau kemana, Dek?” tanya Dila.
“Selatan, Kak. Blok M,” jawabnya.
“Bareng, yuk,” ajak Ryan diangguki si anak SMA.
Setelah menyilakan tamunya duduk di samping Dila, Ryan pindah ke kursi belakang.
“Hai. Kenalin, aku Dila. Ini adikku, Ryan,” mereka berjabat tangan.
“Saya Arif, Kak,” sahut si anak SMA.
“Maaf yah, Rif. Kami sebelumnya ga pernah pake joki 3 in 1. Jadi agak-agak nggak tau tarifnya, gitu…” suara Dila agak sungkan.
“Oh, nggak usah, Kak. Aku ga pasang tarif, kok. Dibolehin nebeng aja udah terima kasih banget,” jelas Arif.
“Beneran, Rif?” Ryan meyakinkan.
“Iya, Kak Ryan. Beneran,” yakin Arif.
“Oke, deh,” Dila menjalankan mobilnya.
“Kamu sekolahnya kok jauh, Rif? Ga nyari yang deket aja? Kan bisa irit waktu, tenaga plus ongkos,” Dila membuka percakapan.
“Tadinya aku tinggal dekat sekolah, Kak. Setelah ayah meninggal, ibu menjual rumah. Terus kami pindah ke rumah nenek di Senen,” jelas Arif.
“Ga pindah sekolah deket Senen aja, Rif?” suara Ryan dari kursi belakang.
“Enggak, Kak. Harus keluar banyak biaya. Kasihan ibu. Mending aku ngalah berangkat lebih pagi. Untung ada program 3 in 1. Banyak yang butuh joki. Aku ikutan, Kak. Lumayan, bisa irit ongkos,” Arif nyengir.
“Tapi kalo kamu pasang tarif, lumayan lho. Jadi ada pemasukan,” cetus Dila.
“Enggak deh, Kak. Enggak enak. Kan sama-sama butuh. Simbiosis mutualisme, gitu,” mereka tertawa.
“Gini, Rif. Kami biasanya berangkat jam segini. Bertiga, sih. Tapi salah satu teman yang biasanya bareng lagi sakit. Kalo kamu mau, bisa berangkat bareng tiap hari. Gimana? Mau?” tawar Dila.
“Beneran, Kak Dila?” wajah Arif terkejut.
“Iya. Tapi, kalo udah lewat 15 menit ga muncul, tinggal aja. Takutnya kamu telat. Kali aja kami ada perlu lain,” detil Dila.
“Oke, Kak. Terima kasih, yah,” senyum lebar menghias raut Arif.

2005
“Rif, lo sekarang kelas tiga, kan?” Dila mengemudikan mobilnya di antara kemacetan.
“Iya, Kak,” jawab Arif.
“Tahun depan setelah lulus, mau nerusin ke mana?” lanjut Dila.
“Kak Dila ini lucu. Ya nggak nerusin, Kak. Mana ada biaya? Ibu masih harus nyekolahin adik-adik,” jelas Arif.
“Terus lo mau ngapain setelah lulus, Rif?” tanya Ryan.
“Mau kerja, Kak. Apa aja. Buat bantu ibu,” Arif menatap ke jalanan.
“Lo punya keterampilan apa, Rif?” Dila membelokkan mobil ke kiri.
“Standar, Kak. Komputer. Akuntansi. Bisa gambar juga, sih. Pekerjaan yang nerima orang bisa gambar, apaan ya, Kak?” tanya Arif.
“Lo bisa gambar, Rif? Ada contoh gambar ga?” Ryan penasaran.
“Ini, Kak. Cuma corat-coret aja hehehe,” Arif menyerahkan sebuah buku.
Ryan membuka lembar demi lembar.
“Gila! Ini keren, Rif! Kenapa ga pernah cerita?” Ryan masih menekuni gambar.
“Biasa aja, Kak…” Arif tersipu.
“Sungguhan. Ini bagus. Bisa gambar pake komputer, Rif?” tanya Ryan.
“Bisa, Kak. Tapi belum lancar. Di rumah ga ada komputer buat latihan soalnya,” Arif malu-malu.
“Ga masalah. Lo bisa gambar, itu yang paling penting. Soal latihan, bisa diatur. Lo sekarang konsen sama ujian aja. Urusan kerja setelah lulus, ntar kita pikirin sama-sama,” Ryan meyakinkan. Arif melongo. Dila senyum-senyum penuh misteri.

2006
“Rif, lo udah lulus SMA sekarang,” Dila mengaduk-aduk lemon tea di sebuah cafe. Arif yang duduk di depannya duduk mendengarkan.
“Jadi, ceritanya gue sama Ryan mau bikin distro. Yang dijual macem-macem deh, salah satunya t-shirt. Nah, penginnya t-shirt ini bikinan sendiri, bukan barang titipan. Dari gambar-gambar yang pernah lo bikin, gue sama Ryan ngerasa cocok. Dan pengin lo jadi designer gambar buat t-shirt distro. Gimana? Lo mau?” detil Dila. Arif melongo.
“Lo ga usah mikirin gaji. Lo bakal digaji sesuai karyawan dan pastinya di atas UMR. Plus lo akan dapat royalti dari setiap t-shirt yang terjual. Kurang lebih seperti itu gambarannya. Detilnya bakal ada hitam di atas putih,” tambah Ryan. Arif masih melongo.
“Rif? Kok diem?” Dila melambai-lambaikan tangan di depan wajah Arif.
“Ini…ini beneran, Kak?” Arif tergagap.
“Ya bener lah. Daripada lo cari kerjaan yang lain. Mending bareng kita aja. Itupun kalo lo mau, Rif,” ujar Dila.
“Mau! Mau, Kak Dila, Kak Ryan! Mau banget!” mata Arif berkaca-kaca.
“Sip! Soal kontrak dan lainnya, bakal nyusul yah. Lo ntar juga dipinjemin laptop, buat latihan plus bikin gambar-gambar super keren,” Ryan nyengir. Air mata Arif jatuh.
“Terima kasih, Kak Dila, Kak Ryan. Alhamdulillah…” Arif sujud syukur. Dila dan Ryan berpandangan.
Kesyahduan suasana dihentikan datangnya pesanan makanan.
“Btw, tau ga distro kita entar namanya apa, Rif?” Ryan berujar dengan mulut penuh. Arif menggeleng.
“3 in 1! Ha ha ha ha!” mereka terbahak.

#30HariMenulisAngka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s