Pemain Keenam

image

“Sejatinya, setiap pemain voli harus bisa jadi defender. Pemain bertahan. Bertahan dari serangan bola lawan. Baru masuk ke tahap berikutnya. Tosser, smasher, libero atau full jadi defender, tergantung proses selanjutnya,” ujarku beberapa tahun lalu.
Aku masih berseragam putih abu-abu waktu itu. Senior tahun terakhir, berbagi ilmu dengan siswa baru yang berminat mengauli bola voli.
“Bola voli itu olahraga tim. Teamwork. Tidak ada individu berdiri sendiri. Yang ada individu-individu dengan kelebihannya masing-masing, bekerjasama untuk tim. Jangan ada yang merasa lebih dibanding yang lain. Itu yang harus selalu diingat,” aku menutup perjumpaan.
Aku masih ingat beberapa di antara mereka. Raut-raut yang akhirnya berhasil mengharumkan nama sekolah bersama tim voli.
Tapi ada satu yang tak pernah hilang dari ingatanku. Bahkan sampai sekarang.
Seseorang yang memiliki skill terlengkap dari yang lain.
Pemilik mata binar itu.
○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○
“Yakin deh kita bakal menang,” Asri jumawa.
“Jangan takabur,” aku melepas tali sepatu.
“Ini bukan takabur. Faktanya begitu. Tim universitas ABC udah kehabisan pemain handal, sejak smasher-nya salah posisi jatuh di semifinal kemarin lusa. Lututnya bergeser. Bakal pakai pemain cadangan pastinya. Tapi waktu coach lihat daftar pemain cadangan mereka, semua anak baru. Belum ada yang punya pengalaman main di level nasional,” repet Asri panjang lebar. Aku hanya mendengarkan.
Justru itu yang sering membuatku takut. Pemain baru. Darah segar. Belum pernah ‘terbaca’ kemampuannya.
Sepertinya akan menjadi final yang seru.
○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○
Gemuruh gelanggang menyambut tim kami saat keluar dari ruang ganti. Semangat tinggi terpancar dari wajah tim dan para pendukung. Beberapa pemain cadangan bergerak ke deret bangku di pinggir lapangan.
Panggilan bagi tim lawan bergema. Pendukungnya tak kalah bersorak. Barisan berseragam putih biru muncul beriring. Satu demi satu wajahnya kukenali. Pemain-pemain handal yang sering ‘berseberangan’ net dengan kami.
Sampai mataku menatap wajah itu. Pemain keenam. Aku terpaku.
Pemilik mata binar itu

#30HariMenulisAngka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s