Sebelum Lintasan 8

image

Sabtu ini sepertinya lebih panas dari biasanya. Segerombolan anak berdiri berteduh di pinggir lapangan. Aspal yang melapisinya menambah panas siang hari ini.
“Dari SMA ABC?” seorang polisi menghampiri mereka.
“Iya, Pak,” jawab anak-anak hampir bersamaan.
“Bagus. Saya absen satu persatu, ya,” pak polisi mulai membaca daftar di tangannya. Tak banyak. Siswa kelas XII yang ikut ujian kolektif untuk mendapatkan SIM C kali ini tak lebih dari 8 orang.
“Baik. Semua sudah hadir. Saya akan menjelaskan peraturan ujian praktek untuk SIM C,” pak polisi bergeser, badannya kini menghadap lapangan.
“Jadi, di ujian praktek ini kalian boleh memilih salah satu dari tiga jenis sepeda motor yang disediakan. Matic, manual dan sepeda motor ber-cc besar. Saran saya, pilihlah sepeda motor yang biasa atau yang nantinya akan kalian gunakan sehari-hari,” pak polisi menunjuk ke tiga sepeda motor.
“Ujian nanti meliputi beberapa lintasan. Lintasan angka 8, lintasan lurus, lintasan jalan bergelombang, lintasan U dan lintasan zig-zag. Masing-masing peserta ujian hanya boleh gagal satu kali. Lebih dari itu, maka harus mengulang di lain kesempatan,” lanjut pak polisi. Beberapa anak menelan ludah. Termasuk Seno.
“Ada pertanyaan?”
“Tidak ada, Pak,” jawab beberapa anak.
“Bagus. Kalau begitu kita mulai,” pak polisi kembali membaca daftar. “Seno Agustiawan!”
Deg! Glek!
Seno maju. Jantungnya berdegup kencang. Semakin maju melangkah, semakin kencang berdetak.
“Kamu pilih sepeda motor yang mana, Seno?” tanya pak polisi.
Seno gamang. Di rumah, sepeda motor matic terparkir cantik di garasi. Tapi, kalau dia memilih matic untuk dipakai ujian kali ini, apa kata yang lain nanti? Ia pasti akan di-bully. Matic kan sepeda motor cewek, batin Seno.
“Umm…motor bebek, Pak,” jawab Seno.
“Yang matic atau manual?” lanjut pak polisi.
“Yang manual,” jawab Seno. Ada nada ragu di kalimatnya.
“Silakan. Urutan ujian dimulai dari lintasan angka 8,” pak polisi menyerahkan kunci sepeda motor.
Serupa beban berkilogram menggelayut di kaki ketika Seno melangkah menuju sepeda motor. Bodoh! Kenapa aku tidak jujur memilih matic saja, umpatnya dalam hati. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dimasukkan kunci ke lubangnya. Ditekan pelan tombol start. Mesin bersuara. Awal yang bagus. Tapi bagaimana selanjutnya?
Sepeda motor manual, yah? Masuk gigi satu, kan? Tunggu. Yang di kaki kanan atau kiri? Aduh! Aku bingung! Matic jauh lebih simpel. Sial! Aku harus bagaimana?
Seno mematikan mesin dan mencabut kunci, lalu kembali menyerahkan pada pak polisi. Anak-anak yang lain memandangnya bingung.
“Maaf, Pak. Minta ijin ke kamar mandi. Perut saya mulas,” ujar Seno.
“………”

#30HariMenulisAngka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s