XXI

image

“Papa udah lama banget nggak nonton di bioskop, De,” papa berjalan di samping putri bungsunya. Ade senyum-senyum. Mereka memasuki lobby bioskop.
“Sekarang bisa antri di semua loket, Pa,” jelas Ade.
“O gitu. Dulu satu loket untuk satu film. Karcisnya jelek. Nggak pake layar monitor, jadi nggak bisa pilih tempat duduk,” papa menunjuk layar monitor di meja loket.
“Sekarang beli tiket nggak harus antri di loket, Pa,” Ade membayar untuk dua orang. Mereka bergeser ke booth makanan dan minuman.
“Pesen apa, Pa?”
“Wuih! Macem-macem gini,” papa membaca daftar di dinding lalu mulai memesan. Ade membayar tagihan.
“Lho, kita mau ke mana?” papa bingung.
“Ya ke studio 2, Pa. Kan mau nonton,” Ade ikutan bingung.
“Lha itu pesenan kita tadi gimana?” tanya papa.
“Tenang, Pa. Nanti diantar ke kursi kita,” Ade senyum-senyum. Papa geleng-geleng kepala.
Di studio, papa kembali takjub.
“Wah! Keren yah. Kursinya empuk, lebar. Bisa ketiduran kalo kayak gini,” ujar papa sambil terkekeh. Tak lama, pesanan sampai.
“Ada rupa ada harga yah, De. Tapi masih kalah sama layar tancap,” celutuk papa.
“Hah? Kalah gimana, Pa?” Ade bingung.
“Kalo nonton layar tancap sama juga sih. Kita bisa pesen makanan dan minuman. Nanti diantar ke tempat kita duduk,” ujar papa. “Tapi kalo nonton layar tancap variannya lebih oke. Ada bakso, soto, sate, bajigur, es jeruk, banyak deh. Kalo di sini kan nggak ada yang kayak gitu.”
“…….”

#30HariMenulisAngka

2 thoughts on “XXI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s