‘Good News’

image

Percakapan sepasang suami isteri di suatu malam…
“Besok jadi casting, Dik?”
“Jadi, Mas.”
“Film atau sinetron.”
“Film, Mas.”
“PH mana?”
“PH ABC.”
“Drama?”
“Katanya sih action. Makanya aku penasaran pengin ikut. Lama nggak latihan bela diri.”
“Wah, kayaknya action lagi trend yah..”
“Iya, Mas. Moga-moga aja lolos casting.
“Aamiiin.”
                       *
Esok malamnya…
“Dik, gimana casting tadi?”
“Lancar, Mas. Pemeran utamanya udah ada. Jadi tadi nyari pemeran pendukung.”
“Terus, kapan pengumumannya?”
“Katanya seminggu lagi dikabari. Moga-moga aja diterima.”
“Aamiiin…”
               *
Seminggu kemudian…
“Dik, gimana, udah ada kabar dari PH ABC?”
“Udah, Mas.”
“Jadi?”
Good news, Mas. Aku diterima. Peran antagonis, sih. Banyak adegan berantemnya.”
“Wah, selamat yah, Dik. Akhirnya, keinginanmu terkabul.”
“Iya, Mas. Senang, deh. Tapi…”
“Tapi? Tapi apa, Dik?”
“Anu, Mas. Ada ‘good news’ lain…”
“Oh ya? Apa itu?”
“Aku…aku hamil, Mas…”

Selamat pagi senja

image

Aku tersenyum. Pagi yang indah, seperti biasanya. Hanya kali ini terasa lebih istimewa. Mungkin hanya untukku.
Beberapa kawan dan handai taulan gamang bertemu pagi yang kini sedang kurasakan. Entah mengapa. Tak ada yang menakutkan sebenarnya. Itu hanya perasaan mereka saja.
Aku duduk di teras belakang rumah. Berteman secangkir teh hangat, koran pagi dan tentu saja, suami tercinta. Anak-anak kami sedang berjibaku dengan kemacetan menuju tempat tugas. Cucu-cucu sudah duduk manis menuntut ilmu.
Indah bukan hidup ini? Tak ada yang perlu ditakutkan. Bahkan ketika kemarin aku menerima kartu tanda penduduk yang baru. Dengan keterangan masa berlaku yang tertulis ‘Seumur Hidup’. Aku bersyukur bisa sampai di usia senja ini.
Pagi yang indah.
Selamat pagi, senja.

Hey cantik!

image

Perempuan itu menyelipkan bunga kemboja di telinga. Kontras dengan rambutnya yang hitam legam.
“Ah, kamu cantik, Dik,” ujar si laki-laki.
“Mas bisa aja,” perempuan itu tersipu.
“Sayangnya, hanya ada bunga kemboja di sekitar sini. Coba kalo ada bunga mawar, yah,” laki-laki itu memandang sekeliling.
“Kemboja juga cantik kok, Mas,” si perempuan memainkan ujung rambutnya.
“Iya. Apalagi kalau kembojanya diselipkan di telingamu, Dik. Tambah cantik,” laki-laki itu mulai merayu.
“Ih! Mas gombal, deh,” perempuan itu pura-pura merajuk.
“Tapi kalaupun ada bunga mawar, bagaimana memetiknya? Tanganku…” sang laki-laki memandang kedua tangannya dengan sedih.
“Jangan dipikirkan, Mas. Kita nikmati saja kebersamaan kita,” si perempuan berusaha menghibur.
“Sayangnya aku harus pulang sekarang, Dik. Aku janji, besok aku kembali lagi,” laki-laki itu pamit.
“Iya, Mas. Hati-hati di jalan, yah,” perempuan cantik itu melambaikan tangan.
Pocong beranjak pulang, meninggalkan kuntilanak di atas pohon kemboja.

Yang Terlupakan

image

“Asparagus cream soup, dua. Mushroom cream soup, satu. Rib eye, satu. Tenderloin, satu. Wagyu, satu. Semua well done. Vanilla ice cream, tiga. Orange juice, dua. Lemon tea, satu,” aku mengabsen pesanan. Sang waitress mencatat dengan cermat lalu membaca ulang. Tidak ada cela. Dia pamit.
Di sini kami berada. Resto baru di salah satu pusat perbelanjaan yang baru saja buka, tapi sudah kondang seantero kota. Beruntung kami dapat meja malam ini. Sambil menunggu pesanan, ibadah selfie dan update status jangan sampai terlewatkan.
Pesanan kami datang beberapa menit kemudian. Sesuai dengan kabar yang beredar, bukan hanya rasa yang tak bisa digugat, tapi tampilannya pun sangat memikat. Ibadah foto dilanjutkan. Semacam laporan pada penjuru dunia bahwa kami sedang berhadapan dengan sajian untuk dewa dewi di tempat yang paling hits.
Suap demi suap. Gigitan demi gigitan. Sempurna. Hingga…
“Bismillahirohmannirrohim. Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa bannaar. Aamiiin.”
Suara anak perempuan menghentikan kunyahanku. Sosoknya ada di meja sebelah kanan, bersama ayah, ibu dan kakaknya mungkin. Mereka lalu mulai menikmati hidangan yang tersaji.
Aku terdiam. Untaian doa sebelum makan yang kuhafal sejak kecil, entah kenapa jadi yang terlupakan. Mensyukuri rejeki yang akan masuk ke perut, sepertinya teralihkan dengan ‘ibadah yang lain’.
Aku masih terdiam.
Aku. Malu.

Sudah tak cinta lagi

image

Gadis kecil itu jongkok di depanku. Matanya menatapku lekat.
“Dea suka mawar?”
Anak kecil itu mengangguk. Oh, namanya Dea. Cantik.
“Tapi kok nggak ada bunganya, Tante?” Dea buka suara.
“Kan baru ditanam minggu lalu. Jadi belum berbunga,” jelas perempuan yang dipanggilnya tante.
“Nanti kalau sudah berbunga, Dea dikasih tau ya, Tante,”
“Oke.”
“Cepat berbunga ya mawar,” Dea mengelus potku sebelum beranjak pergi.
Ah, Dea mencintaiku!
                 *
Dea datang! Dia pasti dapat kabar kalau aku sudah berbunga. Matanya berbinar menatapku.
“Cantik yah, Tante,” ujarnya. Sang tante mengiyakan.
“Mawarnya boleh buat Dea, Tante?” pintanya. Kembali sang tante membolehkan. Aku pun mengiyakan dalam diam.
“ADUH!” Dea memegang jarinya.
“Kenapa, Dea?”
“Kena duri, Tante.”
“Duh, hati-hati. Ayo sini. Diobati dulu jarinya.”
Dea berlalu dengan wajah cemberut menatapku. Aku sedih. Dia meninggalkanku sendiri yang patah menggantung di tangkai. Dea sudah tak cinta lagi padaku.

Senja hari ini

image

Aku duduk menghadap matahari yang sebentar lagi jatuh tenggelam di laut merah. Tak lama, lembayung cantik akan muncul di kanvas langit. Mengingatkanku pada ibu.
“Dinikmati dan disyukuri, Nduk. Tidak semua orang bisa melihat pemandangan sebagus itu,” begitu beliau berkata ketika lembayung menghiasi senja di atas rumah kami.
Aku menghela napas. Surat dari ibu baru kuterima kemarin. Isinya masih sama. Menanyakan kabar, pun kapan aku akan pulang. Hatiku mencelos. Entah sudah berapa tahun aku tidak pulang.
Aku tahu ibu mencemaskanku. Berita tentang rentetan eksekusi pasti membuat beliau was-was. Tapi apakah aku harus pulang?
Suara jeritan gembira anak-anak kecil membuyarkan lamunanku. Fatimah dan teman-temannya sedang asyik bermain perosotan. Arena bermain yang hanya selemparan batu dari masjid Qishash ini berdiri di atas rumput sintetis. Ya. Sintetis. Rindu kampung halaman kembali menyeruak. Rumput di rumah tumbuh subur tanpa ada yang menanan. Juga beragam tanaman lainnya. Aku merindukan hijaunya.
Aku tersenyum. Kini aku tahu. Jerita tawa bocah, rumput dan lembayung senja. Aku rindu rumah. Aku harus pulang.
Ibu, tunggu aku.

Surprise!

image

“Ini-apa?” Ayumi menunjuk makanan yang baru saja kuletakkan di depannya.
“Ini namanya klepon,” jawabku sambil menunjuk lima butir klepon yang tersaji di daun pisang.
“Ke-re-pon?” dia terbata. Aku tersenyum. Ayumi yang asli Jepang ini kesulitan melafal huruf L.
“Ke-le-pon, Ayumi,” detilku. Dia manggut-manggut.
“Kalau makan klepon, harus sekali suap. Seperti makan sushi,” aku mencomot sebutir klepon, lalu memasukkannya utuh ke dalam mulut. Ayumi memperhatikanku.
“E-nak?” tanyanya. Aku mengacungkan dua ibu jari.
Ayumi mengambil sebutir klepon. Memperhatikannya dari dekat. Lalu pelan-pelan memasukkannya dalam mulut.
Aku tersenyum dan mulai menghitung. Satu…dua…ti..
Mata Ayumi terbelalak. Aku tertawa. Gula jawa cair dalam klepon pasti sudah meledak dalam mulutnya.
Surprise!