Senja hari ini

image

Aku duduk menghadap matahari yang sebentar lagi jatuh tenggelam di laut merah. Tak lama, lembayung cantik akan muncul di kanvas langit. Mengingatkanku pada ibu.
“Dinikmati dan disyukuri, Nduk. Tidak semua orang bisa melihat pemandangan sebagus itu,” begitu beliau berkata ketika lembayung menghiasi senja di atas rumah kami.
Aku menghela napas. Surat dari ibu baru kuterima kemarin. Isinya masih sama. Menanyakan kabar, pun kapan aku akan pulang. Hatiku mencelos. Entah sudah berapa tahun aku tidak pulang.
Aku tahu ibu mencemaskanku. Berita tentang rentetan eksekusi pasti membuat beliau was-was. Tapi apakah aku harus pulang?
Suara jeritan gembira anak-anak kecil membuyarkan lamunanku. Fatimah dan teman-temannya sedang asyik bermain perosotan. Arena bermain yang hanya selemparan batu dari masjid Qishash ini berdiri di atas rumput sintetis. Ya. Sintetis. Rindu kampung halaman kembali menyeruak. Rumput di rumah tumbuh subur tanpa ada yang menanan. Juga beragam tanaman lainnya. Aku merindukan hijaunya.
Aku tersenyum. Kini aku tahu. Jerita tawa bocah, rumput dan lembayung senja. Aku rindu rumah. Aku harus pulang.
Ibu, tunggu aku.

4 thoughts on “Senja hari ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s