Yang Terlupakan

image

“Asparagus cream soup, dua. Mushroom cream soup, satu. Rib eye, satu. Tenderloin, satu. Wagyu, satu. Semua well done. Vanilla ice cream, tiga. Orange juice, dua. Lemon tea, satu,” aku mengabsen pesanan. Sang waitress mencatat dengan cermat lalu membaca ulang. Tidak ada cela. Dia pamit.
Di sini kami berada. Resto baru di salah satu pusat perbelanjaan yang baru saja buka, tapi sudah kondang seantero kota. Beruntung kami dapat meja malam ini. Sambil menunggu pesanan, ibadah selfie dan update status jangan sampai terlewatkan.
Pesanan kami datang beberapa menit kemudian. Sesuai dengan kabar yang beredar, bukan hanya rasa yang tak bisa digugat, tapi tampilannya pun sangat memikat. Ibadah foto dilanjutkan. Semacam laporan pada penjuru dunia bahwa kami sedang berhadapan dengan sajian untuk dewa dewi di tempat yang paling hits.
Suap demi suap. Gigitan demi gigitan. Sempurna. Hingga…
“Bismillahirohmannirrohim. Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa bannaar. Aamiiin.”
Suara anak perempuan menghentikan kunyahanku. Sosoknya ada di meja sebelah kanan, bersama ayah, ibu dan kakaknya mungkin. Mereka lalu mulai menikmati hidangan yang tersaji.
Aku terdiam. Untaian doa sebelum makan yang kuhafal sejak kecil, entah kenapa jadi yang terlupakan. Mensyukuri rejeki yang akan masuk ke perut, sepertinya teralihkan dengan ‘ibadah yang lain’.
Aku masih terdiam.
Aku. Malu.

2 thoughts on “Yang Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s