Beranta

image

Beranta. Apa itu?
Aku menelusuri instagram baru milik Dewo. Bukan akun pribadi. Ini akun bisnisnya bersama dua orang teman.
“Iya. Belum setahun. Semacam wedding organizer. Masih tahap belajar, kok,” ujar Dewo merendah suatu hari.
Beranta?
“Beranta. Itu sejenis kapal yang beroperasi di sungai. Pakai dayung panjang untuk menjalankannya,” jelas Dewo.
“Dari sekian banyak diksi dan kosakata, kenapa beranta?” tanyaku penasaran. “Bagaimanapun, nama itu penting. Apalagi untuk sebuah bisnis.”
Dewo tersenyum.
“Kami menempatkan diri sebagai beranta, si perahu. Menemani dan mengantarkan calon pengantin dari hulu, saat mereka datang pada kami berbekal niat menikah dan belum melakukan persiapan apapun. Perlahan-lahan, kami bersama calon mempelai mengarungi sungai menuju hilir, sampai semua persiapan selesai, hingga pelaksanaan akad nikah serta resepsinya,” detil Dewo. “Hingga tiba di muara, saat kami melepas pengantin baru untuk mengarungi lautan hidup mereka yang baru.”
Aku mengangguk paham. Filosofi yang dalam, pun indah.

Iklan

Selasar ini..

image

Dua tahun lalu, aku dan beberapa teman mengiringi mbak Aini menyusuri selasar ini. Tahun lalu aku juga turut serta menemani beberapa sahabat menghitung degup jantung setiap jengkalnya.
Selasar ini…
Tak terlalu panjang sebenarnya. Namun terasa dingin dan menakutkan. Pun pencahayaannya yg minim di siang hari. Membuat bulu kuduk meremang tanpa dipinta.
Seharusnya, lega dan riang hati yang dirasakan selama menitinya. Perjuangan dan penantian sekian lama, berakhir sudah. Namun, justru titik akhirlah yang membuat nyali serupa diuji.
Selasar ini. Kali ini. Beberapa sahabat menemaniku menyusuri. Dengan segenap doa, dukungan dan degup jantung yang berdentum.
Menuju ruang sidang skripsi.

Benua Amerika

image

Perbincangan suami, isteri dan anak laki-laki mereka di suatu hari Minggu siang.
“Pa, ayo main. Kalo cuma berdua sama mama, nggak rame.”
“Main apa, Kak?”
“Main tebak ibu kota benua Amerika. Nanti, mama kasih pertanyaan ke papa. Papa musti jawab. Terus, papa tanya ke aku. Aku harus jawab. Ganti aku tanya ke mama. Mama wajib jawab.”
“Iya, Pa. Pertanyaannya soal ibu kota negara di benua Amerika. Ikut?”
“Oke. Mulai dari siapa?”
“Dari mama. Ayo, Ma.”
“Sip! Apa ibu kota Kanada, Pa?”
“Ottawa, dong.”
“Betul. Sekarang giliran papa.”
“Kakak, apa ibu kota Peru?”
“Ummm…Lima?”
“Betul! Sebutkan satu-satu.”
“Eh? Gimana, Pa?”
“Lha kan kakak bilang ibu kota Peru itu Lima. Sebutin dong satu-satu.”
“Hehehehe…Papa bisa aja.”
“Sekarang giliran kakak.”
“Mama, apa ibu kota Kolombia?”
“Bogota!”
“100 buat mama.”
“Asik! Papa, apa ibu kota Venezuela?”
“Caracas, dong…”
“Betul!”
“Kakak, ibu kota Argentina?”
“Buenos Aires!”
“Cerdas!”
“Mama, ibu kota Chili?”
“Santiago pastinya…”
“Sip!”
“Papa, ibu kota Brazil?”
“Rio de Janeiro!”
“Salah! Huuu…”
“Eh? Bener kok…”
“Salah! Yang betul Brasilia, Pa. Hahahaha!”

(Tidak) ‘Berjodoh’

image

“Taurus itu kemungkinan jodohnya sama sagitarius, virgo atau taurus juga,” ujar Stefi. Dia adalah orang yang percaya pada zodiak.
Rio menghela napas. Dia seorang leo. Artinya, cinta diam-diamnya pada Stefi terhalang tembok perbintangan.
“Yakin, Stef?” Anya bersuara sambil senyum-senyum.
“100%,” jawab Stefi mantap.
“Berarti Brian yang naksir lo itu, udah nggak ada harapan dong?” selidik Rio.
“Dia bintangnya apa?” tanya Stefi.
“Dia lahir 12 November. Berarti…” Rio tak hafal zodiak.
“Scorpio. Tidak berjodoh dengan Taurus,” Stefi mengubur harapan Brian. Pun Rio.
“Sama sekali, Stef? Bukannya jodoh di tangan Tuhan, yah?” Rio masih belum patah arang.
“Gini aja, deh. Kita lihat aja gimana akhirnya nanti. Oke?” ujar Stefi sambil menggenggam jemari Anya.
Rio curiga. Genggaman itu. Juga sorot mata Stefi dan Anya. Pun senyuman mereka.
Jangan-jangan…
Rio tercekat.
Anya seorang virgo.

Ketemu Manten

image

“Mey, inget Dinda?” aku mengaduk gelas es jeruk.
“Sepupumu yg dulu anak UGM?” Imey menebak.
“Iya. Bulan depan dia nikah, lho,” es jeruk kuseruput. Manisnya sudah pas.
“Oya? Di Jogja? Dapet anak mana?” Imey menoleh ke arahku.
“Iya, di Jogja. Dapet anak Jakarta, temennya waktu kuliah, tapi beda fakultas. Mau ikut?” tawarku.
“Eh? Boleh ikut? Mau, dong. Lagian udah lama nggak ke Jogja,” Imey berseri-seri.
“Boleh dong. Kalo emang mau ikut, keluargaku rencananya berangkat naik kereta api. Abis ini sekalian aja kita cari tiket. Gimana?” tanyaku.
“Setuju!” Imey sepakat.
                        *
“Ini akad nikahnya jam 8?” Imey membenahi rambutnya.
“Iya. Habis itu ada acara panggih manten. Resepsinya nanti siang,” jelasku.
“Waaa…aku penasaran sama pengantinnya. Pasti pangling,” Imey mengambil kipas lipatnya.
“Semalem ngelayap kemana aja? Baru dateng kok udah ngilang. Sampe nggak nongol waktu midodareni,” selidikku.
“Jalan-jalan, dong. Lama nih nggak ke Jogja. Mumpung ada waktu,” Imey cekikikan.
Pembawa acara mengumumkan bahwa pengantin pria telah tiba bersama rombongan. Hadirin dimohon berdiri.
“Manten cowok namanya siapa?” Imey berbisik.
“Reza,” jawabku lirih.
Rombongan memasuki ruangan, menuju meja akad nikah. Perlahan, sosok sang pengantin pria muncul. Imey tiba-tiba menggenggam tanganku.
“Itu…Andri?” Imey menunjuk pengantin berbaju putih gading.
“Andri?” aku bingung.
“Iya. Andri,” tatapan Imey masih lekat. Aku mencari undangan nikah Dinda.
“Reza Andriansyah…” bacaku. Selama ini aku tak tahu nama lengkap Reza. “Kamu kenal, Mey?”
Wajah Imey pias.
“Dia mantanku…”

Tahun baru pertama

image

Tahun baru tinggal hitungan jam. Bertempat tinggal tak jauh dari area yang menjadi pusat keramaian setiap malam pergantian tahun, seharusnya bisa disyukuri. Menikmati hiburan aneka macam tanpa harus terlalu jauh melangkah pergi. Pun puluhan bahkan ratusan rupa dan warna kembang api akan menghiasi langit rumah kami.
Seharusnya.
Ini sudah bukan rumah kami lagi. Isteri dan anakku meninggal dua hari lalu disambar kereta api. Nanti malam adalah tahun baru pertamaku tanpa mereka. Benar-benar tanpa mereka.
Tiba-tiba kudengar teriakan riang anak-anak dari jalan depan rumah. Bunyi petasan banting terdengar di sana sini. Aku tersenyum miris. Anakku adalah penggemar berat kembang api. Seharusnya kamu ada di sini sekarang, Nak…
Tahun baru tinggal hitungan menit. Semua sudah kusiapkan. Aku akan merayakannya sendiri. Bersama indahnya gemerlap kembang api di luar sana.
10…9…8…7…6…
Aku memejamkan mata dan menarik napas panjang.
5…4…3…2…1…
Selamat Tahun Baru!
Aku mengangkat gelas tinggi-tinggi. Lalu menghabiskan obat anti serangga di dalamnya hingga tandas.