Kedaluwarsa atau Kadaluwarsa?

image

Bulan Ramadan baru akan sepertiga jalan. Idul Fitri masih jauh. Seorang teman sudah wanti-wanti dari jauh hari mengingatkan.
“Kalau belanja kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri, jangan lupa cek tanggal kedaluwarsanya. Juga kalau dapat dari pemberian. Ini momen yang sering dipakai oknum tak bertanggungjawab untuk mengeruk keuntungan dari makanan dan minuman yang sudah tak layak konsumsi.”
Patut dicermati, walau tak hanya di bulan suci ini. Waspada tanpa menjadi berburuk sangka adalah sikap yang patut dipupuk.
Terlepas dari makanan dan minuman, manakah yang benar. Kedaluarsa? Kadaluarsa? Kedaluwarsa? Atau, kadaluwarsa?
Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia:
ke·da·lu·war·sa 1 tidak model lagi (baju, kendaraan, dsb); tidak sesuai dng zaman; 2 sudah lewat (habis) jangka waktunya (tentang tuntutan dsb); habis tempo; 3 terlewat dari batas waktu berlakunya sebagaimana yang ditetapkan (tentang makanan).
Sekarang kita sudah tahu istilah yang benar. Jadi, jangan lupa cek tanggal kedaluwarsanya, yah 🙂

Sunting Menyunting

image

Bahasa kerennya ‘ngedit‘ 🙂
Mungkin ini sudah terlalu membosankan bagi yang suka menulis. Tapi menyunting atau mengedit tulisan kita sendiri hukumnya wajib. Bisa jadi sudah banyak yang memberikan tips tentang sunting menyunting, tapi saya ingin berbagi pengalaman di sini. Berikut detilnya:

1. Jangan pernah menyunting atau mengedit saat tulisan belum benar-benar selesai. JANGAN. Bila ini dilanggar, yang terjadi adalah tulisan kita tidak akan pernah selesai. Silakan coba kalau tidak percaya.

2. Setelah tulisan benar-benar selesai, ada baiknya tidak langsung disunting atau diedit. Endapkan dulu dalam beberapa saat, bisa hari atau bahkan minggu, tergantung panjang dan kompleksnya tulisan. Gunanya, mengistirahatkan pikiran dan perasaan kita setelah menulis. Setelah segar kembali, baru kita mulai proses menyunting.

3. Pastikan kita punya dasar atau acuan dalam menyunting. Seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia, aturan baku EYD, buku dan sumber yang menunjang tulisan kita, dll. 

4. Jika dirasa tidak sesuai, jangan ragu untuk menulis ulang. Misal, dalam tulisan fiksi, kita menulis cerita yang menguras emosi. Jika emosi yang diinginkan tidak terasa dalam tulisan, ada baiknya ditulis ulang, mungkin hanya di bagian tertentu, sampai emosi yang diinginkan muncul.

4. Proses menyunting atau mengedit bisa jadi adalah proses terpanjang dan terlama dalam menulis. Kita tidak hanya melakukannya sekali, tapi berkali-kali. Oleh karenanya, lakukan saat pikiran dan perasaan kita sedang baik dan segar.

5. Takut tidak obyektif? Mintalah bantuan pihak lain. Minimal untuk proofreading. Kadang ada detil yang terlewat oleh kita, kan? 

Bagaimana? Sudah siap menyunting tulisan?
Semoga bermanfaat 🙂

Ustaz, Ustad atau Ustadz?

image

Bulan Ramadan baru bergulir beberapa hari. Namun tausiah yang kita dapat bisa jadi sudah tak terhitung jumlahnya. Media cetak, elektronik dan online, telah menjembatani. Masjid, pengajian, pun obrolan santai tak luput dari penyebaran ajaran-ajaran baik. Tak melulu dari seorang ustaz dan atau ustazah.
Sebentar, tunggu dulu.
Mana yang benar?
Ustaz, Ustad atau Ustadz?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

Us-taz adalah 1 guru agama atau guru besar (laki-laki); 2 tuan (sebutan atau sapaan).

Nah, sekarang sudah tahu, kan?

Ramadan atau Ramadhan?

image

Hallo…
Sudah makan sahur? Sudah shalat subuh? Ada yang terlambat bangun? Jangan lupa, hari ini hari pertama bulan Ramadan.
Eh, tunggu dulu. Mana yang benar, Ramadan atau Ramadhan?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:
Ramadan adalah bulan ke-9 tahun Hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam diwajibkan berpuasa.
Nah, jadi jangan keliru lagi.
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan bagi saudara muslimin di seluruh dunia 🙂

Carut marut atau Karut marut?

image

Sering kita dengar istilah carut marut dan karut marut. Sebenarnya, manakah yang benar di antara keduanya?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, masing-masing memiliki arti.

Carut marut adalah segala coreng-moreng (bekas goresan); goresan yg tidak keruan arahnya.
Contoh: Tangannya carut marut bekas cakaran kucing.

Karut marut adalah kusut (kacau) tidak keruan; rusuh dan bingung (tt pikiran, hati, dsb); banyak bohong dan dustanya (tt perkataan dsb).
Contoh: Masalahnya semakin karut marut setelah banyak pihak yang mengintervensi.

Jadi, keduanya dapat digunakan, tergantung konteksnya.
Semoga bermanfaat 🙂

Anak atau Anak-anak?

image

Sebelum terlalu jauh, mari kita lihat arti dari masing-masing kata tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Anak adalah 1 keturunan yang kedua: ini bukan — nya, melainkan cucunya; 2 manusia yang masih kecil: — itu baru berumur enam tahun; 3 binatang yang masih kecil: — ayam itu berciap-ciap mencari induknya; 4 pohon kecil yang tumbuh pada umbi atau rumpun tumbuh-tumbuhan yang besar: — pisang; 5 orang yang berasal dari atau dilahirkan di (suatu negeri, daerah, dsb): — Jakarta; — Medan; 6 orang yang termasuk dalam suatu golongan pekerjaan (keluarga dsb): — kapal; — komidi; 7 bagian yang kecil (pada suatu benda): — baju; 8 yg lebih kecil daripada yang lain: — bukit.

Anak-anak adalah 1 masih kecil (belum dewasa); 2 anak buah.

Dalam penggunaan sehari-hari, orang cenderung tidak membedakan dua kata tersebut. Tidak bisa disalahkan sebenarnya, karena ‘anak-anak’ adalah bagian dari ‘anak’ yang penjabarannya lebih detil. Bisa dilihat pada arti ‘anak’ bagian 2.
Padahal, ‘anak-anak’ bisa diartikan sebagai masa setelah bayi dan sebelum remaja. Sedangkan ‘anak’ lebih sering diartikan sebagai generasi kedua.
Kebiasaan memakai dua kata tersebut tanpa membedakan lebih detil, akan menjadi sulit kala kita menggunakannya untuk forum yang resmi dan atau dalam bentuk tulisan. Akan lebih terasa bedanya.

Contoh:
‘Kami anak Indonesia’.
Berarti, kalimat di atas bisa diucapkan oleh semua rakyat Indonesia, tanpa melihat umur, karena seorang kakek atau nenek pun sejatinya adalah seorang ‘anak’.
Mungkin akan lebih tepat jika kalimat di atas diubah menjadi ‘Kami anak-anak Indonesia’.

Bagaimana pendapat anda?

Kami atau Kita?

image

Saya sering mendengar orang menggunakan kata ganti ‘kita’ dan ‘kami’ pada konteks yang tidak tepat Entah sengaja, tidak tahu perbedaannya atau karena kebiasaan.
‘Kita’ dan ‘kami’ adalah kata ganti orang pertama jamak. Saya pernah menulis tentang pronomina ini secara garis besar. Dalam bahasa Inggris, kata ganti orang pertama jamak hanya diwakili kata ‘we‘. Sedang dalam bahasa Indonesia, ada ‘kita’ dan ‘kami’.
‘Kita’, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pronomina persona pertama jamak yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara. Sedangkan ‘kami’ adalah  pronomina persona pertama yang berbicara bersama dengan orang lain (tidak termasuk yang diajak berbicara).
Jadi jelas kan bedanya? Mungkin penjelasan ini bisa membantu membiasakan penggunaan ‘kita’ dan ‘kami’ pada konteks yang baik dan benar.
Mari 🙂