Kebiasaan Menulis

image

Sebuah sumber menyebutkan, untuk membentuk suatu kebiasaan (baik ataupun buruk) dibutuhkan waktu 21 hari. Ini merujuk pada buku milik seorang ahli bedah plastik, Dr. Maxwell Maltz. Dr. Maltz mengamati pasien-pasien kasus amputasi yang membutuhkan waktu 21 hari untuk beradaptasi dengan kehilangan anggota tubuhnya. Hasil ini yang kemudian digeneralisasikan ke banyak kasus, bahwa manusia membutuhkan waktu kurang lebih 3 minggu untuk membentuk sebuah kebiasaan baru. Tapi, benarkah demikian? Bukankah manusia adalah variabel yang paling tidak bisa diprediksi di dunia? Kita bisa memberikan satu stimulus yang sama pada beberapa orang, tapi kita akan mendapatkan reaksi yang berbeda dari masing-masingnya.
Sebuah penelitian dalam European Journal of Social Psychology milik Phillippa Lally dari University College London menyebutkan dibutuhkan waktu antara 3 minggu hingga 2 bulan bagi manusia untuk membentuk kebiasaan baru, tergantung kompleksitas perilaku yang ingin dibentuk.
Bagaimana dengan kebiasaan menulis?
Terlepas dari jenis tulisan, media, kompleksitas serta panjang tulisan, kebiasaan menulis tetap tidak bisa menafikan faktor pelakunya. Manusia.
Masing-masing memiliki perilaku menulisnya sendiri-sendiri. Ada yang senang menulis di pagi hari, ada yang malam sebelum tidur, ada juga yang bisa menulis setiap kali ide muncul. Ada yang menulis di tempat khusus, juga ada yang sanggup menulis ketika sedang terjebak kemacetan. Kembali pada para pelakunya, karena hanya mereka yang tahu.
Pun demikian dengan faktor tulisan. Ada yang menyukai tulisan fiksi, ada juga non fiksi. Ada yang suka berpanjang lebar, pun ada yang singat, padat namun tetap jelas. Sekali lagi, semua kembali pada faktor manusianya.
Masalah terakhir yang tak kalah penting adalah kemauan. Iya, kemauan. Apalah arti semua teori dan persiapan, jika tak ada kemauan. ‘Memaksa’ diri menulis minimal sekali setiap hari, butuh disiplin diri. Banyak yang berguguran membiasakan menulis setiap hari. Ada yang beralasan sibuk, lupa, malas, dll. Namun, ketika seseorang memiliki kemauan yang keras untuk membentuk kebiasaan menulis, semua jenis alasan di atas akan gugur sedemikian rupa.
Sekarang, tak peduli seseorang butuh waktu 3 minggu ataupun 2 bulan untuk memulai kebiasaan menulis. Yang ingin saya tanyakan hanya satu.
Sudahkah kita mempunyai kemauan yang kuat untuk membentuk kebiasaan menulis?

Mood dan Buku

image

Beberapa hari yang lalu saya menulis tentang mood dan musik, berisi pengalaman saya menggunakan musik untuk membangun mood sedih. Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang membangun mood gembira dan bersemangat dengan menggunakan media buku.

image

Ini manga/komik lawas. Judulnya Princess Army. Terdiri atas 12 buku. Buku-buku ini selalu berhasil membuat saya bersemangat.
Bercerita tentang anak SMA bernama Corin Aida. Lahir dari keluarga pejudo. Ayah, ibu dan ke tiga kakak laki-lakinya adalah atlet judo. Pun demikian dengan Corin. Bakat olahraga beradrenalin ini mengalir deras di tubuhnya.
Lalu, apa istimewanya?
Bisa jadi cerita dalam buku-buku ini standar. Ada pertarungan, juga ada kisah asmara anak SMA. Tapi, semangat Corin yang tak kenal putus asa, sungguh mampu menampar saya.
Corin dikisahkan sangat berbakat. Namun, ia tak pernah lelah berlatih. Baginya, apalah arti bakat kalau tak pernah diasah setiap waktu. Practice makes perfect.
Bisa jadi kisah dalam buku-buku ini adalah fiksi. Namun pesan yang disampaikan sungguh bisa diejawantahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kadang, ketika seseorang ‘divonis’ memiliki bakat tertentu ataupun sudah mencapai level tinggi dalam penguasaan suatu skill, muncul kecenderungan meremehkan. Meremehkan tantangan, orang lain, keadaan, dll. Seolah lupa bahwa di atas langit masih ada langit. Seorang yang berbakat bisa dikalahkan oleh orang yang ‘hanya’ rajin berlatih. Orang yang memiliki kemampuan mumpuni, bisa kalah oleh ‘anak kemarin sore’ yang tekun mengasah diri.
Serial ini selalu sanggup ‘menampar’ kala saya dirundung malas, hilang semangat dan motivasi di banyak hal.
Ini ‘buku penyemangat’ saya.
Apa bukumu?

Renjana atau (hanya) Minat?

image

Sebuah obrolan random di suatu hari.
Apa beda passion dan minat? Hasil perbincangan ngalor ngidul, diambil kesimpulan absurd bahwa passion (yang istilah bahasa Indonesianya adalah renjana) hanya  satu saja yang bisa dimiliki. Sedang manusia bisa memiliki banyak minat.
Tapi, benarkah demikian?
Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia:
Renjana adalah rasa hati yg kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dsb).
Minat adalah kecenderungan hati yg tinggi terhadap sesuatu; gairah; keinginan.
Esensinya sudah beda. Renjana lebih ‘dalam’ daripada minat. Rasa hati versus kecenderungan hati, begitu ujar seorang teman. Bisa jadi renjana adalah minat yang sudah ditempa oleh berbagai aral di sepanjang periode waktu.

Contoh: menyanyi. Memiliki warna suara khas, menguasai tangga nada, teknik bersuara, pun sanggup memainkan alat musik. Apakah bisa disebut sebagai renjana? Belum tentu. Kemampuan dan bakat berderet itu bisa jadi hanya minat. Namun ketika minat ditempa oleh waktu beserta pasang surut situasi dan kondisi, maka kondisi ini bisa berubah menjadi renjana.

Seorang manusia bisa memiliki banyak minat. Musik, menulis, melukis, berkebun, menari, menjahit, fotografi, ulik mesin, dan lain sebagainya. Tapi, dari deretan minat itu, yang manakah renjanamu?
Beruntunglah manusia yang bisa menemukan renjananya, begitu seorang kawan lain berkata. Merujuk lagu yang didendangkan Nugie, renjana itu lentera bagi jiwa. Tak sedikit manusia yang tak menemukan renjananya hingga ajal tiba.

Lalu, bagaimana mengetahui yang mana renjana kita?
Asah hati tanpa menafikan nalar. Belajar peka dan jujur pada diri sendiri. Introspeksi. Kontemplasi. Dari sederet minat yang dijalani, adakah salah satunya renjana kita?

Perbincangan random itu berakhir, meninggalkan keruwetan di kepala dan kegamangan di hati.
Bagaimana menurut anda?

Mood dan Musik

image

Saya pernah menulis tentang mood pun tentang musik. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang interaksi keduanya yang terjadi beberapa waktu lalu.
Kurang lebih dua bulan lalu, saya mengalami kesulitan dalam menulis. Saya sedang menulis cerita fiksi yang sedih ketika mood sedang gembira. Segala cara saya coba untuk membangun mood sedih. Mengingat kenangan-kenangan yang mengharukan, membaca cerita dan buku yang menyayat hati, menonton film yang menerbitkan air mata, dan entah apalagi yang lainnya. Hasil? Gagal total. Mood sedih itu sempat muncul sesaat, namun lenyap saat proses menulis baru dimulai.
Seorang teman menyarankan mendengarkan lagu sedih. Ide cemerlang. Saya mulai mengumpulkan lagu-lagu sedih, baik lokal maupun barat. Setelah terjaring, saya mulai ‘menjiwai’ lagu-lagu tersebut. Hasil? Gagal total. Bukan mood sedih yang muncul, ujung-ujungnya saya ikut bernyanyi seiring musik mengalun. 
Teman pengusul ide merevisi, cari lagu atau musik yang bahasanya tidak dikuasai, jangan bahasa Indonesia dan Inggris. Entah bagaimana, ingatan saya tertuju pada seorang keponakan penggila segala hal tentang Korea. Pendek cerita, sang keponakan memberikan daftar panjang lagu-lagu Korea yang (menurutnya) sedih.
Saya berusaha mendengarkannya satu persatu. Musik sebagai bahasa universal menunjukkan keajaibannya. Playlist berisi belasan lagu Korea (berasa) sedih mengisi ponsel. Saya tidak tahu dan berusaha tahu arti liriknya. Beat-nya pun tak melulu mellow, tapi sanggup membuat saya tergugu lama di depan layar monitor.
Tulisan saya selesai. Masalah teratasi. Mungkin kejadian ini juga pernah dialami orang lain. Dan bisa jadi, solusi ini juga bisa berhasil pada problem yang serupa.
Semoga bermanfaat 🙂

Jambret (lagi)

image

Seorang teman bercerita tentang tetangganya yang jadi korban jambret semalam sepulang kerja. Tasnya digondol, barang-barang berharga di dalamnya raib.
Usut punya usut, si korban kurang waspada. Tas disampirkan di pundak, sehingga mudah diambil penjambret saat ia konsentrasi mengemudikan sepeda motor.
Saya pernah menulis tentang kejadian penjambretan beberapa tahun yang lalu. Walau kejadiannya tak sama persis, namun asal muasal perkaranya serupa. Selain penjambret yang beraksi, juga calon korban yang kurang awas pada bawaannya.
Kadang kejadian kriminal tak hanya terjadi dengan perencanaan yang matang. Tak jarang kejahatan muncul karena situasi dan kondisi yang memungkinkan. Contohnya penjambretan. Bisa jadi awalnya tidak ada niatan dari pelaku untuk menjambret. Tapi ada calon korban yang kata anak sekarang ‘jambretable’. ‘Mengundang’ untuk dijambret.
Seperti apa sih situasi dan kondisi yang ‘mengundang’ untuk dijambret? Contoh, memakai perhiasan yang berlebihan. Atau seperti kasus di atas, tas yang disampirkan di pundak sehingga mudah diambil penjambret, dan lain sebagainya.
Lalu, kita harus bagaimana?
Tentu saja lebih waspada, pun tidak menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan orang berbuat jahat pada kita. Tas bisa disampirkan menyilang di dada sehingga sulit untuk dirampas, meletakkan tas ransel di dada (bukan di punggung) saat mengendarai sepeda motor, tidak menggunakan perhiasan yang berlebihan dan mencolok dan lain-lain.
Waspada bukan berarti berburuk sangka. Tapi berjaga-jaga. Selain menjaga diri sendiri, juga menjaga kemungkinan tidak terjadinya tindakan kriminal oleh orang lain pada diri kita.
Semoga bisa menjadi manfaat 🙂

Mood

image

“Nulisnya entaran aja. Lagi nggak mood.
“Ogah ngomong sama dia. Nggak mood.
Mood gue lagi jelek, nih. Jadi jangan bikin macam-macam.”
Familiar dengan kalimat-kalimat di atas? Pernah dengar atau bahkan pernah mengucapkan? Sebenarnya, mood itu apa sih?
Kalau merujuk pada kamus, mood artinya suasana atau keadaan hati pada saat itu. Sedangkan orang yang sikap dan perilakunya tergantung pada mood saat itu disebut orang yang moody.
Seperti keping mata uang, mood bisa berakibat baik pun sebaliknya. Kalau mood sedang baik, semua akan baik-baik saja. Jadi, kalau mood sedang buruk, apakah akan memperburuk hari kita?
Belum tentu. Saya adalah salah satu contoh orang yang membutuhkan mood nyata saat menulis. Sulit buat saya menulis tentang sesuatu yang sedih saat mood sedang gembira. Tulisan saya jadi seperti tak bernyawa bila dipaksakan (tsaaahh…). Jadi, mungkin lebih pas kalau dikatakan mood haruslah disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Tapi apa bisa? ‘Menciptakan’ mood sesuai yang diinginkan? Terdengar mustahil. Mungkin bagi para moody, ini seperti hal yang tidak masuk akal. Jujur, saya sendiri pernah skeptis. Tapi setelah dicoba, ternyata berhasil! Saya bisa ‘menciptakan’ mood yang diinginkan.
Caranya? Mengubah mindset dan menciptakan sikon yang mendukung terbentuknya mood yang diinginkan. Sulit? Bisa jadi.
Membangun mindset, maksudnya pikiran kita jangan mau kalah dengan mood yang sedang melanda. Hati sedang tidak ingin melakukan apapun, tapi pekerjaan rumah menumpuk, apakah akan menunggu mood yang mendukung muncul? Tentu tidak. Butuh waktu dan proses untuk membiasakannya. Tapi ini bukan hal yang mustahil.

Berusaha menciptakan sikon yang mendukung terbentuknya mood yang diinginkan. Caranya? Berbeda pada setiap orang. Ada yang mendengarkan musik, makan, ngemil, nonton film, baca buku, olahraga, tidur, ngobrol dan lain sebagainya. Intinya, temukan cara membangun mood yang kita inginkan.

Well, rasanya sudah saatnya kita yang ambil alih kendali atas mood, kan?

Old Habit!

weheartit.com

weheartit.com

 

Januari hampir habis dan saya ingin cerita tentang satu kebiasaan lama yang susah dihilangkan. Apa itu? Selalu punya kalender meja 🙂

Oke. Baiklah. Silahkan tertawakan kebiasaan saya. Tapi kebiasaan ini sulit dihilangkan. Dari jaman belum ada stasiun televisi selain TVRI, sampai dengan iPhone udah masuk seri ke-5, tiap bulan Desember saya selalu blingsatan mencari kalender meja edisi tahun berikutnya.

Ada yang tanya, kenapa harus kalender meja? Kenapa bukan kalender dinding, time table, atau pakai aplikasi di smartphone ataupun internet? Bingung jawabnya. Selain lebih ringkas dibanding kalender dinding dan time table, saya bisa corat-coret dengan spidol/krayon plus tempel gambar-gambar lucu yang nggak bisa dilakukan di smartphone juga internet.

Biasanya, saya memilih kalender dengan gambar lucu. Belakangan, sulit cari kalender semacam ini. Kebanyakan, kalender meja yang beredar, berisi motivasi-motivasi. Bagus, sih. Tapi saya lebih butuh hiburan dibanding motivasi (hihihi…). Atau nguber kalender meja yang diberikan oleh gerai-gerai fast food kalau kita melakukan pembelian dengan nominal tertentu. Kenapa? Biasanya ada kupon diskon di kalendernya 🙂

Lalu, diapakan kalender meja yang sudah saya dapat? Ya itu tadi, dicorat coret dan ditempeli gambar (???). Tentang banyak hal, deadline, appointment, hari ulang tahun teman dan saudara, masa subur (eh?), banyak, deh! Jadi, kalau sudah tanggal terakhir seperti hari ini, kalender saya bakal ruwet sekali tampilannya 🙂

Kalau ada yang tanya, kenapa tidak pakai agenda, diary, atau sejenisnya, kalender meja saya sudah mencakup semuanya. Smartphone hanya berfungsi sebagai reminder dengan alarmnya tiap pagi. Bisa dibayangkan bagaimana paniknya saya kalau sampai kalender itu hilang 😦 Kebiasaan ini juga memudahkan orang lain untuk tahu jadwal dan posisi saya. Orang di rumah, misalnya. Mereka tidak perlu telepon, sms, atau apapun untuk tahu posisi saya saat ini. Tinggal lihat kalender, mereka sudah tahu. Bahkan sampai ke tanggal-tanggal hectic, sehingga bisa saling menyesuaikan jadwal.

Itu salah satu kebiasaan lama yang masih saya pertahankan karena sangat membantu kinerja. Bagaimana dengan kalian? Punya kebiasaan lama yang masih dipertahankan?